Kamis, 08 Januari 2015

  • Upaya Mencintai Rasulullah SAW

    Cinta Nabi Muhammad SAW
    Prolog 1 : Suatu ketika datang seorang laki-laki menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian bertanya: “Kapankah tiba hari kiamat?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam balik bertanya,”Apakah yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Laki-laki itu menjawab, ”Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Prolog 2 : Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Lanjut Anas, ”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Saya pun berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.” (H.R. Muslim).

    Prolog 3 : Adalah kisah Handzalah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu. Ia terjun ke medan jihad, Perang Uhud, dengan meninggalkan isteri yang baru sehari sebelumnya dinikahinya. Ia pun menemui kesyahidan di medan perang. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihatnya, lalu berkata kepada para shahabat yang lain. “Sesungguhnya aku telah melihat para malaikat memandikan Handzalah di tengah-tengah langit dan bumi dengan air hujan, dalam sebuah bejana dari perak.” (H.R. at-Turmudzi dan Ahmad).

    Cinta Bukti Iman
    Kecintaan kepada baginda Nabi adalah kesempurnaan iman, dan ini hanya akan diperoleh dengan mentha’ati serta tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun atas segala titah beliau.

    Artinya : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An-Nisa’ [4] : 65).

    Mencintai Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam merupakan bagian dari iman, bagian dari dzikrullah, ibadah kepada Allah, yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa.

    Artinya : “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS Muhammad [47] : 2).

    Makna Cinta Rasulullah
    Cinta dalam bahasa Arab disebut dengan ‘mahabbah’. Secara istilah, Syaikh Dr Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan sedikit tentang Mahabbah (cinta) adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai seseorang atau sesuatu dengan penuh kasih sayang. Di antara tanda-tandanya ialah rasa kagum, berharap, rela dan selalu ingat. Adapun refleksi cinta adalah menurut dari yang dicintainya dan menjauhkan diri dari yang tidak disaukai oleh yang dicintainya.

    Penyair Kahlil Ghibran menyebut cinta sebagai suatu kecocokan jiwa bukan karena keakraban yang lama atau pendekatan yang tekun. Jika tidak ada kecocokan jiwa, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad lamanya.

    Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (Mahabbatur Rasul) ini terwujud dalam bingkai “sami’na wa atha’na” (kami dengar dan kami tha’at) terhadap perintah Rasul, berendah hati, mendahulukan, melindungi dan kasih sayang kepada beliau. Mahabatur Rasul bukan hanya terbatas pada salam dan Shalawat untuk beliau. Namun juga membentengi beliau dari marabahaya dan meneruskan sunnahnya dalam jihad membela Islam.

    Mahabbatur Rasul muncul dari keikhlasan dan ketulusan syar’i, rasa cinta yang Allah tumbuhkan, yang tak dapat ditumbuhkan oleh manusia meski membelanjakan seluruh kekayaannya. Rasa cinta yang melebihi rasa cinta kepada bapak-bapak, anak-anak, saudara, isteri, kaum keluarga, harta, perniagaan, rumah-rumah yang disukai. Bahkan rasa cinta yang melebihi rasa cinta kepada diri sendiri.

    Itulah Mahabbatur Rasul yang mewarnai hati sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, yang membuatnya mendahulukan, melindungi dan tak membangunkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tertidur di pangkuannya. Walaupun harus menahan sakit kakinya karena tersengat kalajengking hingga mengucurkan darah.

    Itulah tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, melebihi segala cinta. Bahkan bukan hanya cinta formalitas, tetapi Abu Bakar sudah merasakan lezatnya iman. Seperti digambarkan di dalam hadits dari Anas bin Malik :

    Artinya : “Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran (setelah Allah l menyelamatkannya darinya) sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.” (H.R. Muttafaq ‘Alaihi).

    Upaya Mencintai Rasulullah
    Selanjutnya, ada beberapa upaya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam antara lain :

    Pertama, membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Artinya : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Az-Zumar [39] : 33).

    Artinya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).“ (Q.S. An-Najm [53] : 3-4).

    Kedua, mengikuti / thaat pada yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Artinya : “Tha’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran [3] : 32).

    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa [4] : 59).

    Ketiga, menjauhi apapun yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Artinya : “…..Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Q.S. Al-Hasyr : 7).

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Artinya : “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. (H.R. Al-Hakim).

    Keempat, membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Sikap cinta perlu dibuktikan dengan pembelaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Khususnya dari pihak yang ingin memfitnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Kelima, senantisa memberikan shalawat kepadanya.

    Tentang keutamaan membaca kalimah shalawat ini, antara lain terdapat di dalam hadits

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Artinya : “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan sholawat kepadanya 10 kali.” (H.R. Muslim).

    Pada hadits lain disebutkan : Artinya : “Apabila salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah dia memulainya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian bershalawatlah kepada Nabi, lalu berdoa lah dengan apa yang dia kehendaki.” (H.R. at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan an-Nasa’i).

    Bahkan, ayat menyebutkan : Artinya : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 56).

    Makna shalawat Allah kepada Nabi dan hamba-Nya ialah pujian dan sanjungan Allah kepadanya di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya. Sedangkan makna shalawat para malaikat kepada Nabi dan orang-orang yang beriman ialah doa. Maksudnya para malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kaum mukminin.

    Semoga kita senantiasa menjadi muslim yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan kita berharap syafaat beliau. Aamin.

    Wallahu A’lam

  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism