Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Tampilkan postingan dengan label Imaamul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imaamul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2017

  • Islam dan Kekuasaan Dunia

    Firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali Imran: 26)

    Asbabun Nuzul
    Imam Al Baghawi dan Al Wahidy meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil membebaskan kota Makkah, beliau menjanjikan kepada umat Islam bahwa Kerajaan Persi dan Kerajaan Romawi juga akan dibebaskan. Kemudian orang munafiq dan orang yahudi berkata, “Tidak mungkin, tidak mungkin. Dari mana Muhammad dapat membebaskan Kerajaan Persi dan Romawi karena kerajaan ini sangat kuat dan kokoh. Apakah Makkah dan Madinah tidak cukup bagi Muhammad sehingga ingin menguasai Kerajaan Persi dan Romawi?”

    Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat di atas.

    Ayat ini merupakan sebagian ayat yang menjelaskan tentang kekuasaan atau kepemimpinan suatu kelompok atas kelompok yang lain yang disebut dengan istilah hegemoni. Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah lah penguasa yang sebenarnya. Sebagaimana disebutkan pada ayat ini:

    Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mulk: 1)

    Kekuasaan manusia betapapun besarnya hanyalah pinjaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan naiknya seseorang menjadi penguasa hanyalah setelah adanya pengakuan dari orang lain.

    Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Maha Kuasa tidaklah berkuasa karena diangkat dan seandainya semua makhluk di muka bumi tidak mau mengakui kekuasaan Allah, Allah tetap Maha Kuasa.

    Maka pada ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kepada manusia dengan ungkapan penuh ta’dzim tentang kekuasaan. Dilihat dari segi kata-kata, ayat di atas bernuansakan doa; dari segi makna merupakan pengharapan; dari segi isi merupakan sentuhan halus pada perasaan manusia agar tidak berambisi kepada kekuasaan; dari segi ‘kauniyah’ menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah dalam mengatur alam raya ini dan manusia hanya bagian kecil dari bagian alam raya yang Mahaluas ini.

    Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi ayat di atas merupakan penghibur untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi orang yag menentang Islam sekaligus sebagai peringatan untuk beliau akan kekuasaan Allah yang mampu menolong agama-Nya dan meluhurkan kalimat-Nya.

    Muhammad Ramadlan Al Buthy menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjuang bukanlah untuk mecapai suatu hegemoni (kekuasaan) atau mencapai jabatan tertinggi kepada sebagai penguasa atau raja.

    Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ‘Utbah bin Rabiah, salah satu cendikiawan kafir Quraisy datang menghadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar beliau menghentikan dakwahnya sambil berkata, “Wahai putra saudaraku, jika dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta, maka akan kami kumpulkan harta yang ada pada kami untuk anda sehingga anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan persoalan apapun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam diri anda, kami bersedia mencari tabib untuk menyembuhkan anda tanpa menghitung biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”

    Ketika tawaran Utbah ini ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para pembesar Quraisy beramai-ramai mendatangi beliau dengan menawarkan apa yang ditawarkan oleh Utbah. Kepada mereka beliau menyampaikan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku berdakwah tidak karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan.”

    Dari sini tampak jelas bahwa tujuan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan untuk mencari kekuasaan dan beliau tidak mau menggunakan kekuasaan untuk menegakkan risalahnya, seperti yang dilakukan para penganjur ideologi sekuler yang memanfaatkan kekuasaan untuk memaksakan ideologi kepada orang lain.

    Jika cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebagai “kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak ada bedanya dakwah Islam dan penganjur kebatilan, karena dakwah Islam berdasar kerelaan, sebagaimana firman Allah:

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 256)

    Sedang penganjur kebatilan berdasar kesewenang-wenangan, dan penindasan. Sebagaimana firman Allah:

    “Sesungguhnya Fir´aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir´aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Qashash: 4)

    Kekuasaan Senantiasa Berganti
    Para ahli sejarah menyatakan bahwa hegemoni Islam mulai mendunia di masa Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 41H/661M. Di masa kekuasaan Bani Umayyah, Islam menjadi kekuatan yang paling menentukan di dunia saat itu. Sekalipun di awal kekuasaannya menimbulkan kontroversi yang dahsyat di kalangan umat Islam, tetapi kekuasaan Bani Umayyah telah menyumbangkan kepada umat Islam kekuasaan imperium yang luar biasa. Tidak salah bila dikatakan bahwa pada masa ini, hegemoni dan pengaruh Islam di luar jazirah Arab telah mencapai prestasi yang mencengangkan. Secara syar’i, Bani Umayyah dengan pemimpin yang pertama Muawiyah bin Abi Shafyan telah mengubah sistem khilafah menjadi monarki. Abul A’la al-Maududi menyebut pemerintahan Bani Umayyah sebagai kerajaan. Ketika menulis khalifah di depan nama Muawiyah, ia menulisnya dengan menggunakan tanda kutip, “Khalifah.” Menurut Maududi, kekuasaan Bani Umayyah tidak berdasarkan persetujuan kaum muslimin, dan tidak pula dipilih oleh umat Islam secara bebas melainkan berdasarkan kekuatan pedang.

    Ketika hegemoni Islam mendunia, keamanan dunia relatif dapat tercipta, para pengikut berbagai macam agama hidup dengan tenang dan terhormat karena mereka diberlakukan dengan sangat baik.

    Hegemoni umat Islam di dunia atas manusia berakhir dengan ruhtuhnya Khilafah Utsmaniyah yang ditengarai dengan munculnya Kemal Al-Tatruk yang mengganti sistem Islam dengan sistem kapitalisme. Sejak itu kebesaran Turki Utsmani benar-benar tenggelam bahkan tidak lama kemudian pada tahun 1924 Kekhilafahan dihapuskan. Semua daerah kekuasaannya yang luas baik Asia, Afrika maupun Eropa dijajah oleh negara-negara Barat. Hegemoni Barat terhadap dunia Islam diawali dengan Perang Salib dari tahun 1095 – 1291. Disebut Perang Salib karena orang Kristen Eropa menggunakan tanda salib di dadanya sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang dijalankan adalah perang suci. Tujuan Perang Salib adalah membebaskan kota suci Yerusalem atau Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Setelah itu berjalanlah penaklukan bangsa Eropa atas negeri muslim dengan latar belakang sebagai berikut:

    1. Mercenary, yaitu untuk mencari keuntungan di negeri-negeri Islam. 2. Missionary, yaitu untuk menyebarkan agama Kristen ke negeri-negeri Islam. 3. Military, yaitu untuk perluasan daerah militer.

    Selain hal di atas, yang melatarbelakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan kekuasaan. Bentuk-bentuk penjajahan Barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, penaklukan, sehingga wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat, rakyatnya ditindas dan diperbudak.

    Hegemoni Barat terhadap dunia Islam ternyata membawa implikasi yang sangat luas bagi perkembangan peradaban Islam, baik peradaban material yang berupa teknologi baru maupun peradaban mental. Hegemoni Barat telah memicu gerakan pembaharuan Islam yang bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan menggali sumber-sumber Islam dan menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah.

    Umat Islam menyadari bahwa hegemoni Barat terhadap dunia Islam adalah dikarenakan kaum muslimin tidak dalam kondisi bersatu. Perpecahan terjadi di seluruh wilayah dan para pemimpin Islam saling bermusuhan serta tidak memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu muncullah kesadaran umat Islam untuk kembali menghidupkan sistem kesatuan kepemimpinan yang disebut dengan sistem khilafah.

    Sesuai dengan sunatullah, hegemoni Barat terhadap dunia Islam mulai melemah. Hal ini adalah sebagai isyarat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (Q.S. al-Taubah: 33)

    Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.“ (Q.S. al-Fath: 28). Atau dalam (Q.S. al-Shaff: 9)

    Rangkaian ayat di atas menegaskan bahwa akhirnya Islam-lah yang akan mengungguli agama-agama dan segala bentuk doktrin yang lain, dan umat Islam pasti akan menang selama mereka konsisten berpegang kepada petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ajaran Islam yang benar.

    Wallahu A’lam Nasehat Imamul Muslimin.

  • Kamis, 10 November 2016

  • Mengikuti Millah Ibrahim AS

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Qs. al-Nisaa’: 125)

    Ayat diatas menggunakan uslub (gaya bahasa) “istifham inkari” (pertanyaan retoris). Allah menyatakan, siapakah yang paling baik agamanya, artinya tidak ada lagi orang yang lebih baik dalam beragama selain orang yang memiliki sikap yang disebut dalam ayat tadi, yaitu:

    Menyerahkan wajahnya kepada Allah, Selalu mengerjakan kebaikan, dan Mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam.

    Dalam ayat di atas, ada dua kata yang berarti agama yaitu dien dan millah. Ar-Raghib al Asfihani dalam al-Mufradat fi Gharibi al-Qur’an menerangkan persamaan dan perbedaan dua kata tersebut, beliau berkata, “Al-Millah itu sama dengan ad-Dien yaitu nama untuk segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya melalui lisan para nabi agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah.”

    Adapun perbedaannya, kata al-Millah dinisbatkan kepada nabi tertentu atau kepada seseorang pembawa syariat, seperti pada ayat: “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (Qs. Ali ‘Imran: 95), dan ayat “dan mengikut agama nenek moyangku.” (Qs. Yusuf: 38)

    Hampir tidak ada kata millah yang dinisbatkan kepada Allah dan kepada umat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan kata ad-Dien biasanya dinisbatkan kepada Allah atau kepada seseorang seperti Dienullah dan Dinu Zaid. Disebutkan pula bahwa kata al-millah digunakan untuk segala sesuatu yang disyariatkan Allah sedang ad-Dien digunakan untuk yang melaksanakan agama karena arti ad-Dien adalah taat sedang al-millah arti asalnya adalah mendiktekan atau membacakan.

    Menurut para ahli agama, ditinjau dari sumbernya, maka agama dibedakan menjadi dua bagian:

    Pertama, agama samawi (dien as-samawy, revealed religion, agama wahyu, agama profetis, agama langit), yaitu Islam, Yahudi dan Nasrani.

    Kedua, agama budaya (dien at-thabii, dien al-ardli, non revealed religion, natural religion, agama filsafat, agama ra’yu, agama bumi), misalnya: Hindu, Budha, dan Majusi.

    Dalam pandangan Islam, agama samawi hanya satu yaitu Islam. Sebagaimana firman-Nya:

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali ‘Imran: 19), dan

    “Siapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali ‘Imran: 85)

    Adapun agama Yahudi dan agama Nasrani dalam bentuknya yang asli adalah Islam. Bahkan menurut al-Quran, semua nabi yang diutus oleh Allah seluruhnya beragama Islam.

    Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim AS.: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qs. Ali ‘Imran: 67)

    Nabi Nuh ‘Alaihi Salam berkata:“Dan aku (Nuh ‘alaihi salam) diperintahkan agar aku termasuk orang muslim (berserah diri).” (Qs. Yunus: 72)

    Jadi yang dimaksud orang yang paling baik agamanya adalah orang yang paling baik Islamnya. Menurut ayat di atas, orang yang paling baik Islamnya adalah:

    1. Orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah
    Artinya menyerah bulat dengan penuh ridla kepada Allah dan melepaskan diri dari ikatan lain selain Allah. Penggunaan kata wajah di sini menunjukkan kepasrahan total, lahir dan batin kepada Allah. Wajah adalah gambaran hati. Pada wajah tergambar hati manusia. Kalau seluruh wajah telah dipasrahkan kepada Allah, artinya tidak lagi menyerahkan segala sesuatu kepada selain Allah. Ibn Katsir menjelaskan, “menyerahkan wajah kepada Allah artinya beramal secara ikhlas hanya untuk Allah.”

    Ikhlas artinya bersih dan tidak terkena campuran apapun. Perbuatan yang dilakukan dengan kebersihan dan kemurnian dinamakan perbuatan yang ikhlash. Menurut ‘urf (kebiasaan) syara’, kata ikhlash dikhususkan bagi memurnikan tujuan dalam beribadah kepada Allah dari segala campuran yang mengotorinya atau membuat cela dan noda. Jadi apabila tujuan ibadah itu sudah dicampuri oleh pengaruh lain seperti riya’, sombong, mengharap pujian, dan lain-lain maka perbuatan semacam ini sudah keluar dari yang dinamakan ikhlash. Sebagai contoh antara lain:

    Menuntut ilmu untuk tujuan dunia, Menjenguk orang sakit supaya kalau dia sakit dijenguk oleh orang yang dijenguk, Memberikan sumbangan untuk mendapat pujian.

    2. Selalu mengerjakan kebaikan
    Dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan pengerikan ihsan, sebagai berikut: “Ihsan adalah engkau memperibadati Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka meskipun engkau tidak melihat-Nya namun Dia tetap melihat engkau.”

    Orang yang memiliki sikap seperti ini, dalam kehidupan keberagamaannya sekarang sangat ditentukan oleh ibadahnya. Ibadah yang dilandasi dengan seakan-akan melihat Allah atau merasa dilihat Allah dapat melahirkan sikap yang disebut oleh ar-Raghib al-Ashfihani ketika menjelaskan pengertian ihsan, yaitu:

    “Memberikan lebih banyak yang menjadi kewajibannya dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya.”

    3. Mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang lurus
    Lurus di sini adalah arti bahasa kata hanif. Sedangkan secara istilah, hanif adalah sikap lahir dan batin yang berpihak kepada kebenaran yang datang dari Allah melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima.

    Ayat ini ditutup dengan pernyataan Allah tentang ketinggian derajat Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bahwa Allah telah mengangkatnya sebagai khalil-Nya (kesayangan-Nya). Ibn Katsir menyebutkan ada empat nabi yang mendapat gelar khusus yang dinisbatkan kepada Allah, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihi salam sebagai Khalilullah, Nabi Musa ‘alaihi salam sebagai Kalimullah, Nabi Isa ‘alaihi salam sebagai Ruhullah, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Habibullah. (HR. Ibn Mardawaih).

    Tentang sebab Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam diangkat sebagai Khalilullah, diriwayatkan oleh al-Hakim, sebagai berikut:

    “Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam adalah seorang yang senang menjamu tamu. Pada suatu hari beliau mencari orang untuk menjadi tamunya tetapi tidak mendapatkannya. Kemudian beliau kembali ke rumahnya dan beliau mendapati ada seorang laki-laki yang sudah berdiri di dalam rumahnya. Beliau berkata, “Hai Abdullah, apa yang menyebabkan engkau masuk rumahku tanpa izinku?” Orang tersebut berkata, “Saya memasukinya dengan izin pemiliknya. Beliau berkata, “Siapakah anda?” Dia menjawab, “Saya adalah malakul maut. Allah mengutusku menemui salah seorang hamba-Nya untuk memberi kabar gembira kepadanya bahwa Allah telah menjadikannya sebagai kesayangan-Nya.” Beliau berkata, “Siapakah dia, demi Allah, jika engkau memberitahukan kepadaku orang tersebut dan dia berada di ujung negeri pasti aku akan mendatanginya dan menjadikannya sebagai tetangga sehingga kematian memisahkan kami.”

    Dia berkata, “Hamba tersebut adalah anda.” Beliau berkata, “Saya?” Dia berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Sebab apa Allah menjadikan aku sebagai kesayangannya?” Dia berkata, “Sebab engkau senang memberi kepada manusia dan tidak minta kepada mereka.” (HR. Ibn Abi Hatim).

    Diantara millah atau ajaran Nabi Ibrahim yang ditinggalkan untuk umat Islam pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah syariat berkurban. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

    Syariat kurban ini disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Maka shalatlah untuk Tuhan-mu dan sembelihlah kurban.” (Qs. al-Kautsar: 2)

    Wallahu a’lam bishawab.
    Nasehat Imaamul Muslimin

    Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

  • Kamis, 13 Oktober 2016

  • Kasih Sayang Penyebab Datangnya Pertolongan Allah


    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al Anfal [8]: 62-63)

    Kedua ayat di atas memberi petunjuk bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu pasti akan diberikan kepada orang yang beriman.

    Pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencakup bermacam-macam bentuk, antara lain sebagai berikut:

    Pertama, pertolongan kadang-kadang berbentuk kemenangan langsung yang dibuktikan dengan takluknya musuh, seperti yang dialami oleh Nabi Musa Alaihi Salam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “...Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 137)

    Hal ini juga dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan mengalahkan musuh-musuhnya di berbagai medan pertempuran sehingga syariat Islam berkibar di Jazirah Arab. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (Q.S. Al-Fath : 1)

    Kedua, kemenangan kadang-kadang berupa balasan Allah kepada musuh setelah penegak kebenaran wafat. Imam Ath-Thabari ketika menafsirkan Q.S. Al-Mu’min/Ghafir [40]: 51.

    Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (Q.S. Ghafir [40]: 51)

    Beliau mengatakan bahwa ayat tersebut mengandung makna, “Allah telah memenangkan mereka atas orang-orang yang mendustakan-Nya, atau Allah telah membalas orang-orang mendustakan dalam kehidupan dunia setelah rasul-Nya wafat, seperti yang telah Allah lakukan ketika Dia menolong Sya’ya setelah kematiannya dengan memberi kekuasaan kepada orang untuk membalas pembunuhannya. Juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada pengikut Nabi Yahya Alaihi Salam setelah dia terbunuh dan membinasakan bangsa Romawi yang hendak membunuh Nabi Isa Alaihi Salam.

    Ketiga, kemenangan dapat berwujud sesuatu yang kita anggap kekalahan karena terbunuh, dipenjara, diusir, atau dianiaya. Karena terbunuhnya penegak kebenaran merupakan kemenangan bagi dirinya berupa sebutan (nama) yang baik, keberlangsungan missinya dan syahadah yang merupakan bentuk kemenangan terbesar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. ...” (Q.S. Ali Imran [3]: 169-170)

    Masih banyak lagi bentuk kemenangan lainnya yang Allah berikan, dengan demikian kita tidak dapat memaknai kemenangan dari sudut pandang manusia yang bersifat materi saja.

    Kemenangan adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan diberikan hamba-hamba-Nya yang beriman. Oleh karena itu sebagai hamba yang beriman kita yakin dan mantap tanpa ragu sedikitpun bahwa pertolongan Allah pasti datang. Kita harus yakin bahwa terlambatnya pertolongan Allah merupakan ujian. Maha Benar Allah yang berfirman:

    Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Q.S. Ar-Rum [30]: 47)

    Persaudaraan = Kemenangan
    Selanjutnya pada ayat 63 surat Al-Anfal di atas, Allah menyebutkan nikmat yang dilimpahkan kepada orang yang beriman yang akan mendatangkan pertolongan-Nya yaitu ulfah (persaudaraan) di antara orang yang beriman.

    Ketika menafsirkan ayat ini Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan: “Ayat ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu diperoleh dengan berbagai faktor dan yang terpenting adalah kasih sayang dan persatuan.”

    Ar-Raghib Al-Asfihani mengatakan, ulfah secara bahasa berarti: Ijtimaa’un ma’at tuaami, “Berkumpul dengan serasi.”

    Dalam bahasa Indonesia kata "ulfah" dapat diartikan persaudaraan, persahabatan, persatuan, kesesuaian, lemah lembut, kasih sayang dan yang senada dengannya.

    Secara tekstual ayat ini menggambarkan persaudaraan dan kerukunan orang Anshar dari suka Aus dan suku Khazraj setelah mereka masuk Islam. Di masa Jahiliyah kedua suku ini dilanda permusuhan dan kebencian yang sangat dalam di mereka. Peperangan yang berkepanjangan, ratusan tahun terjadi di antara mereka, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memadamkan pertikaian itu dengan cahaya iman, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam firman-Nya:

    Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”(Q.S. Ali Imran [3]: 103)

    Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di hadapan para sahabat Anshar yang kurang puas dengan pembagian harta rampasan perang Hunain beliau bersabda, “Hai orang-orang Anshar, bukankah aku jumpai kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan miskin lalu Allah memberikan kecukupan kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan berpecah-belah lalu Allah menjinakkan hati kalian melalui diriku.” Setiap kali beliau mengucapkan sesuatu, mereka menjawab, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

    Imam Zamakhsyari di dalam Tafsirnya “Al-Kasysyaf”, sebagaimana yang dinukil oleh Prof. Dr. HAMKA dalam Tafsirnya “Al-Azhar” menulis, “Bersatu padunya hati orang-orang yang didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu adalah salah satu tanda Kebesaran Allah yang mengagumkan. Karena orang Arab terkenal sangat keras dalam mempertahankan kesukuan dan kebangsaan.Meskipun dalam perkara yang remeh mereka tidak mau mundur. Tersinggung sedikit segera muncul dendam dan dendamnya tidak habis sebelum malunya tertebus. Orang Arab tidak bisa bersatu, walaupun hanya di antara dua orang. Namun tiba-tiba mereka bersatu rapat di dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam laksana sebusur anak panah yang dapat dipanahkan sekaligus.Hal ini disebabkan karena Al-Qur'an telah membimbing mereka, menyatukan kata-kata mereka sehingga timbul rasa cinta yang mendalam di antara mereka.Habis sirna rasa benci di antara mereka karena mereka disatukan oleh satu cinta, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Tidaklah akan sanggup berbuat demikian kalau bukan karena Allah yang menguasai hati, yang membolak-balikkan hati menurut kehendak dan kemauan-Nya.”

    Ayat di atas walaupun secara tekstual turun berkenaan dengan persaudaraan orang Anshar dari suku Aus dan suku Khazraj tetapi maksudnya adalah umum.Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu pernah membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: “Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 63) sampai akhir ayat. Kemudian beliau berkata, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang saling menyayangi karena Allah.”

    Ayat ini di samping menunjukkan bahwa kasih sayang di antara umat Islam merupakan salah satu penyebab datangnya pertolongan Allah, juga menunjukkan betapa tingginya nilai dan harga persaudaraan di antara umat Islam.

    Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Sesungguhnya shilaturrahim dapat terputus dan nikmat dapat diingkari. Sesungguhnya apabila Allah mendekatkan (melunakkan) hati yang tadinya bermusuh-musuhan maka tidak sesuatupun yang dapat menggoyahkan. Kemudian beliau membaca Q.S. Al-Anfal [8]: 63. Di atas”

    Sementara itu Umair bin Ishaq mengingatkan bahwa hal yang mula-mula dilenyapkan dari manusia adalah kerukunan.

    Dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan persatuan kaum muslimin serta kasih sayang yang terjalin di antara mereka maka betapapun kesulitan dan bagaimanapun problema yang menimpa umat Islam pasti akan dapat diatasi.

    Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika ditanya oleh Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu Anhu tentang bagaimana mengatasi problema umat Islam sepeninggal beliau, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:

    Engkau tetap dalam Jama'ah Muslimin dan Imaam mereka.” (H.R. Al-Bukhari)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits :

    Sesungguhnya di antara kalian yang paling dicintai Allah adalah yang dapat menyesuaikan diri dan diikuti penyesuaian dirinya. Sedangkan di antara kalian yang paling dibenci Allah adalah yang berjalan dengan mengadu domba dan yang memecah belah di antara saudara.”(H.R. At-Thabrani)

    Wallahu a’alm bis shawab
    Nasehat Imamul Muslimin

  • Kamis, 22 September 2016

  • Fungsi Zakat dalam Menyejahterakan Umat (bagian 2)


    Setelah sebelumnya di sampaikan tentang pengertian Zakat, perintah serta balasan bagi mereka yang enggan berzakat dengan menafsirkan firman Allah di bawah ini, “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7)

    Berikutnya adalah hikmah zakat dalam syariat Islam;
    1.Berzakat Merupakan Wujud dari Keimanan kepada Allah akan Kebenaran Ajaran-Nya
    2. Zakat Membersihkan, Menyucikan dan Menenteramkan Jiwa Orang yang Melakukannya
    3.Zakat akan Menambah dan Mengembangkan Harta
    4. Zakat Mendorong Umat Islam Bekerja Keras

    Kelima, Zakat Menghilangkan Sifat Kikir

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Qs. Al-Hasyr [59]: 9)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sembuh dari sifat kikir barangsiapa yang membayar zakat dan menjamu tamu dan memberi di waktu susah.” (HR. Ibnu Jarir)

    Menurut ayat tersebut orang akan beruntung bila terjaga dari sifat kikir dan sifat kikir akan hilang bila seseorang melaksanakan zakat.

    Keenam, Perjuangan Memerlukan Biaya Yang Besar

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(Qs. At-Taubah [9]: 41)

    Berjihad bukan hanya berarti perang yang dalam bahasa Arab disebut “al-harb”, tapi jihad mempunyai arti bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam berjuang menegakkan ajaran Islam, seperti mendirikan masjid, membangun sekolah, menyediakan peralatan belajar, melatih guru, dan sebagainya. Ini semua memerlukan biaya yang tidak sedikit.

    Ketujuh, Islam Menghendaki Umatnya Kaya Sehingga Dapat Membantu Orang Lain

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Hendaklah di antara kalian mulai (memberi nafkah) kepada orang yang menjadi tanggungannya…” (HR. Daruquthni, Hasan)

    Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Cukup seseorang berdosa dengan membiarkan (tidak memberi nafkah) orang yang wajib diberi makan.” (HR. An-Nasa’i)

    Kedelapan, Zakat Mewujudkan Harmoni Kehidupan

    Salah satu unsur yang penting dalam mewujudkan harmoni kehidupan adalah adanya pemerataan ekonomi (harta). Islam tidak membolehkan harta hanya beredar pada kelompok orang kaya saja. Allah berfirman:

    “…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...” (Qs. Al-Hasyr [59]: 7)

    Untuk mewujudkan pemerataan harta tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara pasti menentukan asnaf zakat sebagai berikut: (kelompok bagian)

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah [9]: 60)

    Kesembilan, Menghindarkan Bencana dan Kerusakan

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda -artinya-: “Tiada suatu hari pun yang para hamba Allah memasuki waktu paginya, kecuali dua malaikat turun. Salah satu di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang infaq.” Dan salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah kerusakan bagi yang tidak berinfaq.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

    “Tidaklah mereka menolak mengeluarkan zakat harta mereka kecuali akan ditahan hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak niscaya mereka tidak akan mendapat hujan sama sekali…” (HR. Ibnu Majah)

    Kesepuluh, Zakat Akan Mendatangkan Rahmat Allah

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.” (Qs. Al-A’raf [7]: 156)

    Kesebelas, Zakat dan Kesejahteraan Umat di Masa Khilafah

    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berzakatlah kalian, niscaya akan datang suatu masa kepadamu di mana seseorang berkeliling menawarkan zakatnya tetapi dia tidak menemukan orang yang bersedia menerimanya.” (HR. Bukhari)

    Setiap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti benar dan umat Islam pernah mengalami zaman yang diisyaratkan beliau tersebut antara lain pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.

    Program pengentasan kemiskinan melalui praktek zakat pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab telah membawa hasil yang gemilang. Di wilayah Yaman -negeri termiskin saat ini- kesejahtera-an penduduknya benar-benar terjamin dan semuanya bisa menikmati hidup makmur secara merata.

    Hasil penghimpunan zakat yang dilakukan oleh Waliyul Imaam Muadz bin Jabal tidak terbagikan karena tidak seorangpun penduduk yang miskin. Ketika hasil zakat itu dikirim ke Madinah, ternyata penduduk Madinah pun tidak ada yang bersedia menerimanya karena semua penduduk Madinah sudah hidup berkecukupan. Oleh karena itu, khalifah menolaknya dan meminta agar zakat itu dibagikan di Yaman saja. Muadz bin Jabal berkata, “Kalau sekiranya saya menjumpai orang miskin di sana, tentu saya tidak akan mengirimkan apapun kepadamu.”

    Keberhasilan Muadz bin Jabal mensejahterakan penduduk Yaman tidak semudah membalik tangan tetapi melalui proses panjang sejak dia dikirim oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjadi Amir di Yaman. Ketika dia akan berangkat ke Yaman, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi nasehat, “(Hai Muadz) serulah mereka (penduduk Yaman) agar bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan-Nya. Apabila mereka telah menaatinya, maka serulah mereka untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka telah mentaatinya serulah mereka untuk mengeluarkan zakat atas harta mereka. Caranya kamu pungut dari orang kaya dan bagikanlah kepada orang miskin.” (HR. Bukhari)

    Pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini, dilaksanakan dengan baik oleh Muadz bin Jabal. Dia melaksanakan pesan ini dengan membuat program secara bertahap. Tahap pertama, ditanamkannya akidah yang kuat kepada seluruh lapisan masyarakat. Tahapan kedua, setelah masyarakat memiliki akidah yang kuat ia ajarkan solat lima waktu kepada mereka sebagai kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Tahapan ketiga, dipraktekkannya sistem zakat dengan benar.

    Sistem zakat yang dipraktekkan Muadz bin Jabal di Yaman tidak lepas dari misi utama zakat yaitu mengatasi kemiskinan umat. Semua penduduknya diajak untuk bekerja keras, agar semangat bisa hidup berkecukupan dan mampu melaksanakan zakat. Harta zakat yang dihimpun kemudian dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya. Ketika membagikan zakat, Muadz bin Jabal menyertainya dengan nasehat-nasehat agar orang yang menerima zakat tidak selamanya menjadi penerima, tetapi suatu saat mereka harus dapat menjadi pembayar zakat.

    Inilah langkah-langkah yang dilakukan oleh Muadz bin Jabal mengembangkan ekonomi penduduk Yaman sehingga semuanya hidup berkecukupan dan tidak seorangpun memerlukan bantuan zakat.

    Kondisi ekonomi umat Islam di Yaman di masa kekhilafahan Umar bin Khattab ini, dalam skala lebih luas juga dirasakan oleh umat Islam di masa Dinasti Bani Umayah di bawah kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz.

    Umar bin Abdul Aziz memerintah dalam waktu relatif singkat yaitu antara tahun 99 H – 101 H. Dalam waktu yang sangat singkat ini beliau berhasil menata perekonomian umat sehingga mencapai kemakmuran yang luar biasa, seperti Penduduk di Afrika Utara, Penduduk Irak juga Penduduk Bashrah

    Yusuf Al-Qaradhawi menuturkan, “Di Bashrah semua penduduknya mengalami kemakmuran yang melimpah, tidak ada lagi seorangpun yang bersedia menerima pembagian zakat. Bahkan amir di Bashrah sampai mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz: “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan angkuh dan sombong.” Dalam surat balasannya, Umar berkata, “Ketika memasukkan penduduk surga ke surga dan penduduk neraka ke neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala merasa senang kepada penduduk surga karena mereka berkata,

    “…Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (Qs. Az-Zumar [39]: 74). “Maka suruhlah orang yang menemuimu agar memuji Allah.”

    Kesejahteraan umat ini adalah hasil dari kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz yang menerapkan seluruh ajaran Islam secara kaffah. Baitul maal di manfaatkan dengan cerdas, Lahan perekonomian umat dibina dan dikembang-kan sehingga mampu menjangkau semua lini dan dirasakan oleh semua umat.

    Wallahu a’lam (Imaam Yaksyallah Mansur)

    Bagian pertama bisa di baca di sini

  • Kamis, 28 Januari 2016

  • Islam dan Hegemoni Dunia

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 
    قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali Imran [3]: 26)

    Asbabun Nuzul
    Imam Al Baghawi dan Al Wahidy meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil membebaskan kota Makkah, beliau menjanjikan kepada umat Islam bahwa Kerajaan Persi dan Kerajaan Romawi juga akan dibebaskan. Kemudian orang munafiq dan orang yahudi berkata, “Tidak mungkin, tidak mungkin. Dari mana Muhammad dapat membebaskan Kerajaan Persi dan Romawi karena kerajaan ini sangat kuat dan kokoh. Apakah Makkah dan Madinah tidak cukup bagi Muhammad sehingga ingin menguasai Kerajaan Persi dan Romawi?”

    Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat di atas.

    Penjelasan

    Ayat ini merupakan sebagian ayat yang menjelaskan tentang kekuasaan atau kepemimpinan suatu kelompok atas kelompok yang lain yang disebut dengan istilah hegemoni. Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah lah penguasa yang sebenarnya. Sebagaimana disebutkan pada ayat ini:
    تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mulk [67]: 1)

    Kekuasaan manusia betapapun besarnya hanyalah pinjaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan naiknya seseorang menjadi penguasa hanyalah setelah adanya pengakuan dari orang lain.

    Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Maha Kuasa tidaklah berkuasa karena diangkat dan seandainya semua makhluk di muka bumi tidak mau mengakui kekuasaan Allah, Allah tetap Maha Kuasa.

    Maka pada ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kepada manusia dengan ungkapan penuh ta’dzim tentang kekuasaan. Dilihat dari segi kata-kata, ayat di atas bernuansakan doa; dari segi makna merupakan pengharapan; dari segi isi merupakan sentuhan halus pada perasaan manusia agar tidak berambisi kepada kekuasaan; dari segi ‘kauniyah’ menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah dalam mengatur alam raya ini dan manusia hanya bagian kecil dari bagian alam raya yang Mahaluas ini.

    Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi ayat di atas merupakan penghibur untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi orang yag menentang Islam sekaligus sebagai peringatan untuk beliau akan kekuasaan Allah yang mampu menolong agama-Nya dan meluhurkan kalimat-Nya.

    Muhammad Ramadlan Al Buthy menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjuang bukanlah untuk mecapai suatu hegemoni (kekuasaan) atau mencapai jabatan tertinggi kepada sebagai penguasa atau raja/presiden.

    Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ‘Utbah bin Rabiah, salah satu cendikiawan kafir Quraisy datang menghadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar beliau menghentikan dakwahnya sambil berkata, “Wahai putra saudaraku, jika dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta, maka akan kami kumpulkan harta yang ada pada kami untuk anda sehingga anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan persoalan apapun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam diri anda, kami bersedia mencari tabib untuk menyembuhkan anda tanpa menghitung biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”

    Ketika tawaran Utbah ini ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para pembesar Quraisy beramai-ramai mendatangi beliau dengan menawarkan apa yang ditawarkan oleh Utbah. Kepada mereka beliau menyampaikan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku berdakwah tidak karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan.

    Dari sini tampak jelas bahwa tujuan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan untuk mencari kekuasaan dan beliau tidak mau menggunakan kekuasaan untuk menegakkan risalahnya, seperti yang dilakukan para penganjur ideologi sekuler yang memanfaatkan kekuasaan untuk memaksakan ideologi kepada orang lain.

    Jika cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebagai “kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak ada bedanya dakwah Islam dan penganjur kebaikan karena dakwah Islam berdasar kerelaan, sebagaimana firman Allah: 
    لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 256)

    Sedang penganjur kebatilan berdasar kesewenang-wenangan, dan penindasan. Sebagaimana firman Allah: 
    إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
    Sesungguhnya Fir´aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir´aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Qashash [28]: 4)

    Para ahli sejarah menyatakan bahwa hegemoni Islam mulai mendunia di masa Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 41H/661M. Di masa kekuasaan Bani Umayyah, Islam menjadi kekuatan yang paling menentukan di dunia saat itu. Sekalipun di awal kekuasaannya menimbulkan kontroversi yang dahsyat di kalangan umat Islam, tetapi kekuasaan Bani Umayyah telah menyumbangkan kepada umat Islam kekuasaan imperium yang luar biasa. Tidak salah bila dikatakan bahwa pada masa ini, hegemoni dan pengaruh Islam di luar jazirah Arab telah mencapai prestasi yang mencengangkan.

    Secara syar’i, Bani Umayyah dengan pemimpin yang pertama Muawiyah bin Abi Shafyan telah mengubah sistem khilafah menjadi monarki. Abul A’la al-Maududi menyebut pemerintahan Bani Umayyah sebagai kerajaan. Ketika menulis khalifah di depan nama Muawiyah, ia menulisnya dengan menggunakan tanda kutip, “Khalifah.” Menurut Maududi, kekuasaan Bani Umayyah tidak berdasarkan persetujuan kaum muslimin, dan tidak pula dipilih oleh umat Islam secara bebas melainkan berdasarkan kekuatan pedang.

    Ketika hegemoni Islam mendunia, keamanan dunia relatif dapat tercipta, para pengikut berbagai macam agama hidup dengan tenang dan terhormat karena mereka diberlakukan dengan sangat baik.

    Hegemoni umat Islam di dunia atas manusia berakhir dengan ruhtuhnya Khilafah Utsmaniyah yang ditengarai dengan munculnya Kemal Al-Tatruk yang mengganti sistem Islam dengan sistem kapitalisme. Sejak itu kebesaran Turki Utsmani benar-benar tenggelam bahkan tidak lama kemudian pada tahun 1924 Kekhilafahan dihapuskan. Semua daerah kekuasaannya yang luas baik Asia, Afrika maupun Eropa dijajah oleh negara-negara Barat.

    Hegemoni Barat terhadap dunia Islam diawali dengan Perang Salib dari tahun 1095 – 1291. Disebut Perang Salib karena orang Kristen Eropa menggunakan tanda salib di dadanya sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang dijalankan adalah perang suci. Tujuan Perang Salib adalah membebaskan kota suci Yerusalem atau Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Setelah itu berjalanlah penaklukan bangsa Eropa atas negeri muslim dengan latar belakang sebagai berikut:

    Mercenary, yaitu untuk mencari keuntungan di negeri-negeri Islam, Missionary, yaitu untuk menyebarkan agama Kristen ke negeri-negeri Islam. Military, yaitu untuk perluasan daerah militer.

    Selain hal di atas, yang melatarbelakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan kekuasaan.

    Bentuk-bentuk penjajahan Barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, penaklukan, sehingga wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat, rakyatnya ditindas dan diperbudak.

    Hegemoni Barat telah memicu gerakan pembaharuan Islam yang bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan menggali sumber-sumber Islam dan menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah.

    Umat Islam menyadari bahwa hegemoni Barat terhadap dunia Islam adalah dikarenakan kaum muslimin tidak dalam kondisi bersatu. Perpecahan terjadi di seluruh wilayah dan para pemimpin Islam saling bermusuhan serta tidak memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu muncullah kesadaran umat Islam untuk kembali menghidupkan sistem kesatuan kepemimpinan yang disebut dengan sistem khilafah ala minhajin nubuwwah.

    Di Indonesia, kesadaran ini dipelopori oleh Imam Wali Al-Fataah tahun 50an ketika beliau bersedia untuk dibaiat sebagai Imaamul Muslimin dalam sebuah gerakan yang awalnya disebut gerakan Hizbullah. Selanjutnya gerakan ini menemukan bentuknya sebagai Jama’ah Muslimin sesuai dengan dalil-dalil yang qath’i yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah dengan nama Jama’ah Muslimin (Hizbullah) hingga hari ini.

    Sesuai dengan sunatullah, hegemoni Barat terhadap dunia Islam mulai melemah. Hal ini adalah sebagai isyarat firman Allah: 
    هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
    Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.“ (Q.S. al-Fath: 28) juga (Q.S. al-Shaff: 9)

    Rangkaian ayat di atas menegaskan bahwa akhirnya Islam-lah yang akan mengungguli agama-agama dan segala bentuk doktrin yang lain, dan umat Islam pasti akan menang selama mereka berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

    Wallahu A’lam.

    Nasihat Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur

  • Kamis, 07 Januari 2016

  • Mensyukuri Nikmat Allah

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
    مَّا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
    Artinya : “Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. An-Nisa [4] ayat 147)

    Ayat ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang menunjukkan keutamaan bersyukur. Bahwa apabila manusia itu bersyukur dan beriman maka Allah tidak akan menyiksa mereka.

    Oleh karena itu, apabila Allah menyiksa manusia adalah disebabkan mereka tidak bersyukur dan tidak beriman kepada Allah.

    Bersyukur sering didampingkan oleh Allah dengan nikmat seperti dalam firman Allah.
     وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
    Dan syukurilah nikmat Allah jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. An-Nahl [16] ayat 114)

    Nikmat secara bahasa berarti (kondisi atau segala sesuatu yang baik). Nikmat yang dikaruniakan kepada manusia itu sangat banyak, tidak mungkin manusia menghitungnya, sebagaimana firman-Nya,
    وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
    Dan dia memberikan kepada kalian segala apa yang kalian minta kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu menghitungnya.” (QS.Ibrahim [14] ayat 34)

    Menurut Imam al-Ghazali. Secara garis besar nikmat itu dibagi menjadi dua, yaitu nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapau tujuan. Nikmat yang menjadi tujuan utama yang ingin dicapai umat manusia yaitu kebahagiaan di akhirat. Adapun ciri-ciri nikmat ini adalah:

    Kekal. Diliputi oleh kebahagiaan dan kesenangan. Memungkinkan untuk dicapai. Dapat memenuhi segala keiinginan dan keperluan manusia.

    Sedang nikmat yang kedua (yang menjadi alat untuk mencapai tujuan utama) meliputi:

    • Kebersihan jiwa dalam bentuk iman dan akhlak mulia
    • Kelebihan tubuh seperti kesehatan dan kekuatan
    • Hal yang membawa kesenangan jasmani seperti harta, kekuasaan dan keluarga.
    • Hal-hal yang membawa sifat-sifat keutamaan seperti hidayah, pertolongan dan lindungan Allah.


    Terhadap nikmat Allah yang sangat banyak bentuknya bermcam-macam tersebut, Allah memerintahkan umat manusia untuk bersyukur.

    Secara bahasa syukur berarti: (menggambarkan dan memanfaatkan nikmat). Sedang hakekat syukur adalah menggunakan nikmat yang diperolehnya untuk sesuatu yang diridhoi dan disenangi Allah bukan untuk sesuatu yang disenangi oleh dirinya dan manusia. Lawan dari syukur adalah kufur, yaitu mengingkari nikmat Allah.

    Jadi apabila sesorang mempergunakan nikmat Allah yang diperolehnya untuk sesuatu yang tidak diridhoi Allah berarti mengingkari nikmat tersebut. Termasuk mengingkari nikmat ialah membiarkan nikmat itu mengganggu dan tidak difungsikan sama sekali untuk kemanfaatan umat manusia, serta tidak mengembangkannya.

    Keutamaan Bersyukur

    Orang yang bersyukur, disamping tidak akan disiksa oleh Allah seperti ayat di atas dia juga akan memperoleh beberapa keutamaan antara lain.

    Pertama, Orang yang bersyukur akan diridhoi Allah. (Jika kamu bersyukur, Dia meridhoi kesykurannya itu- QS. Az-Zumar [39]: 7)

    Kedua, Orang yang bersyukur akan ditambah nikmat nya. (Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti aku akan menambahkan nikmat kepadamu Q.S. Ibrahim [12]: 7)

    Ketiga, Syukur sebagai akhlak rububiyah (Q.S. Fathir [35]: 30) “(Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukur)”

    Keempat, Syukur disertakan dzikir kepada Allah

    (Ingatlah kalian kepadaku, pasti akan aku ingat kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada Ku dan jangan kalian ingkar kepadaku- QS. Al-Baqarah : [2] 152)

    Kelima, Syukur sebagai pembuka dan penutup pembicaraan penghuni syurga. “(Dan mereka mengucapkan, segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami. QS. Az-Zumar [39] 74). (Dan penutup doa mereka adalah segala puji bagi Allah, Tuhan .. QS Yunus [10] 10)

    Hadis-hadis yang menunjukkan syukur banyak sekali antara lain:

    Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Orang makan yang bersyukur mendapat kedudukan sebagai orang puasa yang sabar- H.R. Tirmidzi

    Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Susungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya. H.R. Tirmidzi

    Adapun cara bersyukur kepada Allah ada tiga:

    Pertama, Bersyukur dengan hati yaitu mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah dan tidak ada seorangpun selain Allah yang dapat memberikan nikmat.

    Kedua, Bersyukur dengan lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah

    Ketiga, Bersyukur dengan amal perbuatan yaitu menggunakan nikmat sesuai dengan ajaran agama untuk melakukan hal-hal positif yang diridhoi Allah, jika nikmat itu berupa harta, maka dinafkahkannya di jalan Allah, jika nikmat itu berupa ilmu dimanfaatkannya untuk keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan manusia serta mengajarkannya kepada orang lain.

    Sedang mensyukuri anggota tubuh menurut imam al-Ghazali ada tujuh anggota tubuh penting harus kita perhatikan cara mensyukurinya:

    Pertama, Mata, menyukuri dengan tidak melihat maksiat

    Kedua, Telinga, digunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik

    Ketiga, Lidah, dengan banyak berdzikir dan mengucapkan hal-hal yang baik

    Keempat, Tangan digunakan melakukan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain

    Kelima, Perut hanya diisi dengan makanan yang halal dan tidak berlebih-lebihan serta sekedar untuk menguatkan ibadah

    Keenam, Kemaluan, dipergunakan hanya bagi suami istri dengan niat memelihara diri dari yang haram.

    Ketujuh, Kaki, digunakan untuk berjalan ketempat yang baik, mencari rizki halal dan menolong manusia.

    Wallahu A’lam.

    Nasihat Imamul Muslimin, KH Yakhsallah Mansur

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism