Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Tampilkan postingan dengan label KH Abul Hidayat S.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH Abul Hidayat S.. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

  • Hijrah Rasulullah SAW. Dan Rekonstuksi Peradaban

    Selama + 13 tahun lamanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan risalah kerasulan kepada penduduk Makkah tetapi yang didapatkan adalah sikap yang tidak simpati dari masyarakat Quraisy bahkan bersikap memusuhi sehingga sampai kepada puncak permusuhan mereka, membunuh Nabi.

    Makan turunlah perintah hijrah kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan kaum muslimin untuk menyelematkan akidah Islam mereka.

    Hijrah bukan sekedar berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi di kemudian hari terbukti bahwa hijrah memiliki nilai strategis yang menandai berakhirnya masa pra Islam yang disebut masa jahiliyah. Dan sekaligus merupakan titik balik bagi kemenagan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan babak baru dalam sejarah perkembangan Islam dengan berdirinya sebuah tatanan masyarakat baru yang berlandaskan wahyu (Islam) di Madinah. Dari sanalah cahaya Islam bersinar menembus kegelapan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia.

    Pada situasi umat Islam di awal abad ini dihadapkan dengan berbagai tantangan konspirasi global internasional. Dengan sikap yang kurang simpati bahkan sikap permusuhan dari kelompok Islamo phobi. Maka perlu mengkaji kembali nilai dan semangat hujrah untuk dijadikan strategi juang dan penataan umat dalam rangka mewujudkan kembali masyarakat Islam yang kompak dan bersatu dalam kepemimpinan kekhilafahan yang mengikuti jejak kenabian.

    Infasi Pemikiran
    Al-Qur’an telah mengkhabarkan bahwa mereka orang kafir mau memadamkan cahaya Allah di muka bumi tetapi Allah yang akan menghidupkan dan menyempurnakan cahaya-Nya (Islam) walaupun orang-orang kafir membencinya.

    Firman Allah SWT “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya"(QS. 61: 8)

    Kejengkelan orang-orang kafir dituangkan dalam berbagai konsep permusuhan yang tidak simpatik, teroris, garis keras atau sebutan yang lainnya yang pada intinya tidak ingin Islam tumbuh berkembang. Tetapi kenyataan membuktikan perkembangan Islam tidak bisa dibendung bahkan tumbuh berkembang di Amerika, Inggris, Prancis, Belanda, Jerman dan Eropa pada umumya.

    Kini strategi untuk melawan Islam mereka menggunakan invasi pemikiran, perang mental dan budaya. Lahir filsafat-filsafat sekuler yang unreligius, seperti hedonistic society, permissive society gaya hidup serba instan, serba mudah, serba nikmat dan serba boleh dan liberal individualis yang meterialistik.

    Pada gilirannya syariat Islam akan dianggap sebagai belenggu yang menghalangi kebebasannya maka sedikit demi sedikit Islam akan ditingalkan. Penghayatan Islam menyudut hanya sampai pada batas ritual tanpa aktual.

    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” Q.S Ali Imran (3) ;100.

    Bahkan mengkristal menjadi gundukan manusia idividu-individu yang berserakan dan mudah dipermainkan oleh idiologi dan filsafat-filsafat yang menyesatkan.

    Aplikasi Nilai Hijrah dalam Penataan Umat
    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah, sampai di Madinah ada beberapa langkah yang beliau lakukan sebagai langkah strategis dalam penataan dan pembangunan masyarakat Islam, antara lain:

    1. Membangun Masjid Quba
    Bukan istana kerajaan, bukan pula benteng pertahanan militer, tetapi yang beliau bangun adalah masjid. Hal ini menunjukan ciri khas bahwa misi kerasulan adalah misi kenabian bukan misi militerisme dan bukan pula kerajaan, dengan cirri khasnya adalah masyarakat robbaniyah yang berarti:

    A. Beliau hanya membawa dan menyampaikan agama yang bersumber dari Robbul ’alamin bukan ideologi dan gagasan pemikiran beliau.

    B. Bahwa masyarakat yang dibangun adalah bukan masyarakat Theokrasi, bukan pula demokrasi apalagi monarchi, tetapi masyarakat “Theocentrisme Humanisme” artinya masyarakat yang dibangun di atas pondasi akidah Laa Ilaha Illallah dan berbentuk Jama’i, beroreintasi pada pengabdian kepada Allah semata-mata yang bersifat Al-Insaniyah Al-Alamiyah (kemanusiaan dan universal) rahmatan lil ‘alamin, tidak bersifat lokal, kedaerahan, dan ashobiyah (kebangsaan) tetapi untuk seluruh umat manusia “Asy-Syumuliyah wat Takamuliyah” (lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan) bukan sebuah gagasan pemikiran yang dituangkan dalam rumusan ideologi dari siapapun untuk melaksanakan syareat agamanya, karena didalamnya telah lengkap dan meliputi berbagai aspek yang hanya tinggal melaksanakannya. QS.Al An’am (6) ; 115 -116

    2. Membangun Ukhuwah Islamiyah
    Langkah selanjutnya adalah membangun ukhuwah Islamiyah , mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Aus dan Hajrat yang sudah ratusan tahun mereka berseteru saling berperang, mensejajarkan antara Tuan dan budak yang selama ini dianggap tabu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam ditegakkan dengan aqidah dan ukhuwah, ikatan iman Kaljasadil Wahid bukan dilatarbelakangi oleh “kepentingan” pribadi, golongan, ekonomi maupun kepentingan politik kekuasaan .

    3. Tegaknya shalat al maktubah biljama’ah
    Sesudah hijrah di Madinah maka pelaksaan shalat lima waktu disempurnakan dan ditetapkan oleh Rasulullah dengan shalat berjama’ah di Masjid yang sangat ditekankan (sunnah mu’akadah), secara simbolik sebenarnya inilah gambaran hidup atau miniature bentuk kemasyarakatan Islam di luar masjid. Didalam shalat berjama’ah ada persyaratan adanya Imam dan Makmum. Itu artinya bahwa muslimin bukan umat yang anarchis, tetapi dia adalah umat yang selalu hidup terpimpin, teratur. Berjama’ah dan terpimpin oleh kepemimpinan seorang Imaam/khalifah

    Ketika shalat Imam belum akan bertakbir sebelum Imam meluruskan dan merapatkan shaf makmumnya terlebih dahulu, ini artinya bahwa dalam kehidupan muslimin diluar masjid umat senantiasa berada pada satu barisan, rapat dalam persaudaraan dan saling bahu-membahu, solid dan kompak dalam membangun peradaban yang maju dan santun. Demikian pula dalam menghadapi berbagai kemungkinan baik dalam keadaan aman maupun terancam.

    Kehidupan ini tidak akan terwujud jika muslimin tidak mau hidup berjama’ah dan lebih menyukai perpecahan dan bergolong-golongan (QS. Ali Imran : 103)

    Adanya qorinah lafdziyah , yaitu WA LA TAFARROQU setelah kalimat JAMI’AN dalam QS 3 : 103, Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah, “Allah memerintahkan mereka dengan berjama’ah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh.” (Tafsir Ibnu Katsir I/189)

    4. Mengadakan perjanjian dengan pemuka-pemuka agama non muslim
    Ini juga berarti bahwa Rasulullah saw. telah memberi landasan berpijak bahwa umat Islam bisa hidup berdampingan dan bisa bekerja sama dengan siapapun sepanjang dilakukan demi kemaslahatan dan bukan untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

    5. Sentral dakwah dan penyiaran Islam
    Dari Madinatul Munawarah Rasulullah saw. mengirim mujahid-mujahid dakwah ke segala penjuru pelosok untuk mengajak manusia beriman dengan bijak dan pengajaran yang mulia dan disini pula Rasul menerima kabilah-kabilah yang ingin berdialog dan mendalami masalah islam. Sehingga madinah menjadi sentral kegiatan dunia baru islam, menerangi cahaya kegelapan jahiliyah menjadi terang dan sinarnya menembus seluruh pelosok benua hingga ke seantero jagad hingga saat ini.

    Wallahu a’alm bis shawabOleh: KH. Abul Hidayat S.

  • Kamis, 18 Juni 2015

  • Shaum Dan Kepribadian

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk melakukan shaum/puasa di bulan Ramadhan, firman-Nya:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum (berpuasa) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

    Pada kalimat “telah diwajibkan atas kamu berpuasa” Allah Ta’ala tidak menggunakan kata furida atau wujiba, tetapi menggunakan kata kutiba dalam arti an naqsyu ‘ala al hajarah. mengukir di atas batu. Dengan kalimat tersebut dimaksud agar shaum betul-betul membekas dalam jiwa yang pengaruhnya mampu mengukir karakter atau kepribadian orang yang berpuasa.

    Shaum juga berart al imsaaku artinya menahan diri atau pengendalian diri dari perkara yang tidak terpuji. Orang yang berpuasa adalah orang yang terlatih dalam hal pengendalian diri, matang dalam berpikir, bijak dan hati-hati dalam bertindak, tidak grasa-grusu.

    Kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum seperti yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, artinya puasa tidak bisa lepas dari manusia. Baik manusia dulu maupun manusia sekarang bahkan manusia akan datang. Jika ingin tetap exis mempertahankan dirinya dan terangkat martabatnya sebagai manusia yang mulia di sisi Allah, maka harus menjalani prosesi kematangan diri yang disebut shaum atau puasa.

    La’allakum tattaqun agar kamu bertaqwa, artinya shaum atau puasa yang benar akan melahirkan manusia taqwa, suatu kedudukan derajat tertinggi bagi manusia di sisi Allah. Sebaliknya, shaum yang hanya dilakukan secara tradisi, sekedar menggugurkan kewajiban dengan menahan diri dari tidak makan dan tidak minum pada siang hari, sebatas ceremonial tahunan, tetapi tidak mengindahkan kaifiyatus shaum dengan benar maka shaumnya sia-sia. Dan itu yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Beberapa dari banyak orang yang berpuasa (tetapi) hasil yang diperoleh dari puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Dan beberapa banyak dari orang yang shalat malam (tetapi) hasil yang diperoleh hanya berjaga malam saja.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ath Tabrani)

    Untuk itulah, hendaknya kita memahami hakikat dan adabiyah dari perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan shaum yang tidak hanya diperitahkan kepada orang-orang beriman hari ini, melainkan kepada manusia terdahulu.

    ADABIYAH SHAUM
    Untuk melakukan shaum yang berkualitas, perlu memperhatikan adabiyah shaum antara lain sebagai berikut

    Pertama, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak shaum, seperti mengumpat, menggunjing, mencela, memaki, dan sebagainya. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    Barang siapa tidak meninggalkan perkataan zur (dusta, umpat, fitnah, dan perkataan yang menimbulkan murka Allah permusuhan), dan tidak meninggalkan pekerjaan itu serta sikap jahil, maka tak ada hajat bagi Allah ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

    Kedua, tidak rakus dengan memperbanyak berbagai macam makanan dan minuman dikala berbuka dan bersahur.

    Ketiga, tidak banyak tidur di siang hari, tetap tetap beraktivitas dan meningkatkan ibadah dan amal sholeh.

    Keempat, menahan hati dan pikiran dari angan-angan dan keinginan-keinginan yang rendah apalagi tidak terpuji.

    Kelima, mentafakuri dahsyatnya lapar dan dahaga serta sengsaranya hari kiamat yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.

    Keenam, menumbuhkan kepekaan iman, ketajaman penglihatan mata hati, dan rasa harap-harap cemas apakah shaum kita diterima atau ditolak.

    ATSAARUS SHIYAM (pengaruh puasa)

    Jika puasa kita lakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah maka puasa akan berpengaruh dan memberi sibghah terhadap karakter dan mampu mewarnai sikap dan prilaku :

    Pertama: Dengan Imanan wahtisaban menciptakan iklim kondusif bagi hubungan seorang hamba kepada Allah dan hubungan social yang harmonis. Dan ini menjadi sumber segala keutamaan dan kemaslahatan. Keikhlasan dan kejujuran hanya muncul bila seseorang mampu menghubungkan jiwanya kepada Allah sehingga dimanapun dia selalu merasa dikontrol, diawasi Allah SWT.

    Karena itulah puasa sarat akan makna yang berdimensi spiritual dan social yang tinggi, mulia, dan suci. Al-Quran menyebut sebagai Hablum minallah wahablum minannas. Dengan dua hal tersebut manusia terangkat harkat dan martabat diri dan terjaga dari kehinaan dimata Allah SWT.(QS.Ali Imran ;112)

    Karena manusia mulia disebabkan iman dan taqwanya. Manusia berkualitas karena amal baik terhadap sesamanya. Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan hartamu, tetapi Allah akan melihat pada hati dan amalmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Kedua: Puasa dengan karakternya akan menyentuh relung hait nurani, menggugah rasa cinta kasih terhadap sesama dan membangkitkan ketulusan jiwa yang melahirkan sikap itsariyah atau altruisme yaitu sikap tenggang rasa, kepekaan social dalam kebersamaan serta rela berkorban untuk perduli dan kebahagiaan orang lain dengan simpati dan empati. Dan hebatnya lagi dilakukan atas dasar mahabbah lillahi ta’ala tanpa pamrih.

    Ketiga: Puasa menurut penelitian para psikolog dan kenyataan membuktikan bahwa puasa mampu mengembangkan superego (nafsul muthmainnah). Kematangan emosional dan pengendalian diri dalam segala keadaan baik senang maupun susah, lapang maupun sempit tetap stabil. Tidak meledak-ledak seperti petasan atau merajuk-rajuk gelap mata dalam keputus asaan dari rahmat Allah. Dan kematangan superego atau nafsul muthmainnah ini menjadi produk puasa inilah yang mampu mengikis emosional yang destruktif, egoisme, dan arogan.

    Keempat : Puasa yang benar dengan segala adabiyah-nya ini akan memberikan terapi terhadap berbagai macam penyakit social. Seperti akibat buruk dari falsafah sekuler, liberalisme, hedonisme, eksistensialisme dari barat yang di ekspor ke berbagai Negara muslim termasuk Indonesia sehingga umat Islam meninggalkan syareat agamanya dan cendrung menjadi penganut mereka yang permissire soecity, masyarakat bebas nilai jor-joran semau ‘gue.’

    Untuk itu shaum datang sebagai upaya memperbaiki keadaan seperti itu, semoga shaum yang kita laksanakan mampu menjadikan kita manusa yang bertakwa.

    -Wa Allahu ‘Azza wa Jalla A’lam.

  • Kamis, 10 Juli 2014

  • Pengaruh Shaum Dalam Kepribadian

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum (berpuasa) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

    Kalimat “telah diwajibkan atas kamu berpuasa” menggunakan kata kutiba dalam arti  an naqsyu ‘ala al hajarah. mengukir di atas batu. Dengan kalimat tersebut dimaksud agar shaum betul-betul membekas dalam jiwa yang pengaruhnya mampu mengukir karakter atau kepribadian orang yang berpuasa.

    Shaum juga berarti  al imsaaku   artinya menahan diri atau pengendalian diri dari perkara yang tidak terpuji. Orang yang berpuasa adalah orang yang terlatih dalam hal pengendalian diri, matang dalam berpikir,bijak dan hati-hati dalam bertindak, tidak ‘grasa-grusu’.

    Kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum seperti yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, artinya puasa tidak bisa lepas dari manusia. Baik manusia dulu maupun manusia sekarang bahkan manusia akan datang. Jika ingin tetap exis mempertahankan dirinya dan terangkat martabatnya sebagai manusia yang mulia di sisi Allah, maka harus menjalani prosessi kematangan diri yang disebut shaum atau puasa.

    La’allakum tattaqun agar kamu bertaqwa, artinya shaum atau puasa yang benar akan melahirkan manusia taqwa, suatu kedudukan derajat tertinggi bagi manusia di sisi Allah.

    Sebaliknya, shaum yang hanya dilakukan secara tradisi, sekedar menggugurkan kewajiban dengan menahan diri dari tidak makan dan tidak minum pada siang hari, tetapi tidak mengindahkan kaifiyatus shaum dengan benar maka shaum-nya sia-sisa. Dan itu yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    Artinya : “Beberapa dari banyak orang yang berpuasa hasil yang diperoleh dari puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Dan beberapa banyak dari orang yang shalat malam hasil yang diperoleh hanya berjaga malam saja.”

    ADABIYAH SHAUM
    Untuk melakukan shaum yang berkualitas, perlu  memperhatikan adabiyah shaum antara lain sebagai berikut :

    Pertama, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak shaum, seperti mengumpat, menggunjing, mencela, memaki, dan sebagainya.
    Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

     “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan ,’zur’ (dusta, umpat, fitnah, dan perkataan yang menimbulkan murka Allah, permusuhan) dan tidak meninggalkan pekerjaan itu serta sikap jahil, maka tak ada hajat bagi Allah ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

    Kedua, tidak rakus dengan memperbanyak berbagai macam makanan dan minuman dikala berbuka dan bersahur.
    Ketiga, tidak banyak tidur di siang hari, tetap tetap beraktivitas dan meningkatkan ibadah dan amal sholeh.
    Keempat, menahan hati dan pikiran dari angan-angan dan keinginan-keinginan yang rendah apalagi tidak terpuji.
    Kelima, mentafakuri dahsyatnya lapar dan dahaga serta sengsaranya hari kiamat yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.
    Keenam, menumbuhkan kepekaan iman, ketajaman penglihatan mata hati, dan rasa harap-harap cemas apakah shaum kita diterima atau ditolak.

    ATSAARUS SHIYAM (pengaruh puasa)
    Jika puasa kita lakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah maka puasa akan berpengaruh dan memberi sibghah terhadap karakter dan mampu mewarnai sikap dan prilaku :

    Pertama : Dengan Imanan wahtisaban menciptakan iklim kondusif bagi hubungan seorang hamba kepada Allah dan hubungan social yang harmonis. Dan ini menjadi sumber segala keutamaan dan kemaslahatan. Keikhlasan dan kejujuran hanya muncul bila seseorang mampu menghubungkan jiwanya kepada Allah sehingga dimanapun dia selalu merasa dikontrol, diawasi Allah SWT.
    Karena itulah puasa sarat akan makna yang berdimensi nilai spiritual dan social yang sangat tinggi, mulia, dan suci. Al-Quran menyebut sebagai Hablum minallah wahablum minannas. Dengan dua hal tersebut manusia terangkat harkat dan martabat diri dan terjaga dari kehinaan dimata Allah SWT.(QS.Ali Imran ;112)

    Kedua : Puasa dengan karakternya akan menyentuh relung hait nurani, menggugah rasa cinta kasih terhadap sesama dan membangkitkan ketulusan jiwa yang melahirkan sikap itsariyah atau altruisme yaitu sikap tenggang rasa, kepekaan social dalam kebersamaan serta rela berkorban untuk perduli dan kebahagiaan orang lain dengan sympati dan empati. Dan hebatnya lagi dilakukan atas dasar mahabbah lillahi ta’ala tanpa pamrih. Dan hendaknya sifat ini dimiliki sebelas bulan kemudian, bukan sebaliknya, selepas Ramadhan menjadi sepi kembali. Jika ini terjadi, harus kita renungkan hasil shaum yang kita laksanakan selama ini!

    Ketiga : Puasa menurut penelitian para psikolog dan kenyataan membuktikan bahwa puasa mampu mengembangkan superego (nafsul muthmainnah). Kematangan emosional dan pengendalian diri dalam segala keadaan baik senang maupun susah, lapang maupun sempit tetap stabil. Tidak meledak-ledak seperti petasan atau merajuk-rajuk gelap mata dalam keputus asaan dari rahmat Allah. Dan kematangan superego atau nafsul muthmainnah ini menjadi produk puasa inilah yang mampu mengikis emosional yang destruktif, egoisme, dan arogan.

    Sayang seribu kali sayang keutamaan dari karakter Ramadhan pun hanya indah di bulan Ramadhan. tetapi kemudian perlahan-lahan pudar bersama berlalunya Ramadhan. Astaghfirullah..
    Keempat : Puasa yang benar dengan segala adabiyah-nya ini akan memberikan terapi terhadap berbagai macam penyakit social. Seperti akibat buruk dari falsafah sekuler, liberalisme, hedonisme, eksistensialisme dari barat yang di ekspor ke berbagai Negara muslim termasuk Indonesia sehingga umat Islam meninggalkan syareat agamanya dan cendrung menjadi penganut mereka yang permissire soecity, masyarakat bebas nilai jor-joran semau ‘gue.’

    Kita merasakan betul keprihatinan berjangkitnya penyakit social yang sudah menjadi wabah bahkan epidemi, seperti korupsi, manipulasi, prostitusi, aborsi, mutilasi, dan ekstasi. Subhanallah!

    Ini semua adalah produk dari manusia yang jiwanya sakit, nuraninya mati, karena kufur kepada Allah. Banyak orang pintar keblinger, banyak orang kaya harta miskin jiwa, banyak orang berpangkat tinggi tetapi martabatnya rendah. Banyak orang pandai bersolek mempercantik diri menjadi tampan dan cantik tapi hatinya busuk dan keji. Naudzubillahi mindzalik.

    Upaya memperbaiki keadaan seperti itu, harus diperbaiki manusianya. Manusia hanya bisa diperbaiki dengan konsep dan cara-cara yang datang dari yang menciptakan manusia yaitu Allah SWT. Allah telah menegaskan bahwa manusia yang hidup itu  punya jiwa, nafsu dan syahwat. Sedang nafsu dan syahwat itu hanya bisa dikendalikan oleh shaum atau  puasa bukan dengan yang lain.

    KESIMPULAN
    Dari sedikit uraian di atas kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa :Shaum atau puasa adalah ibadah khusus yang berdimensi spiritual dengan ibdatur sirri mampu menciptakan iklim kondusif bagi tumbuhnya iman dan ihsan yang menjadi inti dan sumber segala kebajikan dan keutamaan manusia. Membangun karakter dan kepribadian mukmin sejati yang bertanggung jawab terhadap segala ucapan dan amal perbuatannya di hadapan Allah dan manusia.

    Hidup itu memberi, bukan mereguk dan meraup apa yang ada dengan keserakahan. Seperti tamtsil sebuah pohon. (QS. Al-Fath : 29 dan QS. Ibrahim : 24–25).

    Akarnya menghujam ke bumi, teguh pendirian di atas aqidah Laa ilaaha illallah. Batangnya tegak di atas aqidah, tabah dan tegar menghadapi problem dan masalah. Daunnya rimbun, indah, sejuk dan menyejukkan. Siapapun dekat dan berlindung di bawah naungan akhlak pribadinya akan merasakan anggun, aman dan nyaman. Memberi buah setiap musim tanpa diminta.  Dari pribadinya mengalir kebajikan dan keutamaan tiada henti sepanjang hayat di kandung badan. Inilah jati diri rijatul mu’minin yang dicelup oleh celupan Ramadhan yang diberkati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sami’na wa atha’na terhadap segala printah dan titah Allah (QS.An-Nur ;51). Tulus dan ikhlas mengabdi tanpa pamrih (QS.Al Bayyinah ;5). Menempatkan sekala prioritas Allah, Rasul dan jihad diatas segalanya (QS.At Taubah ;24). Hidup terpimpin, taat, tertib dan disiplin dalam satu kepemimpinan yang mengikuti pola kenabian (QS.Al-Maidah 55-56 /An-Nisa ;59)

    Bisakah kita mendapatkan fadhilah Ramadhan pada tahun ini? Tergantung bagaimana kita memanfaatkan moment penting bulan mulia dan suci yang penuh barokah ini.

    Wallahu A’lam bis Shawwab.

  • Rabu, 22 Januari 2014

  • Bencana dan Ulah Manusia

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:  "Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu`aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.
    Ilustrasi Bencana Banjir

    Maka mereka mendustakan Syu`aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (QS. Al-'Ankabut [29] : 36-37).

    Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, melalui Ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi dan Rasul-Nya yaitu Syu’aib Alaihissalam, bahwa ia telah memperingatkan kaumnya, para penduduk Madyan. Nabi Syu’aib memerintahkan kaumnya agar beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, juga agar mereka takut akan adzab, siksaan dan hukuman Allah pada hari Kiamat. Ia berseru, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir,” [36] maksudnya, takutlah kepada hari Akhirat. Ini serupa dengan firman Allah Ta’ala,

    “…(Yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian…”(QS. Al-Mumtahanah: 6)

    Lalu ia mencegah mereka dari berbuat kerusakan di muka bumi, yaitu, berjalan di muka bumi dengan berbuat jahat kepada penghuninya, mereka telah mengurangi takaran dan timbangan, juga merampok orang-orang yang mengadakan perjalanan, ini disertai dengan pengingkaran mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya. Maka Allah membinasakan mereka dengan mendatangkan gempa dahsyat yang mengguncang negeri mereka, suara keras yang mengeluarkan jantung-jantung dari pangkal tenggorokan, dan adzab pada hari mereka dinaungi awan yang mencabut ruh-ruh dari tempatnya, sesungguhnya adzab itu adalah adzab hari yang besar.

    Dan firman Allah Ta’ala, “Lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka,” [37] Qatadah mengatakan, ”Maksudnya menjadi mayat-mayat.” Sedangkan yang lainnya mengatakan, ”Maksudnya saling bergelimpangan satu sama lain.”

    Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia jika sudah berpaling dari syariat yang dibawa para Nabi dengan melakukan kedurhakaan, tidak lagi menyembah Allah atau telah menjadikan sekutu-sekutu (musyrik) terhadap Allah, dengan mengadakan kebaktian dan memuja selain Allah, kemudian melakukan kedzaliman dan kerusakan di muka bumi, pencemaran alam, moralitas dan aklaq yang rusak serta tidak mengindahkan norma-norma syariat Islam, maka Allah menurunkan berbagai macam bencana. Banjir bandang, gunung meletus tanah longsor dan berbagai bencana yang kini tengah menimpa negeri Indonesia merupakan teguran keras dari Allah SWT sekaligus salah satu bukti kebenaran firman Allah tersebut.

    Di ayat lain Allah berfirman:

    "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf (7) : 96)

    Hendaknya kita semua introspeksi diri, negeri yang kita cintai ini bertubi-tubi ditimpa berbagai musibah, musim panasnya menyebabkan kekeringan dan musim hujannya membuat banjir di mana-mana seperti yang terjadi kini.

    Mungkin ini karena ulah MANUSIA, karena kita kurang bersyukur dan mulai bergeser pada pola-pola pemikiran sekuler, liberal dan materialistis yang mengabaikan aqidah dan norma-norma syari'at Agama.

    Hal ini pula ditandai oleh berkembangnya berbagai macam bentuk kemusyrikan, baik kemusyrikan lama maupun neopaganisme yang memberhalakan materi dan pemikiran. Berhala modern ada dimana-mana dan setiap waktu, (acara tv yang tayang pada waktu-waktu sholat) telah melalaikan kita.

    Dorongan hidup didominasi oleh naluri biologis dan menepiskan hati nurani, berkiblat pada falsafah hedonisme, fokus dan tujuan hidup hanya pada kesenangan sesaat, muncul berbagai bentuk kemaksiyatan, korupsi, kolusi, penindasan dan kedurhakaan. Kebohongan seolah-olah menjadi suatu keharusan dalam memenangkan kompetisi hidup yang nampak jor-joran tanpa menimbang halal dan haram.

    Maka ketika bencana menimpa umat manusia, menjadi sangat tergantung pada manusia sendiri dalam mensikapi bencana tersebut :

    1. Terhadap orang-orang yang jernih hatinya, beriman dan beramal saleh, jika musibah menimpa dirinya kemudian ia meninggal dunia, baginya adalah rahmat, karena musibah yang menimpanya menjadi sebab diampuni segala dosa dan mempercepat jalan pintas masuk ke dalam sorga sebagai syuhada.

    2. Terhadap orang-orang yang lalai dan lupa kepada Allah, menjadi suatu tadzkirah (peringatan) agar mereka kembali kepada jalan yang benar (taubat) dan menjadi kafarat bagi dosa dan kelalaiannya.

    3. Terhadap orang yang tidak beriman, dzalim dan durhaka, bencana menjadi persekot ADZAB sebelum mereka di adzab di dalam kubur dan hari akhirat nanti.

    4. Terhadap orang-orang yang tidak terkena bencana secara langsung, hal ini menjadi satu pelajaran yang amat berharga dan sekaligus merupakan ujian dan tes kwalitas diri, benarkah dirinya manusia yang memiliki nurani (iman) atau sebaliknya, hatinya telah beku membatu dan nuraninya telah mati. Sehingga bencana itu tidak mampu mengusik hatinya untuk sadar dan bertaubat kepada jalan yang benar, menjadi hamba Allah yang beriman.

    Takhtim

    Dan bencana yang lebih besar dari itu semua adalah runtuhnya Kekhilafahan Islam di tubuh muslimin. Hilangnya kehidupan berjamaah telah mengakibatkan kekuatan umat Islam di Dunia lemah, terpecah belah, mudah diadu domba oleh Yahudi dan Nasrani. Sehingga kerusakan terjadi di mana-mana. Pertikaian antar muslim, mudahnya menumpahkan darah saudaranya seiman telah menyebabkan kemurkaan Allah turun.

    Untuk itu, terhadap berbagai musibah yang tengah terjadi sepatunya kita semua introspeksi diri dan kembali kepada Islam seutuhnya, hidup dan berjuang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengannya semoga musibah yang terjadi Allah ganti dengan keberkahan dan kebahagiaan sebagaimana yang telah di janjikan-Nya dalam QS. Al-A’raf :96.

    Wallahu A’lam bis Shawwab.

  • Kamis, 07 November 2013

  • Pelajaran dari Hijrah Rasulullah SAW.

    Hijrah bukan sekedar berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi dikemudian hari terbukti hijrah memiliki nilai stregis yang menandai berakhirnya masa pra Islam atau Jahiliyah. Hijrah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beserta umatnnya pada saat itu juga merupakan titik balik bagi kemenangan muslimin dan sekaligus babak baru dalam sejarah Islam.

    Perpindahan Nabi dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah saat itu banyak menyisakan hikmah yang tersembunyi. Selain sebagai upaya menyambung dan mempersatukan antara fase Mekah dan fase Madinah yang sifat da’wahnya berawal dari aspek teoritis idiologis menjadi praktik aplikatif, Hijrah juga mengambarkan pola perjuangan Rasulullah dalam membangun kemasyarakatan Islam yang sesuai dengan aturan Allah.

    Berikut stategi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika sampai di Madinah yang beliau lakukan dalam penataan dan pembangunan masyarakat Islam, antara lain;

    1. Membangun Masjid
    Bukan istana kerajaan, bukan pula benteng pertahanan militer yang beliau bangun, melainkan yang beliau bangun adalah masjid. Hal ini mengidentifikasikan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad saw., adalah misi kenabian bukan misi militerisme yang akan menjadi ancaman bagi non muslim dan bukan pula misi tahta kerajaan yang menjadi target perjuangannya. Beliau di utus tidak lain untuk menyampaikan wahyu Illahi agar manusia sujud dan beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan segala sesuatu pun dan menyempurnakan akhlaq manusia dengan akhlaqul karimah, menebarkan kasih sayang dan persaudaraan yang di bangun dalam satu sistem Jama’ah dan Imaamah sebuah komunitas atau masyarakat robbaniyah yang terbukti;

    • Beliau membawa dan menyampaikan agama yang bersumber dari Allah Rabbul’Alamin bukan ideology, bukan pula hasil renungan dan gagasan pemikiran beliau.
    • Bahwa masyarakat yang dibangun bukan masyarakat theokrasi, bukan pula demokrasi atau monarchi, tetapi masyarakat yang “theocentrisme humanisme” yaitu masyarakat yang dibangun diatas pondasi aqidah Laa Ilaha Illallah yang bersifat jama’i, sebuah komunitas muslim beroreintasi pada pengabdian kepada Allah (Ta’abud Ilallah), bersifat Al Insaniyah Al-Alamiyah (kemanusiaan yang universal)/Rahmatan Lil’alamin, tidak bersifat lokal, kedaerahan dan ashobiyah (kesukuan atau kebangsaan) tetapi untuk seluruh umat manusia, “asy-syumuliyah wat takamuliyah” lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan).

    Bukan pula sebuah gagasan pemikiran yang dituangkan dalam rumusan ideology politik, ekonomi, sosial dan budaya. Islam adalah wahyu ilaahi yang diturunkan sebagai hudan dan jalan hidup yang lengkap dan meliputi berbagai aspek (baca QS. Al-Maidah: 3) juga QS. Al-An’am115-116 yang artinya; “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.

    2. Membangun Ukhuwah Islamiyah
    Langkah selanjutnya Rasulullah membangun Ukhuwah Islamiyah, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Aus dan Hajrat yang sudah ratusan tahun mereka berseteru saling berperang, mensejajarkan antara tuan dan budak yang selama ini dianggap tabu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam ditegakkan atas dasar aqidah dan ukhuwah, kaljasadil wahid (satu tubuh) bukan dilatar belakangi oleh kepentingan pribadi, golongan, ekonomi maupun kepentingan politik kekuasaan.

    3. Tegakknya Shalat Al Maktubah Bil Jama’ah
    Sesudah hijrah di Madinah maka pelaksanaan salat lima waktu disempurnakan dan ditetapkan oleh Rasulullah saw dengan berjama’ah di masjid yang sangat ditekankan (sunah mu’akadah), selain ibadah mahdhoh, di sisi lain shalat berjama’ah adalah gambaran hidup atau miniatur bentuk kemasyarakatan Islam di luar masjid. Di dalam shalat berjama’ah disyaratkan adanya imam dan ma’mum, ini artinya bahwa muslimin adalah bukan umat individu-individu yang anarchis, tetapi dia adalah yang satu, selalu hidup terpimpin dan terorganisasi sebagai umat jama’ah dan imaamah yang terpimpin menurut kepemimpinan Allah dan RasulNya. Umat yang dinamika dan orientasinya hanya berpihak kepada Allah atau Hizbullah.

    Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 55-56)

    Ibrah yang bisa kita petik dari shalat berjamaah diantaranya:

    A. Imam menghadap ma’mum dan memberi aba-aba “sawwu shufufakum, tarasu wa’tadlu”, lurus rapat dan luruskan shaf. Hal ini mengandung arti dalam kehidupan muslimin diluar masjid harus senantiasa berada pada satu barisan yang lurus dan rapat dalam persaudaraan, saling bahu membahu, solid dan kompak dalam membangun peradaban manju dan santun. Demikian pula seorang imam/pemimpin sebelum mengambil keputusan harus melihat keadaan dan kemampuan umat yang dipimpinnya.

    Rasulullah juga pernah bersabda mengingatkan imam sholat agar meringankan bacaan sholatnya. Artinya kepemimpinna umat ini hendaknya berorientasi pada kepentingan, kesejahteraan dan keselamatan umat yang dipimpinnya sebagai ciri khas kepemimpinan Islam yang mengikuti jejak kenabian atau disebut Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah.

    B. Wa Idza Kabbara Fakabbiru (apabila imam bertakbir maka bertakbirlah). Gerakan dalam sholat menghendaki imam dan makmum seirama, tertib dan disiplin. Ini juga mengambarkan bagaimana semestinya umat Islam bersikap dan berprilaku. Umat senantiasa mentha’ati pemimpinnya ketika ia diamanati, dengan catatan perintahnnya tidak berlawanan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta selama seorang imam masih menta’ati Allah dan RasulNya.

    Ketertiban ini pula yang menjadi gambaran bagaimana mestinya umat Islam dalam bermasyarakat harus terpimpin, kompak dan bersatu dalam kesatuan yang sholid. Satu Jama’ah dan Imaamah.

    4. Mengadakan Perjanjian dengan Non Muslim

    Ini juga berarti bahwa Rasulullah saw telah memberi landasan berpijak bahwa umat Islam bisa hidup berdampingan dan bisa bekerjasama dengan siapapun sepanjang dilakukan demi kemaslahatandan bukan untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimanan fitman Allah dalam QS. Al-Mumtahanah: 7-9;

    “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

    “Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

    5. Sentral Dakwah Dan Penyiaran Islam

    Dari Madinatul Munawarah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengirim mujahid-mujahid dakwah ke segala pelosok negeri untuk mengajak manusia beriman dengan bijak dan pengajaran yang mulia. Disini pula Rasululla menerima kabilah-kabilah yang ingin berdialog dan mendalami masalah Islam. Sehingga Madinah menjadi sentral kegiatan dunia baru Islam, cahaya menerangi kegelapan jahiliyah lama maupun jahiliyah modern, sinarnya menembus segala penjuru dunia hingga saat ini.

    TAKHTIM

    Peristiwa hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memberilakan landasan tempat berpijak dan contoh teladan terbaik. System dan pola juang dalam membangun serta menata umat dalam Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah yakni pola kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian yang bersifat universal dan rahmatan lil alamin, bukan dilandasi pada pola ideologi pemikiran maupun filsafat barat maupun timur yang biasa bertumpu pada nafsu dan kepentingan. 

    Wallahu A’lam bis Shawwab.

    Disarikan dari buku “APLIKASI NILAI HIJRAH, DALAM PENATAAN UMMAT” 

  • Rabu, 18 September 2013

  • Mari Hidup Berjama’ah

    Kita adalah satu umat yang di pundak kita ada tanggungjawab membela dinul Islam yaitu aturan hidup dan kehidupan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang bisa memberi solusi terhadap krisis yang sedang terjadi, mewarnai peradaban agar bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin.

    Karena tidak bisa dipungkiri, secara kuantitas umat Islam ini banyak, namun kondisi umat Islam masih menjadi objek penderita. Mereka memiliki berbagai potensi, namun mereka masih saja tetap tertindas. Tidak terkecuali permasalahan Masjid Al-Aqsa Al-Mubarak yang terus menjadi bulan-bulanan Zionis Yahudi Isarel, yang tetap harus menjadi perhatian kita.

    Jumlah umat Islam mencapai hingga angka satu milyar bahkan lebih, namun mereka tidak berdaya, sekedar mengembalikan hak miliknya itu masih saja belum mampu dan tak berdaya. Inilah saatnya muslimin insyaf dan sadar, sudah waktunya kita bangkit, di atas aqidah kita bangun ukhuwah sehingga kita menjadi umat yang satu, kompak dan kuat, bisa menjadi obat terhadap peradaban yang sedang sekarat dan mampu mengembalikan Qiblat pertama yakni Masjidil Al-Aqsa.

    Islam adalah agama yang semestinya mampu memberikan kontribusi positif terhadap krisis peradaban. Islam adalah syariah yang bisa membawa arah dan corak kehidupan yang rahmatan lil ‘alamin. Tetapi kenyataannya umat Islam masih terus-menerus ditimpa kerendahan dan kehinaan. Tentu saja ada yang tidak pas pada kita dalam melaksanakannya.

    Sebenarnya kita mempunyai aqidah dan qaidah hidup dengan prinsip-prinsip yang jelas. Islam adalah manhaj al-hayah yang diturunkan Allah untuk seluruh umat dan segala bangsa, syariah lengkap dan sempurna mencakup segala aspek kehidupan, baik aqidah, ubudiyah maupun ijtimaiyyah. Dalam hal ini Allah memerintahkan agar kita melaksanakan Islam secara kaffah (keseluruhan) tidak sepotong sepotong. Sebagaimana Kalam-Nya:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
     “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 208)

    Berjama’ah, Inti Syariat Islam
    Satu hal yang sangat prinsipil dan merupakan pilar tegaknya Islam telah lama ditinggalkan yang menjadi sebab hilang sibghah dan wijhah (warna dan arah) yaitu system dan pola hidup berjamaah dan berimamah. Allah berkalam dalam Al-Qur’an:
    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
    "Dan berpegang teguhlah (kamu sekalian) pada tali (agama) Allah seraya berjama'ah dan janganlah bercerai berai," (QS. Ali Imron [3] : 103).

    Sayid Quthb saat menafsirkan ayat ini mengatakan, ada 2 (dua) kekuatan dan ciri umat Islam yang terkandung di dalam ayat 103 surat Ali Imron ini. Pertama, keimanan. Kedua, Persatuan dan ukhuwwah. Jika satu diantara kedua sifat itu tidak ada, maka tidak ada gunanya umat ini. Dalam Firman Allah yang lain,
    شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
    “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syuura [42]: 13)

    Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa ad-dien (agama) yang di syariatkan untuk manusia yang dibawa oleh para Rasul hanyalah satu, yaitu Islam. Jarak antara Nabi Nuh ‘Alaihi Salam dan Nabi Muhammad Shalallahu Alahi wa Sallam sekitar 8000 tahun, namun inti ajaran yang di syariatkan kepada keduanya adalah sama yaitu agar menegakkan agama (Islam) dan tidak berpecah belah di dalamnya.

    Islam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persatuan, persaudaraan dan saling menolong serta mengecam perpecahan dan perselisihan. Hal ini banyak ditekankan di dalam Al-Qur’an antara lain: QS. Ali-Imran: 103, Al-An’am: 65 dan 159, dan QS. Ar-Ruum: 31-32.

    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menyampaikan bahwa umat Islam akan selamat dari kesesatan dan satu-satunya jalan menuju kejayaan hanya dengan bersatu dalam satu kepemimpinan (Al-Jama’ah). Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpun ummatku atau ummat Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam atas kesesatan. Tanggan Allah bersama Al-Jama’ah, barangsiapa menyempal maka dia menyempal ke neraka.” (HR. At-Tirmidzi)

    Kuat Dengan Berjama’ah
    Umat Islam berjumlah besar dan tersebar dimana-mana tapi jika aqidah dan keimanannya rapuh atau cacat maka mereka tidak akan sanggup menghadang setiap kebatilan dan kedurhakaan. Sementara, jika umat ini tidak bersatu, berpecah belah serta retak kekuatan persaudaraan dan robek untaian ukhuwwahnya, maka mereka tak akan maksimal menghadapi musuh-musuh Allah yang semakin durhaka dan kufur kepada syari'at Islam.

    Selama umat Islam di seluruh dunia tidak merupakan umat jama’ah dan imamah, selama itu pula mereka hanya menjadi objek penderita permainan orang, mutunya lenyap, nilainya enteng, harga dirinya rendah, pribadinya murah!

    Rasulullah Shallallahu ?laihi wasallam pun menegaskan, “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk, gigitlah di atasnya dengan gigi geraham. Dan Al-Jamaah itu adalah rahmat serta firqoh itu adalah siksa. ” (Al-Hadits).

    Aqidah yang kuat dan qaidah Islam yang benar pasti akan melahirkan pola hidup berjamaah dan berimaamah. Itulah pola dan fitrah kita sebagai muslim, teladan sunnah dan pola nubuwwah. Sistem dan pola yang telah ditempuh dan dijalankan oleh para Anbiya dan Auliya.

    Kaum anti Islam selalu berusaha sejak dahulu agar umat Islam tidak bersatu, dengan segala daya dan dana agar umat Islam tidak mewujudkan kesatuan jamaah dan kesatuan imaamah.

    Perjuangan besar untuk mengamalkan kembali Jama’ah dan imaamah ini, hanya bisa terlaksana dengan kekuatan bersama, kekuatan aqidah untuk berjuang menyongsong masa depan umat yang gemilang dan cemerlang. Hanya dengan mengikhlaskan niat dan tekad serta semangat berjuang, mari kita bergerak maju dengan langkah yang sama, satu aqidah dan satu qaidah dengan satu jama’ah dan imamah kita tegakkan bersama kalimah Allah di muka bumi ini. Sebab hanya dengan penerapan wahyu Allah Ta’ala bumi dan kehidupan ini akan menjadi barokah. Allah berkalam:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.Al-A’raf [7]: 96).

    Mari dengan aqidah dan semangat ukhuwwah, kita selesaikan bersama berbagai problema dan masalah umat ini. Mari kita akhiri hidup berpecah-belah dan berfirqoh-firqoh, kita sudahi hidup tanazu’ dan tafarruq karena akan menjadikan kita menjadi lemah, hina dan tak berdaya.

    Mari kita satukan barisan, luruskan shaf. Dengan Al-Qur’an kita buktikan bahwa Islam mampu memberi jawaban dan solusi terhadap krisis peradaban yang sedang melanda umat manusia di abad ini.
    Wallahu a’lam bishshowwab

  • Kamis, 04 Juli 2013

  • Shaum dan Kepribadian Manusia


    Tidak terasa, sesaat lagi Ramadhan mubarrak kita temui, insyallah. Sebagai seorang muslim moment ini tentu sangat di tunggu-tunggu, bulan dimana berkah, rahmat dan ampunan Allah turun padanya. Untuk itu penting rasanya bagi kita untuk memahami makna shaum ini sebagai upaya membangun kepribadian individu maupun sosial menjadi manusia bertaqwa.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum (berpuasa) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

    Penjelasan ayat tersebut pada kalimat “telah diwajibkan atas kamu berpuasa” tidak menggunakan kata furida atau wujiba, tetapi menggunakan kata kutiba dalam arti an naqsyu ‘ala al hajarah. mengukir di atas batu. Dengan kalimat tersebut dimaksud agar shaum benar-benar membekas dalam jiwa yang pengaruhnya mampu mengukir karakter atau kepribadian orang yang berpuasa.

    Shaum juga berarti al imsaaku artinya menahan diri atau pengendalian diri dari perkara yang tidak terpuji. Orang yang berpuasa adalah orang yang terlatih dalam hal pengendalian diri, matang dalam berpikir bijak dan hati-hati dalam bertindak, tidak ‘grasa-grusu’.

    Kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum seperti yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, artinya puasa tidak bisa lepas dari manusia. Baik manusia dulu maupun manusia sekarang bahkan manusia akan datang. Jika ingin tetap eksis mempertahankan dirinya dan terangkat martabatnya sebagai manusia yang mulia di sisi Allah, maka harus menjalani prosesi kematangan diri yang disebut shaum atau puasa.

    La’allakum tattaqun agar kamu bertaqwa, artinya shaum atau puasa yang benar akan melahirkan manusia taqwa, suatu kedudukan derajat tertinggi bagi manusia di sisi Allah. Sebaliknya, shaum yang hanya dilakukan secara tradisi, sekedar menggugurkan kewajiban dengan menahan diri dari tidak makan dan tidak minum pada siang hari, tetapi tidak mengindahkan kaifiyatus shaum dengan benar maka shaumnya sia-sia. Dan itu yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sayang sekali jika shaum yang kita lakukan setiap tahun menahan lapar dan dahaga di siang hari, ngantuk karena kurang tidur di malam hari, lelah dan capek satu bulan lamanya kalau hanya terjebak pada ritual tanpa makna. Ceremonial tanpa mendapatkan hikmah dan arti apa-apa.

    Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah dan Ath Tabrani dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi hasil yang diperoleh dari puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Dan berapa banyak dari orang yang shalat malam tetapi hasil yang diperoleh hanya berjaga malam saja.”

    Adapun definisi shaum menurut para Ulama Syara’ tidak lain sebagai berikut : ”Shaum yaitu menahan diri dari makan, minum dan menggauli istri, dari waktu fajar hingga maghrib, karena menghadap akan Allah (ikhlas hanya karena Allah semata-mata) dan untuk mempersiapkan diri menjadi orang yang bertaqwa kepada Nya. Dengan jalan memperhatikan Allah dan mendidik kehendak.”(Tafsir Al Manar 11 : 157)

    Dengan definisi shaum tersebut diatas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan antara lain:

    1. Shaum tidak hanya menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan Shaum. Tetapi lebih jauh dari itu shaum harus dilakukan karena Allah dan hanya dipersembahkan hanya kepada Allah dengan mengharap keridhoan-Nya semata-mata.
    2. Melatih jiwa raga dengan shaum agar menjadi orang yang bertaqwa dengan cara mendekatkan diri dan memperhatikan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sebagai seorang hamba dihadapan Sang Pencipta Allah Rabbul Jalali wal ikram, yang telah memelihara serta menjamin semua keperluan hidup kita.
    3. Mendidik kehendak yang selalu bergolak mengikuti irama selera yang tak ada habis-habisnya, memilih mana yang yang harus diikuti dan mana yang harus di tinggalkan. Sehingga keluar dari bulan Ramadhan pribadi-pribadi yang matang secara emosional dan spiritual.


    ADABIYAH SHAUM

    Untuk melakukan shaum yang berkualitas, perlu memperhatikan adabiyah shaum antara lain sebagai berikut :
    Pertama, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak shaum, seperti mengumpat, menggunjing, mencela, memaki, dan sebagainya.

    Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan, ’zur’ (dusta, umpat, fitnah, dan perkataan yang menimbulkan murka Allah, permusuhan) dan tidak meninggalkan pekerjaan itu serta sikap jahil, maka tak ada hajat bagi Allah ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

    Kedua, tidak rakus dengan memperbanyak berbagai macam makanan dan minuman dikala berbuka dan bersahur.

    Ketiga, tidak banyak tidur di siang hari, tetap tetap beraktivitas dan meningkatkan ibadah dan amal sholeh.

    Keempat, menahan hati dan pikiran dari angan-angan dan keinginan-keinginan yang rendah apalagi tidak terpuji.

    Kelima, mentafakuri dahsyatnya lapar dan dahaga serta sengsaranya hari kiamat yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.

    Keenam, menumbuhkan kepekaan iman,ketajaman penglihatan mata hati, dan rasa harap-harap cemas apakah shaum kita diterima atau ditolak.

    ATSAARUS SHIYAM (Pengaruh Puasa)

    Jika puasa kita lakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah maka puasa akan berpengaruh dan memberi sibghah terhadap karakter dan mampu mewarnai sikap dan prilaku :

    Pertama : Dengan Imanan wahtisaban menciptakan iklim kondusif bagi hubungan seorang hamba kepada Allah dan hubungan sosial yang harmonis. Dan ini menjadi sumber segala keutamaan dan kemaslahatan. Keikhlasan dan kejujuran hanya muncul bila seseorang mampu menghubungkan jiwanya kepada Allah sehingga dimanapun dia selalu merasa dikontrol, diawasi Allah SWT.

    Karena itulah puasa sarat akan makna yang berdimensi nilai spiritual dan sosial yang sangat tinggi, mulia, dan suci. Al-Quran menyebut sebagai Hablum minallah wahablum minannas. Dengan dua hal tersebut manusia terangkat harkat dan martabat diri dan terjaga dari kehinaan dimata Allah SWT.(QS.Ali Imran ;112)

    Kedua : Puasa dengan karakternya akan menyentuh relung hait nurani, menggugah rasa cinta kasih terhadap sesama dan membangkitkan ketulusan jiwa yang melahirkan sikap itsariyah atau altruisme yaitu sikap tenggang rasa, kepekaan Sosial dalam kebersamaan serta rela berkorban untuk perduli dan kebahagiaan orang lain dengan simpati dan empati. Dan hebatnya lagi dilakukan atas dasar mahabbah lillahi ta’ala tanpa pamrih. Maka bisa kita saksikan betapa rahimnya para shaimin dan shaimah di bulan Ramadhan. Bertebaran shadaqah di mana-mana, Ibu-ibu dengan wajah sumringah menyediakan ta’jil makanan untuk buka bersama. Anak-anak yatim piatu, fakir miskin bisa sejenak melepas derita dan terhibur.

    Ketiga : Puasa menurut penelitian para psikolog dan kenyataan membuktikan mampu mengembangkan superego (nafsul muthmainnah). Kematangan emosional dan pengendalian diri dalam segala keadaan baik senang maupun susah, lapang maupun sempit tetap stabil. Tidak meledak-ledak seperti petasan atau merajuk-rajuk gelap mata dalam keputus asaan dari rahmat Allah. Dan kematangan superego atau nafsul muthmainnah ini menjadi produk puasa yang mampu mengikis emosional yang destruktif, egoisme, dan arogan.

    Keempat : Puasa yang benar dengan segala adabiyahnya akan memberikan terapi terhadap berbagai macam penyakit Sosial. Seperti akibat buruk dari falsafah sekuler, liberalisme, hedonisme, eksistensialisme dari barat yang di ekspor ke berbagai Negara muslim termasuk Indonesia sehingga umat Islam meninggalkan syareat agamanya dan cendrung menjadi penganut mereka yang permissire soecity, masyarakat bebas nilai, jor-joran semau ‘gue.’

    Akibatnya korupsi, manipulasi, prostitusi, aborsi, mutilasi, dan ekstasi merajalela di negeri yang notabene berpenduduk muslim ini. Ini semua adalah produk dari manusia yang jiwanya sakit, nuraninya mati, karena kufur kepada Allah. Banyak orang pintar keblinger, banyak orang kaya harta miskin jiwa, banyak orang berpangkat tinggi tetapi martabatnya rendah. Banyak orang pandai bersolek mempercantik diri menjadi tampan dan cantik tapi hatinya busuk dan keji. Naudzubillahi mindzalik.

    Upaya memperbaiki keadaan seperti itu, harus diperbaiki manusianya. Manusia hanya bisa diperbaiki dengan konsep dan cara-cara yang datang dari yang menciptakan manusia yaitu Allah SWT. Allah telah menegaskan bahwa manusia yang hidup itu punya jiwa, nafsu dan syahwat. Sedang nafsu dan syahwat itu hanya bisa dikendalikan oleh shaum atau puasa bukan dengan yang lain.

    KESIMPULAN

    Shaum atau puasa adalah ibadah khusus yang berdimensi spiritual dengan ibdatur sirri mampu menciptakan iklim kondusif bagi tumbuhnya iman dan ihsan yang menjadi inti dan sumber segala kebajikan dan keutamaan manusia. Dengan shaum diharapkan mampu menciptakan individu bertaqwa yang memiliki kepribadian luhur. Sehingga shaum melahirkan ketaatan terhadap segala perintah Allah (QS.An-Nur ;51). Tulus dan ikhlas mengabdi tanpa pamrih (QS.Al Bayyinah ;5). Menempatkan sekala prioritas Allah, Rasul dan jihad diatas segalanya (QS.At Taubah ;24). Hidup terpimpin, taat, tertib dan disiplin dalam satu kepemimpinan yang mengikuti pola kenabian (QS.Al-Maidah 55-56 /An-Nisa ;59)

    Wallahu a’lam bishshawaab

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism