Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Tampilkan postingan dengan label Imamul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imamul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2016

  • Karakteristik Umat Islam

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan0 dalam Taurat dan Injil, yaitu seerti benih yang mengeluarkan tunasnya kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath : 29)

    Melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam adalah benar-benar utusan Allah. Pernyataain ini mencakup semua sifat baik yang terdapt pada pribadi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

    Selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan karakter orang mukmin yang mengikuti beliau adalah sebagai berikut:

    Pertama, Keras terhadap orang kafir.
    Kata “kuffar” sebagai salah satu bentuk jama’ kata “kafir” memberi kesan kemantapan dan berulang-ulangnya kekufuran sehingga melebihi sikap kafirin. Sikap keras berarti bukan menganiyaya, menyakiti dan memerangi mereka. Sikap keras dapat tercermin dalam sikap tidak kompromi apabila mengakibatkan terabaikannya prinsip agama. Dngan demikian sikap keras terhadap orang kafir tidak ditujukan kepada semua orang kafir tetapi hanya terhadap orang kafir yang memusuhi kaum muslimin.

    Terhadap orang kafir yang tidak memusuhi kaum muslimin, seluruh kaum muslimin tidak dilarang berbuat baik kepada mereka, sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

    “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Mumtahanah: 8)

    Terhadap orang kafir yang memerangi orang yang beriman dan mengusir mereka inilah sikap keras harus ditampakkan, sebagaimana firman Allah:

    “Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap keras darimu dan ketahuilah bahwa allah bersama orang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 123)

    Kedua, Berkasih sayang sesama muslim
    Allah Subahanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa mereka adalah “berkasih sayang sesama mereka”. Pada ayat lain disebutkan:

    “...bersikap lemah lembut kepada orang mukmin dan keras kepada orang kafir...” (QS. Al-Maidah: 54)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Orang mukmin itu laksana satu bangunan yang sebagian menguatkan yang lain. Lalu beliu mempertautkan jari-jari tangannya.” (HR. Bukhari)

    Inilah sikap orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, mereka bersatu, saling menguatkan, saling mencintai, ringan sama dijinjing berat sama di pikul, tidak saling menghina dan tidak mengecewakan.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Cukup kejahatan seseorang dengan menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

    Ketiga, Ruku’ dan Sujud mencari karunia Allah
    Kata “rukkaan” dan “Sujjadan” adalah “shighoh mubhalaghah” artinya bentuk “penyangatan” dari “raaki” dan “saajid”. Jadi orang yang mengikuti beliau adalah orang yang banyak melakukan ruku’, sujud, dan shalat dengan khusyu’, tidak ada yang mereka harapkan kecuali karunia dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dalam suatu hadits disebutkan keutamaan banyak sujud artinya banyak melaksanakan shalat, sebagaimana berikut, “Dari Rabi’ah bin Malik Al-Aslami Ra. Berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Mintalah”. Aku berkata, “Aku minta kepada engkau untuk dapat berdampingan dengan engkau di surga.” Beliau bersabda, “Ada selain itu?” Saya menjawab, “Itu saja”. Beliau bersabda, “Bantulah saya untuk mendoakan dirimu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

    Menurut Ibnu Katsir memperbanyak shalat berarti juga memperbanyak amal karena shalat adalah sebaik-baik amal. Seseorang yang banyak shalatnya maka banyak amalnya. Dalam beramal mereka tidak mencari popularitas atau tujuan duniawi tetapi semata-mata mencari ridho Allah Subahanhu wa Ta’ala. Inilah puncak tujuan hidup mereka.

    Keempat, Pada wajah mereka tampak bekas sujud
    Wajah mereka bersinar yang memancarkan kejernihan hati. Umar bin khattab ra. Berkata, “Barangsiapa yang jernih batinya, Allah memperbaiki penampilan lahirnya.”

    Imam As Su’di berkata, “Shalat itu mebuat wajah mereka cerah.”

    Ulama yang lain berkata, “sesungguhnya amal yang baik itu menimbulkan cahaya dalam hati, sinar pada wajah, kelausan rezeki dan rasa cinta di hati sesama manusia.”

    Menurut ibnu Abbas ra. Yang dimaksud dengan “tanda mereka” adalah prilaku baik. Sedang Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “tanda mereka” adalah kekhusyukan.

    Jadi bekas sujud ini tidak ada hubungannya dengan bekas hitam pada dahi sebagian orang karena sujud. Dari Salim Abu Nadhr diriwayatkan, ada seseorang yang datang menemui Abdullah bin Umar ra, lalu Ibnu Umar ra bertanya, “Siapakah anda?” “Aku adalah anak asuhmu,” jawab orang tersebut. Ibnu Umar ra, melihat bekas sujud berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu?” “Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau liaht ada bekas tersebut pada dahiku?” (HR. Baihaqi).

    Kelima, Terus mengalami perkembangan
    Orang-orang bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada mulanya berjumlah sedikit kemudian bertambah banyak dan kuat. Perkembangan umat Islam ini telah di gambarkan dalam Kita Taurat dan Kitab Injil bahwa umat Islam awalnya hanya tumbuh seperti tunas keci saja. Namun tunas ini tumbuh dengan subur, kian lama kian besar dan teguh di atas rumpunya, sukar dicabut dan dimatikan. Sampai orang yang menanam sendiri pun tercengang melihat pertumbuhan dan perkembagnan yang sangat cepat itu, sebab dia tidak menyangka akan secepat itu.

    Penggambaran perkembangan pengikut Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pohon mengandung beberapa fenomena penting antara lain:

    A. Perkembangan umat Islam bukan sebuah kebetulan tetapi berdasar pada kekuasaan dan perencanaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai “penanamnya”. Adapun usaha yang dilakukan oleh manusia tidak lain hanyalah merupakan syariat yang mendorong terjadinya perkembangan tersebut.

    B. Apabila umat Islam mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya maka akan kuat bagaikan sebuah pohon yang asalnya kecil kemudian menjadi besar dan tegak di atas batangnya sehingga sulid dicabut dan ditebang oleh orang yang tidak menyenanginya.

    C. Perkembangan umat Islam akan mengayomi dan memberi manfaat kepada siapa saja. Bagaikan pohon rindang yang akan memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya. Apabila pohon tersebut berbuah maka buahnya juga akan dinikmati oleh siapa saja yang memetiknya.

    Perkembagan umat Islam ini akan membuat murka orang kafir. Tetapi orang kafir tidak akan dapat menghentikan perkembangan umat Islam selama muslimin konsisten dengan tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya.

    “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff:8)

    Akhirnya pada ujung ayat ini QS. Al-Fath: 29, Allah Subahanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ia berjanji kepada orang yang beriman dan beramal shalih untuk memberi ampunan dan pahala yang besar.

    Sebagaian ahli tafsir menyatakan bahwa karakter di atas hanya ada pada sahabat yang hidup bersama beliau. Tetapi jumhur ahli tafsir menyatakan bahwa sikap di atas terdapat pada semua umat Islam yang mengikuti langkah para sahabat beliau.

    Semoga kita semua termasuk umatnya yang senantiasa mengikuti langkah beliau dan para sahabatnya, yang selalu hidup terpimpin, bersatu dalam Al-Jama’ah dan tidak senang dengan hidup bergolong-golongan. Selalu menebarkan kasih sayang sesama muslim, tidak melecehkannya dan keras terhadap orang-orang kuffar.

    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, “(Al-Jamaah) ialah siapa yang seperti aku hari ini dan para sahabatku”. (HR. Turmizi)

    Waallahu ‘Alam Bish ShowabNasehat Imamul Musimin, Yakhsyallah Mansur

  • Kamis, 15 September 2016

  • Fungsi Zakat dalam Menyejahterakan Umat (bagian 1)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7)

    Surat Fushilat adalah rangkaian kedua dari tujuh surat yang dinamai Surat Hawamim yaitu surat-surat yang dimulai dengan Fawatihus Suwar Haa-Miim: 1. Al-Mu’min (Ghafir), 2. Fushilat, 3. Asy-Syura, 4. Az-Zukhruf, 5. Ad-Dukhan, 6. Al-Jatsiyah, 7. Al-Ahqaf.

    Al-Qurthuby meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hawamin adalah perhiasan Al-Qur’an”

    Abdullah bin Abbas berkata: “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki inti dan sesungguhnya inti Al-Qur’an adalah “alu hamim”.”

    Pada dua ayat di atas mengancam orang-orang yang tidak membayar zakat dengan kata wail yang artinya “kebinasaan” dan “kesengsaraan” yang menimpa akibat pelanggaran dan kedurhakaan. Ada juga ulama yang mengartikannya sebagai lembah di dasar Neraka Jahannam. Ada juga yang memahaminya dalam arti ancaman kecelakaan tanpa menetapkan waktu dan tempatnya. Ini berarti bahwa kecelakaan itu dapat menimpa pendurhaka di dunia atau di akhirat.

    Dengan demikian, dua ayat di atas merupakan ancaman bagi orang yang tidak membayar zakat bahwa mereka akan mendapat kesengsaraan di dunia dan di akhirat dan mereka dikategorikan sebagai orang musyrik. Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi korelasi antara orang yang tidak mau membayar zakat dan orang musyrik karena mereka sama, tidak memercayai adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Ketika menafsirkan ayat ini beliau mengambil kesimpulan:

    “Kehancuran dan kerusakan bagi orang yang menyekutukan Tuhannya dan tidak membersihkan jiwanya dari noda-noda kehinaan yang penyebab utamanya adalah kebakhilan terhadap harta dan membiarkan fakir miskin lapar serta mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan.”

    Para ulama berbeda pendapat tentang makna zakat pada ayat ini. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud zakat pada ayat ini adalah zakat harta. As-Suddy mengatakan, yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala -yang artinya-: “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7), yaitu orang yang tidak menunaikan zakat hartanya.

    Pendapat ini juga diikuti oleh Qotadah dan Ibnu Jarir. Sebagian ulama berpendapat, yang dimaksud zakat pada ayat ini adalah kesucian jiwa dari akhlak yang tercela dan yang terpenting adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan karena zakat harta baru disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah sedang kedua ayat di atas adalah Makiyyah (ayat yang turun sebelum hijrah).

    Pengertian zakat seperti ini semakna dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

    “Maka katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan).” (Qs. An-Nazi’at [79]: 18)

    Demikianlah menurut pendapat Ikrimah, Ali bin Abu Thalhah dalam riwayat yang berasal dari Abdullah bin Abbas.

    Ada juga pendapat yang mengompromikan dua pendapat di atas, benar bahwa ayat di atas adalah Makiyyah tetapi tidak mustahil bila hukum asal zakat telah disyariatkan di Makkah sedang mengenai nisab dan takarannya baru ditetapkan di Madinah.

    HIKMAH ZAKAT
    Terlepas dari perbedaan pandangan para ulama tentang pengertian zakat pada ayat ini, yang jelas zakat memiliki hikmah yang penting dalam syariat Islam, antara lain sebagai berikut.

    Pertama, Berzakat Merupakan Wujud dari Keimanan kepada Allah akan Kebenaran Ajaran-Nya

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Jika mereka bertaubat, mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (Qs. At-Taubah [9]: 11)

    Kedua, Zakat Membersihkan, Menyucikan dan Menenteramkan Jiwa Orang yang Melakukannya

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. At-Taubah [9]: 103)

    Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “berdoa” pada ayat ini adalah mendoakan agar orang yang berzakat mendapat kebaikan dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Ketiga, Zakat akan Menambah dan Mengembangkan Harta

    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang bersedekah dengan suatu sedekah dari hasil usaha yang halal dan baik, sedang Allah tidak menerima kecuali yang baik. Melainkan sedekah itu disambut oleh Allah Yang Maha Pengasih dengan Tangan Kanan-Nya walaupun hanya sebiji kurma maka ia akan tumbuh berkembang di Telapak Tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga akan lebih besar dari sebuah gunung sebagaimana seseorang kalian menernakkan anak kudanya atau anak untanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Keempat, Zakat Mendorong Umat Islam Bekerja Keras

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...” (Qs. At-Taubah [9]: 105)

    Setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyari’atkan zakat (Qs. At-Taubah [9]: 103), pada ayat ini Allah memerintahkan umat Islam untuk bekerja. Ayat ini mengisyaratkan agar umat Islam bekerja keras sehingga dapat mengeluarkan hasil sehingga mereka dapat menunaikan zakat.

    Wallahu a’lam bishshowwab Nasehat Imamul Muslimin Ust. Yaksyallah Mansur.

  • Kamis, 21 Juli 2016

  • Dengan Semangat Ied, Atasi Problema Umat

    Ramadhan dan Idul Fitri telah berlalu, namun amalan Ramadhan seperti shaumnya, sholat tarawih dan tahajutnya, baca al-qur’anya, zakat, infaq dan shodaqohnya hendaknya semakin di tingkatkan untuk bekal di sebelas bulan kedepan, sebagaimana makna dari bulan Syawwal, bulan peningkatan, hendaknya semakin hari semakin membaik amalan kita.

    Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitrah berarti kesucian.

    Fitrah adalah gabungan dari tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti, “kembali ke kesuciannya”, akan selalu berbuat benar, baik dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi baik apa yang terjadi pada dirinya dan berhusnudzan kepada Allah bahwa apa yang ditetapkan untuk dirinya adalah yang terbaik bagi dirinya, karena dia yakin akan besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:

    Kesulitan Menuju Kemenangan
    Hari ini sebagian kaum muslimin hidup dalam derita dan krisis. Di samping krisis dalam negeri berupa makin merosotnya akhlaq, belum stabilnya kondisi ekonomi, dan bencana alam yang terus mendera bumi tercinta ini, dunia Islam kini tengah menderita oleh berbagai luka, seperti yang terjadi baru-baru ini di Turki, Prancis, juga Syria, Iraq, Afghanistan, Burma, Palestina dan sebagainya.

    Menghadapi kondisi kaum muslimin seperti ini bagi orang yang berjiwa fitri tidak akan mengeluh apalagi putus asa. Mereka akan bersikap seperti para sahabat di Madinah ketika menghadapi pengepungan dahsyat seluruh Sekutu kafir Jazirah Arab saat itu dalam perang Ahzab (Khandaq). Sikap mereka digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

    “Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 22)

    Pada ayat ini digambarkan bahwa ketika para sahabat melihat beribu-ribu tentara kafir dari seluruh penjuru jazirah Arab datang ke Madinah, hati mereka berkata, “Inilah tanda bahwa kemenangan sudah dekat dan tidak akan sampai kemenangan itu kalau hal seperti ini belum kita alami.” Lantaran itu, mereka tidak ragu-ragu dan berkata, “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Artinya mereka akan menang setelah mengalami kesukaran. Oleh karena itu, kondisi yang sangat sulit itu justru menambah teguh keimanan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Dan kondisi yang sangat sulit itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan kabar gembira akan kemenangan umat Islam di berbagai tempat melalui peristiwa sebagai berikut.

    Sahabat al-Barra bin Azib Radiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggali parit dan kami menemukan batu besar di salah satu tempat di dalam parit yang tidak bisa dihancurkan. Kami mengadu kepada beliau lalu beliau mendatanginya dan melepaskan bajunya lalu turun menuju ke batu tersebut dan mengambil kapak.

    Dengan mengucapkan Bismillah beliau mengapaknya dan pecahlah sepertiga batu itu lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberikan kunci-kunci negeri Syam, dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana merah dari tempatku ini.” Lalu beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi dan pecahlah sepertiganya lalu beliau bersabda, “Allahu akbar, aku diberikan kunci negeri Persia dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana putih dari tempatku ini.” Kemudian beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi hingga hancur berkeping-keping lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Yaman dan demi Allah aku melihat pintu-pintu kota Shana dari tempatku ini.” (HR. Ahmad).

    Hadits ini mendorong kita untuk optimis sambil berusaha keras bahwa kemenangan umat Islam pasti datang dan akan lenyap segala krisis dan penderitaan. Memang berbagai krisis dan penderitaan saat ini sedang melilit sebagian besar umat Islam bahkan cenderung meningkat. Namun di balik itu semua, kabar gembira dan tanda-tanda akan kemenangan semakin dekat. Sebagaimana kondisi saat perang Ahzab (Khandaq) saat itu. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena, antara lain pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika, makin tingginya kesadaran beragama di kalangan generasi muda, makin terbuktinya kebenaran-kebenaran al-Qur’an, bahkan dari berita terakhir yang kita dengar dari Palestina, banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Inilah bukti kebenaran firman Allah:

    “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.”(Q.S. al-Shaff: 9)

    Kemenangan dan Perintah Berjama’ah
    Hanya perlu diingat, bahwa kemenangan tidak pernah diraih lewat mimpi tetapi perlu usaha keras meskipun dengan sarana seadanya sebagaimana yang telah dibuktikan para sahabat dan salafus soleh sesudahnya.

    Usaha keras untuk meraih kemenangan itu antara lain dengan menjaga fitrah (kesucian) jiwa kita. Untuk menjaga agar kita tetap dalam fitrah, Allah telah memberikan tuntunan sebagai berikut:

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (31). dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32). yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Ruum: 30-32)

    Menurut ayat ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk menjaga fitrah, yaitu:

    1. Kembali kepada Allah secara mutlak,
    2. Bertaqwa,
    3. Menegakkan shalat, dan
    4.Meninggalkan perpecahan seperti perilaku orang-orang musyrik, yang masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang pada golongonnya dan merasa golongannya yang paling benar sementara yang lain salah belaka.

    Untuk dapat meninggalkan perpecahan, Allah memerintahkan kaum muslimin hidup berjama’ah, sebagaimana firman-Nya: “Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

    Al-Jama’ah menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah: “Orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku hari ini.” (HR. Al-Hakim).

    Jadi al-Jama’ah bukanlah organisasi atau partai atau negara dalam negara. Al-Jama’ah adalah syariat yang menata kehidupan masyarakat Islam sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan para sahabatnya, dimana mereka hidup bersama-sama di bawah seorang pemimpin (Imam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thabari bahwa al-Jama’ah adalah:

    “Orang-orang yang berkumpul bersama-sama untuk mentaati orang yang diangkat sebagai pimpinannya.”

    Dalam kehidupan berjama’ah, manusia akan hidup damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang walau berbeda ras, suku, bahkan agama, karena dengan terwujudnya kehidupan berjama’ah akan turun rahmat Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

    “Berjama’ah itu rahmat dan berfirqah-firqah itu azab.” (H.R. Ahmad)

    Kehidupan semacam ini telah diwujudkan oleh para sahabat di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka hidup rukun di bawah naungan Islam, sebagaimana digambarkan Allah:

    “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

    Sementara itu mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Yahudi sebelum sebelum orang-orang Yahudi melanggar berbagai janji damai yang dibuat bersama bahkan berkali-kali mengadakan makar untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengakibatkan pengusiran mereka dari Madinah.

    Kehidupan demikian ini juga telah dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau, sehingga orang-orang Nasrani lebih senang hidup di bawah Khilafah Islam daripada hidup di bawah raja Nasrani yang berbeda sekte karena mereka akan dipaksa mengikuti sekte sang raja.

    Bukti kehidupan damai orang non muslim di bawah khilafah Islam ini dapat kita jumpai sampai sekarang dimana Negara yang mayoritas muslim masih terdapat komunitas orang non muslim dan tempat-tempat ibadah mereka tetap terpelihara.

    Inilah bukti bahwa al-Jama’ah telah mampu mewujudkan rahmatnya Islam bagi umat Islam sendiri dan orang-orang di luar Islam bahkan bagi alam sekitar sebagai realisasi dari firman Allah: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiyaa’[21]: 107)

    Dalam rangka menegakkan kembali syariat al-Jama’ah ini, sebagian umat Islam telah membaiat Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki. Setelah Wali Al-Fattaah wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan keimamahan hingga saat ini.

    Untuk mewujudkan kembali kehidupan berjamaah dan menegakkan kepemimpinan khilafah tidaklah mudah, tetapi kita harus berusaha dan yakin bahwa hal tersebut pasti terwujud, mengingat janji Allah dan Allah tidak mungkin memperselisih janji-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, ... (Q.S. An-Nuur [24]: 55)

    Semoga seluruh umat Islam diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah untuk mewujudkan sehingga kejayaan umat Islam dalam naungan al-Jama’ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam dapat segera merata di seluruh persada bumi. Aamiin.

    Wallahu a’lam bish Shawwab.
    Khutbah Imamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur

  • Kamis, 21 April 2016

  • Indahnya Persatuan

    Allah Subahanhu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 63).

    Secara tekstual ayat ini menggambarkan persatuan Arab, antara suku Aus dan Khazraj yang sangat sulit disatukan sebelum masuk Islam karena orang Arab terkenal sangat keras mempertahankan suku dan tidak bisa bersatu walaupun diantara dua orang, demikian menurut az-Zamakhsyari.

    Namun setelah masuk Islam, mereka menjadi bersatu rapat dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kesatuan ini terwujud karena mereka konsisten mengikuti tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga Allah menyatukan hati mereka dalam ikatan satu cinta, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah.

    Namun secara kontekstual ayat tersebut berlaku umum. Pada ayat ini disebutkan, mempersatukan hati manusia bukanlah perkara yang gampang, walaupun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri misalnya membelanjakan seluruh harta benda yang ada di bumi untuk mempersatukan hati manusia, usaha itu tidak akan berhasil. Hanya Allah yang dapat mempersatukan hati manusia melalui ajaran Islam. Dari sini, kita mengetahui betapa tingginya nilai persatuan dalam kehidupan, melebihi seluruh harta yang ada di dunia ini.

    Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Abdah bin Abu Lubabah bertemu dengan Mujahid, lalu Mujahid menjabat tangannya dan berkata, “Jika dua orang mencintai karena Allah berjumpa, lalu salah seorang diantara mereka menjabat tangan dan tersenyum kepadanya, maka dosa-dosanya berguguran seperti gugurnya dedaunan dari atas pohon.” Abdah berkata,”Perbuatan itu (berjabat tangan dan tersenyum) terlalu ringan.” Mujahid menjawab, “Jangan berkata seperti itu, sesungguhnya Allah berfirman:

    "Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka,"

    Ketika mendengar jawaban ini, Abdah berkata, “Tahulah aku, ia lebih mengerti dariku.”

    Persatuan yang dilandasi iman kepada Allah adalah tali pengikat ajaran Islam yang paling kokoh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Artinya: “Tali Islam yang paling kuat adalah wala’ (loyal) karena Allah, memusuhi karena Allah, cinta karena Allah, dan benci karena Allah azza wa jalla.” (HR. Thabrani)

    Oleh karena itu, ikatan persaudaraan dan persatuan antara sesama umat Islam adalah model persaudaraan yang terbaik dalam kehidupan umat manusia karena persaudaraan hanya berdasarkan ridha Allah, bukan berdasar kepentingan (blangen). Sebagaimana firman Allah: Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr: 9).

    Persatuan dan persaudaraan seperti inilah yang dibina oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabatnya. Persatuan dan persaudaraan adalah hal yang paling urgen dalam masyarakat Isalm. Persatuan dan persaudaraan tidak mungkin terbina apabila hanya dilakukan seorang diri, namun harus dilakukan secara berjamaah (bersama-sama), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    Artinya: “Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 103).

    Di sinilah arti penting teman/ikhwan. Para ulama mengajarkan kepada kita agar dalam kehidupan ini, kita harus selalu memperbanyak teman. Sesungguhnya teman yang baik adalah pengingat ketika senang dan pendamping di kala duka, penyadar ketika salah, pendukung ketika benar. Salah seorang diantara mereka berkata, “ Perhiasan seseorang adalah banyak kawan.” Suatu ketika Muhammad bin al-Mukadir ditanya, “Apakah kelezatan yang langgeng? Ia menjawab, “Berjumpa dengan kawan dan memberi kebahagiaan kepada mereka.”

    Kehidupan ini akan terasa kering apabila kita tidak memiliki teman/ikhwan. Secara umum diketahui bahwa timbulnya problematika dalam hidup adalah lantaran hilangnya keakraban diantara teman dan memilih hidup menyendiri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan, “Sesungguhnya serigala memburu kambing yang menyendiri. Sesungguhnya setan bersama orang yang menyendiri dan menjauh dari kumpulan dua orang.” (HR. Tirmidzi).

    Perpecahan Adalah Azab
    Perpecahan Umat Islam bukanlah takdir, melainkan perbuatan manusia itu sendiri, Dijelaskan dalam Q.S Al-Mu’minun: 52, yang artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”

    Yang membuat muslimin berpecah belah adalah umat Islam itu sendiri. Mereka memecah belah menjadi kelompok-kelompok atau golongan-golongan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

    Perpecahan merupakan adzab yang Allah Subhanu Wa Ta’ala berikan kepada Umat Islam karena telah mendustakan ayat-ayat-Nya. “Allah selalu bermaksud baik, hanya karena mereka itu mendustakan ayat-ayat Allah maka Allah menyiksa mereka dengan memberi adzab. Jadi siksa itu datang karena perbuatan manusia itu sendiri.”

    Dalam Q.S Al-An’am: 56 dijelaskan, hanya Allah yang mampu menurunkan adzab, yang pertama dari atas contohnya banjir, hama dan wabah penyakit menular. Kemudian dari bawah seperti gempa bumi dan yang terakhir perpecahan umat.

    Ketiga hal tersebut bukan merupakan suatu kepastian tetapi merupakan azab atau siksaan yang dalam konsepsi Islam, azab adalah akibat dari perbuatan maksiat.

    Perpecahan yang terjadi di kalangan umat islam bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja, tetapi harus diselesaikan dan diupayakan dengan sungguh-sungguh agar perpecahan itu hilang sehigga terwujudlah kesatuan umat.

    Wallahu A’lam Bish Showab.
    Nasehat Imamu Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur, MA.

  • Kamis, 19 Maret 2015

  • Perpecahan Ummat Adalah Azab

    Ummat Islam
    Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman, artinya : Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (Q.S. Al An’am [6], 65)

    Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia dapat saja mendatangkan azab duniawi kepada umat manusia, khususnya umat Islam baik yang datang dari atas atau dari bawah kaki mereka atau azab berupa perpecahan dan benci membenci di antara mereka.

    Azab didefinisikan oleh para ulama sebagai siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari pelanggaran yang pernah atau sedang dilakukan terhadap larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Azab dari atas, misalnya turun hujan lebat terus menerus yang mengakibatkan banjir, angin topan yang merusak segala sesuatu yang dilalui, hama dan virus penyakit yang beterbangan di udara membawa epidemi dan sebagainya.

    Azab dari bawah, misalnya gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, merajalelanya kejahatan, seringnya kecelakaan, harga-harga yang membumbung tinggi sehingga melemahkan daya beli dan sebagainya.

    Azab berupa perpecahan umat, misalnya karena pertarungan politik dan kekuasaan sehingga menimbulkan benci-membenci, yang menang menindas yang kalah dan yang kalah terus berusaha menjatuhkan yang menang sehingga kadang-kadang menimbulkan peperangan.

    Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menyebutkan hadis-hadis yang memiliki relevansi dengan ayat ini, antara lain hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:

    Aku minta kepada Allah tiga hal. Aku minta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan bencana kelaparan lalu Dia mengabulkannya. Aku minta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan banjir bandang lalu Dia mengabulkannya dan aku minta kepada-Nya agar tidak menimpakan keganasan sebagian ummatku kepada sebagian yang lain tetapi Dia menolaknya. (H.R. Muslim)

    Hadis ini –juga hadis-hadis yang semakna– secara jelas menunjukkan bahwa Allah menjamin dua hal bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai penghormatan kepada beliau. Jaminan tersebut berupa doa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang dikabulkan Allah, yaitu:

    Pertama: Allah tidak akan membinasakan umatnya dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Bencana banjir pernah ditimpakan kepada kaum Nabi Nuh Alaihi Salam, kaum Tsamud dibinasakan dengan petir yang sangat keras, kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin yang sangat dingin dan sebagainya.

    Kedua: Allah tidak menguasakan musuh atas mereka sampai kepada batas menindas dan melenyapkan eksistensi mereka sama sekali.

    Permintaan Rasulullah SAW yang tidak dikabulkan adalah agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menimpakan perpecahan pada umat Islam. Artinya persoalan ini diserahkan kepada umat Islam dan hukum sebab akibat.

    Dalam hal ini umat Islam berkuasa penuh atas dirinya. Allah tidak memaksakan sesuatu kepada umat ini dan tidak memberi kekhususan kepada mereka. Jika umat Islam konsisten dengan ajaran Islam pasti mereka akan tetap bersatu. Tetapi apabila mereka tidak memperhatikan bahkan melanggar ajaran Islam dengan melakukan berbagai macam kemaksiatan, pasti mereka akan berpecah-belah dan dikuasai musuh.

    Jadi ayat dan hadis tidak menunjukkan bahwa perpecahan yang terjadi di tubuh umat Islam adalah takdir atau kepastian yang mesti terjadi yang tidak mungkin dihindari, tetapi dia adalah merupakan akibat dari kesalahan/ dosa umat Islam sendiri.

    Sebab apabila perpecahan umat Islam itu merupakan kepastian niscaya tidak ada artinya ayat-ayat dan hadis-hadis yang memerintahkan umat Islam untuk menjaga dan mewujudkan kesatuan dan melarang berpecah belah.

    Firman Allah Subbhanahu Wa Ta’ala: Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai... (Q.S. Ali Imran [3], 103).

    ...Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Q.S. Ar Rum [30], 31-32).

    Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Q.S. Al Mu’minun [23], 52, 53).

    Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Sesungguhnya Allah ridha atas kamu dengan tiga perkara dan benci kepada kamu dengan tiga perkara juga; 1). Dia (Allah) ridha atas kamu untuk menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya 2). Kamu berpegang teguh pada tali Allah seraya berjama’ah dan tidak berpecah belah, 3). Kamu menasehati orang yang diserahi Allah untuk memimpin urusan kamu. Dan Dia (Allah) benci kepada kamu dengan tiga perkara yaitu: 1). Beromong kosong, 2). Banyak bertanya (bukan untuk diamalkan) dan 3). Menyia-nyiakan harta. (H.R. Muslim)

    Hadis lain, “Aku perintahkan kepada kalian (Muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, dan mendengar, dan thaat, dan hijrah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad)

    “Berjama’ah itu rahmat, dan berfirqah-firqah itu adzab.” (H.R. Ahmad)

    Mengomentari ayat-ayat dan hadis-hadis tentang perintah bersatu dan larangan berpecah-belah Dr. Yusuf Qardlawy berkata, “Tidak ada artinya pula nash-nash lainnya dari Al Quran dan melarang perpecahan, mewajibkan kaum Muslimin agar mempunyai satu Imaam dan tidak membaiat dua khalifah pada waktu bersamaan, serta memerangi orang yang bermaksud memecah belah kalimat atau urusan mereka.”

    Seandainya perpecahan itu suatu yang ditetapkan atas umat secara umum dan abadi niscaya perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut sia-sia belaka, karena berarti memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan melarang sesuatu yang mustahil.

    Hadis-hadis yang menjelaskan bahwa Allah tidak menguasakan atas umat Islam musuh yang akan menghapuskan eksistensinya sama sekali dan bahwa Allah akan menimpakan perpecahan antar sesamanya, tidak menyebutkan bahwa hal tersebut akan terjadi di setiap belahan bumi umat Islam dan setiap zaman.

    Ia hanyalah penyakit dan wabah yang akan menyerang umat Islam manakala sudah cukup sebab-sebabnya. Mungkin “penyakit” perpecahan ini terjadi di suatu tempat tetapi tidak demikian halnya di tempat lain, atau di suatu zaman tetapi tidak demikian pada suatu zaman yang lain, atau terjadi pada suatu kaum tetapi tidak demikian pada kaum yang lain.

    Memahami hadis-hadis tentang perpecahan umat Islam hendaknya diimbangi dengan hadis-hadis lainnya yang memberi kabar gembira bahwa dakwah Islam akan berjaya dan akan masuk ke Eropa bahkan ke seluruh penjuru dunia.

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi..., Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. An Nur [24], 55)

    Dalam Kitab Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengecilkan bumi kepadaku. Dengan begitu aku bisa melihat masyriq (timur) dan maghrib (barat). Sesungguhnya umatku akan menguasai kerajaannya seperti dikecilkannya kepadaku. Aku diberikan dua mahkota, merah dan putih. Aku memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar tidak lekang dengan berjalannya waktu dan tahun, tidak dikuasai oleh musuh di luar mereka sendiri yang bisa merampas kesucian mereka. Lalu Tuhanku berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku menentukan sesuatu, maka itu tidak akan bisa ditolak. Aku telah memberikan kepada umatmu agar mereka tidak lekang oleh zaman dan tidak dikuasai oleh musuh di luar diri mereka sendiri yang bisa merampas kesucian mereka...” (H.R. Muslim)

    Ini adalah janji Allah kepada Rasulullah. Dia akan menjadikan umatnya sebagai pemimpin di dunia, pemimpin dan pelindung manusia. Hal ini tidak akan terwujud apabila umat Islam berpecahbelah dan saling bermusuhan. Kesemuanya itu akan terwujud manakala umat Islam bersatu di atas landasan Al Quran & Sunnah.

    Wallahu A’lam bis Shawwab.

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism