Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Tampilkan postingan dengan label Ust. Widi Kusnadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ust. Widi Kusnadi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

  • Sifat-sifat Orang Kafir


    Kata Kafir dalam bahasa Arab berasal dari kata kafara ; plural, kuffar secara harfiah berarti orang yang menutupi, menolak sesuatu dengan yang lain atau menyembunyikan, mengingkari suatu kebenaran.

    Dalam istilah terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat dari Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).

    Dalam bahasa Inggris ada kata cover yang diartikan ”the act of concealing the existence of something by obstructing the view of it”. Dalam terjemah bebasnya “tindakan menyembunyikan sesuatu dengan menghalangi pandangan.

    Pada zaman sebelum Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang. Mereka menutup/menguburnya dengan tanah. Sehingga kalimat kafir bisa diimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri".

    Di dalam Al Qur’an, kata dan sifat-sifat orang kafir dan variasinya dituliskan dalam beberapa ayat dalam Surah Al-Baqarah, antara lain

    1. Tidak mau menerima nasihat 

    Allah Ta'ala berfirman yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman." (Surah Al-Baqarah : 6 dan 7).

    Ayat ini menyebutkan golongan orang kafir. Sekilas ayat di atas menunjukkan bahwa seolah tidak ada gunanya berdakwah terhadap orang-orang kafir. Toh, hasilnya tetap sama saja. Diberi dakwah atau tidak, diberi peringatan atau tidak, mereka tetap tidak beriman. Karena kekafiran yang begitu mendalamlah sehingga membuat mereka tidak sudi beriman. Di samping itu, Allah memang tidak memberikan hidayah kepadanya.

    Tentang golongan kafir ini, Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manarmengklasifikasikan menjadi tiga macam. Pertama, orang yang mengetahui kebenaran namun ia dengan sengaja mengingkarinya. Jumlah orang kafir inilah yang paling sedikit.

    Kedua, orang yang tidak mengetahui kebenaran, namun tidak ingin mengetahuinya dan tidak suka untuk mengetahuinya. Mereka bersikap masa bodoh dan tidak peduli dengan kebenaran.

    Ketiga, orang yang telah sakit jiwa dan hatinya. Ia tidak merasakan nikmatnya kebenaran. Tak ada ketertarikan di dalam hati mereka untuk menemukan kebenaran. Hati dan jiwa mereka telah dipenuhi dengan keinginan-keinginan duniawi dan kenikmatan jasmaniah semata. Akal dan pikiran mereka dicurahkan untuk memperoleh keuntungan material saja. Ketiga macam orang kafir seperti itulah yang hasilnya sama saja. Diberi dakwah atau tidak, mereka tetap tak beriman.

    Dalam realitas di masyarakat, kita bisa menemukan orang yang telah tertutup mata hati, telinga, dan matanya. Apapun nasihat dan anjuran kebenaran yang diberikan kepadanya, tak juga mempan untuk membuatnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Hal itu terjadi saat seseorang melakukan keburukan dan kemaksiatan secara berulang-ulang dan terus-menerus. Karena begitu seringnya keburukan dan kemaksiatan ia lakukan, hati nuraninya jadi tertutup. Ia tak lagi merasa berdosa dan gundah saat melakukan kejahatan dan keburukan.

    2. Berburuk sangka terhadap takdir Allah

    Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 26, artinya : "Sesungguhnya Allah tidak segan-segan membuat perumpamaan nyamuk ‎atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka ‎mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi yang ‎kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk ‎perumpamaan?‎‏ ‏Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan ‎Allah dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberinya ‎petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang ‎fasik".

    Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa Dia tidak keberatan untuk membuat perumpaan dengan seekor nyamuk dan seumpamanya, atau yang lebih kecil lagi. Justru kehebatan sebenarnya terletak pada satu perkara yang unik dan sulit dilakukan penelitian. Yakni tiadalah yang dapat memahami hikmah di balik setiap perumpamaan ayat-ayat Al-Quran melainkan orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Pastinya setiap perumpamaan itu perlu direnungi untuk di ambil pelajaran dan sangat berguna buat kehidupan.

    Pada lafaz “tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”, yakni sikap orang-orang kafir yang memandang hina terhadap perumpamaan Allah berupa makhluk-makhluk kecil dan remeh. Mereka berburuk sangka serta mempersoalkannya, sambil berkata: Apakah yang Allah membuat kiasan kepada benda-benda yang remeh ini?. Mereka adalah orang-orang yang keliru dan akhirnya mereka menjadi semakin kufur dan rugi. Mereka tidak memahami rahasia dan hikmah di balik penciptaan itu.

    Menurut para ilmuwan, nyamuk akan tetap hidup jika dalam keadaan lapar tetapi apabila kekenyangan maka ia akan mati. Demikian juga manusia, mereka akan sering mengingat Allah ketika dalam keadaan susah dan sempit. Namun jika dalam keadaan yang lapang, banyak harta, berkecukupan maka manusia sering melupakan Allah, zat yang memberinya segala kenikmatan itu.

    3. Menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti perasaan penerima

    Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 264, artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”

    Pada ayat ini Allah menjelaskan hendaknya seorang muslim jangan memiliki sifat orang-orang kafir, yaitu mereka yang senanatiasa ‘gila’ pujian. Jika memberi selalu menyebut-nyebut atas pemberiannya.

    Atau jika ia memberi hanyak karena ingin menghinakan yang di beri, Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Amalnya sia-sia, tidak dicatat sebagai ibadah di hadapan Allah, walaupun dihadapan manusia mendapat pujian. Maka hendaknya membersihkan amalan kita dari sifat riya, agar shadaqah yang kita keluarkan tidak menjadi sia-sia, sebaliknya dapat keberkahan dari Allah SWT.

    Wallahu a’lam bishshowab.

    Widi Kusnadi

  • Rabu, 17 April 2013

  • Menjadi Manusia Berprestasi


    Wirianingsih dan Mutamimul Ula, seorang tokoh nasional yang ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an dan terpotret dalam sebuah buku berjudul “10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an” mengatakan bahwa yang dimaksud prestasi itu adalah hasil capaian atas usaha yang telah dilakukan seseorang. Prestasi menggambarkan dinamika perjalanan hidup seseorang atau suatu bangsa. Bagi Umat Islam, prestasi adalah suatu keniscayaan. Tanpa prestasi, umat Islam tidak akan pernah mendapatkan kehormatan (izzah) di mata umat lain. Umat Islam pernah mencapai prestasi gemilang pada masa Khulafa’ur Rasyidin, Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dimana ketika itu Baghdad menjadi pusat kebudayaan Islam dan peradaban dunia.

    Kekhilafahan Turki Usmani juga menempatkan Istambul sebagai pusat kekuatan militer dunia. Ummat Islam pernah mencapai prestasi gemilang di bidang ilmu pengetahuan pada masa Cordova dan Al-Hambra di Spanyol di bawah kekuasaan Islam. Ketika itu Eropa (barat) masih berada pada masa kegelapan.

    MENGAPA HARUS BERPRESTASI

    Mengapa kita harus berprestasi? Allah SWT telah mengkaruniakan pada kita semua akal yang luar biasa. Bahkan Allah SWT ciptakan hidup dan mati untuk menguji sejauh mana kualitas amal kita (Surah Al Mulk : 2)

    Dalam QS. At-Tin ayat 4 Allah berfirman bahwa kita, manusia, diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kita adalah makhluk terbaik! Berarti kita lebih baik dari malaikat, jin dan syaitan. Betapa berdosanya kita bila kita menyia-nyiakan segala potensi yang telah diberikanNya dan menyerah begitu saja oleh kemalasan.

    Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyiratkan bahwa kita harus menjadi pribadi yang berprestasi, pribadi yang berusaha untuk terus mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat. Bahkan Allah menyebut kita sebagai umat yang terbaik sepanjang jaman, seperti firman Allah SWT surah Ali Imran, ayat 110;

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

    KARAKTERISTIK MANUSIA BERPRESTASI

    Taufiqurrahman, seorang master dari Omdurman University, Sudan, menyatakan ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi seseorang sehingga ia dapat disebut sebagai pribadi yang berprestasi, yaitu;

    Aqidah yang lurus

    Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada ALLAH SWT, dan tidak akan menyimpang dari jalan serta ketentuan-ketentuanNya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada ALLAH berfirman dalam Al Qur’an,surah Al-An’aam :162 “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”.

    Ibadah yang benar

    Selain akidah yang lurus, ibadah yang benar merupakan salah satu pilar utama manusia berprestasi. Manusia yang ingin meraih kesuksesan yang hakiki, harus memiliki pemahaman tentang konsep akidah sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh agamanya.

    Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh melenceng dari tata cara yang telah diajarkannya.

    Akhlak yang Mulia

    Akhlak yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap manusia, baik dalam hubungannya kepada Allah, tuhannya maupun dengan makhluk-makhluk ciptaanNya.

    Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

    Wawasan yang Luas

    Wawasan yang luas wajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah satu sifat Rasulullah SAW adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir. Untuk mencapai wawasan yg luas maka manusia dituntut untuk mencari/menuntut ilmu agar tidak tersesat dalam pengamalannya.

    Fisik yang kuat

    Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

    Disiplin Waktu

    Displin menggunakan waktu merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

    Karena itu setiap muslim amat dituntut untuk disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

    Professional

    Professional artinya suatu pekerjaan dilakukan dengan maksimal, sesuai prosedur yang benar dan ditangani oleh ahlinya.

    Teratur dalam suatu urusan termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara professional dan tepat waktu.

    Apapun yang dikerjakan, profesionalisme harus selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian secara serius dalam penyelesaian tugas-tugas.

    Mandiri

    Mandiri merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Karenanya pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik.

    Bermanfaat bagi orang lain

    Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

    Untuk meraih kriteria Pribadi Muslim yang berprestasi di atas membutuhkan mujahadah dan mulazamah atau kesungguhan dan kesinambungan. Allah Ta’ala berjanji akan memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya.

    Wallahu A’lam bis Shawwab

    Oleh: Widi Kusnadi
    Www.mirajnews.com

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism