Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Tampilkan postingan dengan label KH Yakhsyallah Mansur MA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH Yakhsyallah Mansur MA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2016

  • Mengikuti Millah Ibrahim AS

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Qs. al-Nisaa’: 125)

    Ayat diatas menggunakan uslub (gaya bahasa) “istifham inkari” (pertanyaan retoris). Allah menyatakan, siapakah yang paling baik agamanya, artinya tidak ada lagi orang yang lebih baik dalam beragama selain orang yang memiliki sikap yang disebut dalam ayat tadi, yaitu:

    Menyerahkan wajahnya kepada Allah, Selalu mengerjakan kebaikan, dan Mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam.

    Dalam ayat di atas, ada dua kata yang berarti agama yaitu dien dan millah. Ar-Raghib al Asfihani dalam al-Mufradat fi Gharibi al-Qur’an menerangkan persamaan dan perbedaan dua kata tersebut, beliau berkata, “Al-Millah itu sama dengan ad-Dien yaitu nama untuk segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya melalui lisan para nabi agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah.”

    Adapun perbedaannya, kata al-Millah dinisbatkan kepada nabi tertentu atau kepada seseorang pembawa syariat, seperti pada ayat: “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (Qs. Ali ‘Imran: 95), dan ayat “dan mengikut agama nenek moyangku.” (Qs. Yusuf: 38)

    Hampir tidak ada kata millah yang dinisbatkan kepada Allah dan kepada umat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan kata ad-Dien biasanya dinisbatkan kepada Allah atau kepada seseorang seperti Dienullah dan Dinu Zaid. Disebutkan pula bahwa kata al-millah digunakan untuk segala sesuatu yang disyariatkan Allah sedang ad-Dien digunakan untuk yang melaksanakan agama karena arti ad-Dien adalah taat sedang al-millah arti asalnya adalah mendiktekan atau membacakan.

    Menurut para ahli agama, ditinjau dari sumbernya, maka agama dibedakan menjadi dua bagian:

    Pertama, agama samawi (dien as-samawy, revealed religion, agama wahyu, agama profetis, agama langit), yaitu Islam, Yahudi dan Nasrani.

    Kedua, agama budaya (dien at-thabii, dien al-ardli, non revealed religion, natural religion, agama filsafat, agama ra’yu, agama bumi), misalnya: Hindu, Budha, dan Majusi.

    Dalam pandangan Islam, agama samawi hanya satu yaitu Islam. Sebagaimana firman-Nya:

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali ‘Imran: 19), dan

    “Siapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali ‘Imran: 85)

    Adapun agama Yahudi dan agama Nasrani dalam bentuknya yang asli adalah Islam. Bahkan menurut al-Quran, semua nabi yang diutus oleh Allah seluruhnya beragama Islam.

    Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim AS.: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qs. Ali ‘Imran: 67)

    Nabi Nuh ‘Alaihi Salam berkata:“Dan aku (Nuh ‘alaihi salam) diperintahkan agar aku termasuk orang muslim (berserah diri).” (Qs. Yunus: 72)

    Jadi yang dimaksud orang yang paling baik agamanya adalah orang yang paling baik Islamnya. Menurut ayat di atas, orang yang paling baik Islamnya adalah:

    1. Orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah
    Artinya menyerah bulat dengan penuh ridla kepada Allah dan melepaskan diri dari ikatan lain selain Allah. Penggunaan kata wajah di sini menunjukkan kepasrahan total, lahir dan batin kepada Allah. Wajah adalah gambaran hati. Pada wajah tergambar hati manusia. Kalau seluruh wajah telah dipasrahkan kepada Allah, artinya tidak lagi menyerahkan segala sesuatu kepada selain Allah. Ibn Katsir menjelaskan, “menyerahkan wajah kepada Allah artinya beramal secara ikhlas hanya untuk Allah.”

    Ikhlas artinya bersih dan tidak terkena campuran apapun. Perbuatan yang dilakukan dengan kebersihan dan kemurnian dinamakan perbuatan yang ikhlash. Menurut ‘urf (kebiasaan) syara’, kata ikhlash dikhususkan bagi memurnikan tujuan dalam beribadah kepada Allah dari segala campuran yang mengotorinya atau membuat cela dan noda. Jadi apabila tujuan ibadah itu sudah dicampuri oleh pengaruh lain seperti riya’, sombong, mengharap pujian, dan lain-lain maka perbuatan semacam ini sudah keluar dari yang dinamakan ikhlash. Sebagai contoh antara lain:

    Menuntut ilmu untuk tujuan dunia, Menjenguk orang sakit supaya kalau dia sakit dijenguk oleh orang yang dijenguk, Memberikan sumbangan untuk mendapat pujian.

    2. Selalu mengerjakan kebaikan
    Dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan pengerikan ihsan, sebagai berikut: “Ihsan adalah engkau memperibadati Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka meskipun engkau tidak melihat-Nya namun Dia tetap melihat engkau.”

    Orang yang memiliki sikap seperti ini, dalam kehidupan keberagamaannya sekarang sangat ditentukan oleh ibadahnya. Ibadah yang dilandasi dengan seakan-akan melihat Allah atau merasa dilihat Allah dapat melahirkan sikap yang disebut oleh ar-Raghib al-Ashfihani ketika menjelaskan pengertian ihsan, yaitu:

    “Memberikan lebih banyak yang menjadi kewajibannya dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya.”

    3. Mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang lurus
    Lurus di sini adalah arti bahasa kata hanif. Sedangkan secara istilah, hanif adalah sikap lahir dan batin yang berpihak kepada kebenaran yang datang dari Allah melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima.

    Ayat ini ditutup dengan pernyataan Allah tentang ketinggian derajat Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bahwa Allah telah mengangkatnya sebagai khalil-Nya (kesayangan-Nya). Ibn Katsir menyebutkan ada empat nabi yang mendapat gelar khusus yang dinisbatkan kepada Allah, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihi salam sebagai Khalilullah, Nabi Musa ‘alaihi salam sebagai Kalimullah, Nabi Isa ‘alaihi salam sebagai Ruhullah, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Habibullah. (HR. Ibn Mardawaih).

    Tentang sebab Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam diangkat sebagai Khalilullah, diriwayatkan oleh al-Hakim, sebagai berikut:

    “Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam adalah seorang yang senang menjamu tamu. Pada suatu hari beliau mencari orang untuk menjadi tamunya tetapi tidak mendapatkannya. Kemudian beliau kembali ke rumahnya dan beliau mendapati ada seorang laki-laki yang sudah berdiri di dalam rumahnya. Beliau berkata, “Hai Abdullah, apa yang menyebabkan engkau masuk rumahku tanpa izinku?” Orang tersebut berkata, “Saya memasukinya dengan izin pemiliknya. Beliau berkata, “Siapakah anda?” Dia menjawab, “Saya adalah malakul maut. Allah mengutusku menemui salah seorang hamba-Nya untuk memberi kabar gembira kepadanya bahwa Allah telah menjadikannya sebagai kesayangan-Nya.” Beliau berkata, “Siapakah dia, demi Allah, jika engkau memberitahukan kepadaku orang tersebut dan dia berada di ujung negeri pasti aku akan mendatanginya dan menjadikannya sebagai tetangga sehingga kematian memisahkan kami.”

    Dia berkata, “Hamba tersebut adalah anda.” Beliau berkata, “Saya?” Dia berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Sebab apa Allah menjadikan aku sebagai kesayangannya?” Dia berkata, “Sebab engkau senang memberi kepada manusia dan tidak minta kepada mereka.” (HR. Ibn Abi Hatim).

    Diantara millah atau ajaran Nabi Ibrahim yang ditinggalkan untuk umat Islam pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah syariat berkurban. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

    Syariat kurban ini disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Maka shalatlah untuk Tuhan-mu dan sembelihlah kurban.” (Qs. al-Kautsar: 2)

    Wallahu a’lam bishawab.
    Nasehat Imaamul Muslimin

    Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

  • Kamis, 03 November 2016

  • Karakteristik Umat Islam

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan0 dalam Taurat dan Injil, yaitu seerti benih yang mengeluarkan tunasnya kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath : 29)

    Melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam adalah benar-benar utusan Allah. Pernyataain ini mencakup semua sifat baik yang terdapt pada pribadi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

    Selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan karakter orang mukmin yang mengikuti beliau adalah sebagai berikut:

    Pertama, Keras terhadap orang kafir.
    Kata “kuffar” sebagai salah satu bentuk jama’ kata “kafir” memberi kesan kemantapan dan berulang-ulangnya kekufuran sehingga melebihi sikap kafirin. Sikap keras berarti bukan menganiyaya, menyakiti dan memerangi mereka. Sikap keras dapat tercermin dalam sikap tidak kompromi apabila mengakibatkan terabaikannya prinsip agama. Dngan demikian sikap keras terhadap orang kafir tidak ditujukan kepada semua orang kafir tetapi hanya terhadap orang kafir yang memusuhi kaum muslimin.

    Terhadap orang kafir yang tidak memusuhi kaum muslimin, seluruh kaum muslimin tidak dilarang berbuat baik kepada mereka, sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

    “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Mumtahanah: 8)

    Terhadap orang kafir yang memerangi orang yang beriman dan mengusir mereka inilah sikap keras harus ditampakkan, sebagaimana firman Allah:

    “Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap keras darimu dan ketahuilah bahwa allah bersama orang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 123)

    Kedua, Berkasih sayang sesama muslim
    Allah Subahanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa mereka adalah “berkasih sayang sesama mereka”. Pada ayat lain disebutkan:

    “...bersikap lemah lembut kepada orang mukmin dan keras kepada orang kafir...” (QS. Al-Maidah: 54)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Orang mukmin itu laksana satu bangunan yang sebagian menguatkan yang lain. Lalu beliu mempertautkan jari-jari tangannya.” (HR. Bukhari)

    Inilah sikap orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, mereka bersatu, saling menguatkan, saling mencintai, ringan sama dijinjing berat sama di pikul, tidak saling menghina dan tidak mengecewakan.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Cukup kejahatan seseorang dengan menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

    Ketiga, Ruku’ dan Sujud mencari karunia Allah
    Kata “rukkaan” dan “Sujjadan” adalah “shighoh mubhalaghah” artinya bentuk “penyangatan” dari “raaki” dan “saajid”. Jadi orang yang mengikuti beliau adalah orang yang banyak melakukan ruku’, sujud, dan shalat dengan khusyu’, tidak ada yang mereka harapkan kecuali karunia dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dalam suatu hadits disebutkan keutamaan banyak sujud artinya banyak melaksanakan shalat, sebagaimana berikut, “Dari Rabi’ah bin Malik Al-Aslami Ra. Berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Mintalah”. Aku berkata, “Aku minta kepada engkau untuk dapat berdampingan dengan engkau di surga.” Beliau bersabda, “Ada selain itu?” Saya menjawab, “Itu saja”. Beliau bersabda, “Bantulah saya untuk mendoakan dirimu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

    Menurut Ibnu Katsir memperbanyak shalat berarti juga memperbanyak amal karena shalat adalah sebaik-baik amal. Seseorang yang banyak shalatnya maka banyak amalnya. Dalam beramal mereka tidak mencari popularitas atau tujuan duniawi tetapi semata-mata mencari ridho Allah Subahanhu wa Ta’ala. Inilah puncak tujuan hidup mereka.

    Keempat, Pada wajah mereka tampak bekas sujud
    Wajah mereka bersinar yang memancarkan kejernihan hati. Umar bin khattab ra. Berkata, “Barangsiapa yang jernih batinya, Allah memperbaiki penampilan lahirnya.”

    Imam As Su’di berkata, “Shalat itu mebuat wajah mereka cerah.”

    Ulama yang lain berkata, “sesungguhnya amal yang baik itu menimbulkan cahaya dalam hati, sinar pada wajah, kelausan rezeki dan rasa cinta di hati sesama manusia.”

    Menurut ibnu Abbas ra. Yang dimaksud dengan “tanda mereka” adalah prilaku baik. Sedang Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “tanda mereka” adalah kekhusyukan.

    Jadi bekas sujud ini tidak ada hubungannya dengan bekas hitam pada dahi sebagian orang karena sujud. Dari Salim Abu Nadhr diriwayatkan, ada seseorang yang datang menemui Abdullah bin Umar ra, lalu Ibnu Umar ra bertanya, “Siapakah anda?” “Aku adalah anak asuhmu,” jawab orang tersebut. Ibnu Umar ra, melihat bekas sujud berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu?” “Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau liaht ada bekas tersebut pada dahiku?” (HR. Baihaqi).

    Kelima, Terus mengalami perkembangan
    Orang-orang bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada mulanya berjumlah sedikit kemudian bertambah banyak dan kuat. Perkembangan umat Islam ini telah di gambarkan dalam Kita Taurat dan Kitab Injil bahwa umat Islam awalnya hanya tumbuh seperti tunas keci saja. Namun tunas ini tumbuh dengan subur, kian lama kian besar dan teguh di atas rumpunya, sukar dicabut dan dimatikan. Sampai orang yang menanam sendiri pun tercengang melihat pertumbuhan dan perkembagnan yang sangat cepat itu, sebab dia tidak menyangka akan secepat itu.

    Penggambaran perkembangan pengikut Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pohon mengandung beberapa fenomena penting antara lain:

    A. Perkembangan umat Islam bukan sebuah kebetulan tetapi berdasar pada kekuasaan dan perencanaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai “penanamnya”. Adapun usaha yang dilakukan oleh manusia tidak lain hanyalah merupakan syariat yang mendorong terjadinya perkembangan tersebut.

    B. Apabila umat Islam mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya maka akan kuat bagaikan sebuah pohon yang asalnya kecil kemudian menjadi besar dan tegak di atas batangnya sehingga sulid dicabut dan ditebang oleh orang yang tidak menyenanginya.

    C. Perkembangan umat Islam akan mengayomi dan memberi manfaat kepada siapa saja. Bagaikan pohon rindang yang akan memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya. Apabila pohon tersebut berbuah maka buahnya juga akan dinikmati oleh siapa saja yang memetiknya.

    Perkembagan umat Islam ini akan membuat murka orang kafir. Tetapi orang kafir tidak akan dapat menghentikan perkembangan umat Islam selama muslimin konsisten dengan tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya.

    “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff:8)

    Akhirnya pada ujung ayat ini QS. Al-Fath: 29, Allah Subahanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ia berjanji kepada orang yang beriman dan beramal shalih untuk memberi ampunan dan pahala yang besar.

    Sebagaian ahli tafsir menyatakan bahwa karakter di atas hanya ada pada sahabat yang hidup bersama beliau. Tetapi jumhur ahli tafsir menyatakan bahwa sikap di atas terdapat pada semua umat Islam yang mengikuti langkah para sahabat beliau.

    Semoga kita semua termasuk umatnya yang senantiasa mengikuti langkah beliau dan para sahabatnya, yang selalu hidup terpimpin, bersatu dalam Al-Jama’ah dan tidak senang dengan hidup bergolong-golongan. Selalu menebarkan kasih sayang sesama muslim, tidak melecehkannya dan keras terhadap orang-orang kuffar.

    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, “(Al-Jamaah) ialah siapa yang seperti aku hari ini dan para sahabatku”. (HR. Turmizi)

    Waallahu ‘Alam Bish ShowabNasehat Imamul Musimin, Yakhsyallah Mansur

  • Kamis, 13 Oktober 2016

  • Kasih Sayang Penyebab Datangnya Pertolongan Allah


    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al Anfal [8]: 62-63)

    Kedua ayat di atas memberi petunjuk bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu pasti akan diberikan kepada orang yang beriman.

    Pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencakup bermacam-macam bentuk, antara lain sebagai berikut:

    Pertama, pertolongan kadang-kadang berbentuk kemenangan langsung yang dibuktikan dengan takluknya musuh, seperti yang dialami oleh Nabi Musa Alaihi Salam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “...Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 137)

    Hal ini juga dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan mengalahkan musuh-musuhnya di berbagai medan pertempuran sehingga syariat Islam berkibar di Jazirah Arab. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (Q.S. Al-Fath : 1)

    Kedua, kemenangan kadang-kadang berupa balasan Allah kepada musuh setelah penegak kebenaran wafat. Imam Ath-Thabari ketika menafsirkan Q.S. Al-Mu’min/Ghafir [40]: 51.

    “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (Q.S. Ghafir [40]: 51)

    Beliau mengatakan bahwa ayat tersebut mengandung makna, “Allah telah memenangkan mereka atas orang-orang yang mendustakan-Nya, atau Allah telah membalas orang-orang mendustakan dalam kehidupan dunia setelah rasul-Nya wafat, seperti yang telah Allah lakukan ketika Dia menolong Sya’ya setelah kematiannya dengan memberi kekuasaan kepada orang untuk membalas pembunuhannya. Juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada pengikut Nabi Yahya Alaihi Salam setelah dia terbunuh dan membinasakan bangsa Romawi yang hendak membunuh Nabi Isa Alaihi Salam.

    Ketiga, kemenangan dapat berwujud sesuatu yang kita anggap kekalahan karena terbunuh, dipenjara, diusir, atau dianiaya. Karena terbunuhnya penegak kebenaran merupakan kemenangan bagi dirinya berupa sebutan (nama) yang baik, keberlangsungan missinya dan syahadah yang merupakan bentuk kemenangan terbesar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. ...” (Q.S. Ali Imran [3]: 169-170)

    Masih banyak lagi bentuk kemenangan lainnya yang Allah berikan, dengan demikian kita tidak dapat memaknai kemenangan dari sudut pandang manusia yang bersifat materi saja.

    Kemenangan adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan diberikan hamba-hamba-Nya yang beriman. Oleh karena itu sebagai hamba yang beriman kita yakin dan mantap tanpa ragu sedikitpun bahwa pertolongan Allah pasti datang. Kita harus yakin bahwa terlambatnya pertolongan Allah merupakan ujian. Maha Benar Allah yang berfirman:

    “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Q.S. Ar-Rum [30]: 47)

    Persaudaraan = Kemenangan
    Selanjutnya pada ayat 63 surat Al-Anfal di atas, Allah menyebutkan nikmat yang dilimpahkan kepada orang yang beriman yang akan mendatangkan pertolongan-Nya yaitu ulfah (persaudaraan) di antara orang yang beriman.

    Ketika menafsirkan ayat ini Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan: “Ayat ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu diperoleh dengan berbagai faktor dan yang terpenting adalah kasih sayang dan persatuan.”

    Ar-Raghib Al-Asfihani mengatakan, ulfah secara bahasa berarti: Ijtimaa’un ma’at tuaami, “Berkumpul dengan serasi.”

    Dalam bahasa Indonesia kata "ulfah" dapat diartikan persaudaraan, persahabatan, persatuan, kesesuaian, lemah lembut, kasih sayang dan yang senada dengannya.

    Secara tekstual ayat ini menggambarkan persaudaraan dan kerukunan orang Anshar dari suka Aus dan suku Khazraj setelah mereka masuk Islam. Di masa Jahiliyah kedua suku ini dilanda permusuhan dan kebencian yang sangat dalam di mereka. Peperangan yang berkepanjangan, ratusan tahun terjadi di antara mereka, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memadamkan pertikaian itu dengan cahaya iman, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam firman-Nya:

    “Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”(Q.S. Ali Imran [3]: 103)

    Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di hadapan para sahabat Anshar yang kurang puas dengan pembagian harta rampasan perang Hunain beliau bersabda, “Hai orang-orang Anshar, bukankah aku jumpai kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan miskin lalu Allah memberikan kecukupan kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan berpecah-belah lalu Allah menjinakkan hati kalian melalui diriku.” Setiap kali beliau mengucapkan sesuatu, mereka menjawab, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

    Imam Zamakhsyari di dalam Tafsirnya “Al-Kasysyaf”, sebagaimana yang dinukil oleh Prof. Dr. HAMKA dalam Tafsirnya “Al-Azhar” menulis, “Bersatu padunya hati orang-orang yang didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu adalah salah satu tanda Kebesaran Allah yang mengagumkan. Karena orang Arab terkenal sangat keras dalam mempertahankan kesukuan dan kebangsaan.Meskipun dalam perkara yang remeh mereka tidak mau mundur. Tersinggung sedikit segera muncul dendam dan dendamnya tidak habis sebelum malunya tertebus. Orang Arab tidak bisa bersatu, walaupun hanya di antara dua orang. Namun tiba-tiba mereka bersatu rapat di dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam laksana sebusur anak panah yang dapat dipanahkan sekaligus.Hal ini disebabkan karena Al-Qur'an telah membimbing mereka, menyatukan kata-kata mereka sehingga timbul rasa cinta yang mendalam di antara mereka.Habis sirna rasa benci di antara mereka karena mereka disatukan oleh satu cinta, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Tidaklah akan sanggup berbuat demikian kalau bukan karena Allah yang menguasai hati, yang membolak-balikkan hati menurut kehendak dan kemauan-Nya.”

    Ayat di atas walaupun secara tekstual turun berkenaan dengan persaudaraan orang Anshar dari suku Aus dan suku Khazraj tetapi maksudnya adalah umum.Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu pernah membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: “Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 63) sampai akhir ayat. Kemudian beliau berkata, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang saling menyayangi karena Allah.”

    Ayat ini di samping menunjukkan bahwa kasih sayang di antara umat Islam merupakan salah satu penyebab datangnya pertolongan Allah, juga menunjukkan betapa tingginya nilai dan harga persaudaraan di antara umat Islam.

    Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Sesungguhnya shilaturrahim dapat terputus dan nikmat dapat diingkari. Sesungguhnya apabila Allah mendekatkan (melunakkan) hati yang tadinya bermusuh-musuhan maka tidak sesuatupun yang dapat menggoyahkan. Kemudian beliau membaca Q.S. Al-Anfal [8]: 63. Di atas”

    Sementara itu Umair bin Ishaq mengingatkan bahwa hal yang mula-mula dilenyapkan dari manusia adalah kerukunan.

    Dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan persatuan kaum muslimin serta kasih sayang yang terjalin di antara mereka maka betapapun kesulitan dan bagaimanapun problema yang menimpa umat Islam pasti akan dapat diatasi.

    Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika ditanya oleh Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu Anhu tentang bagaimana mengatasi problema umat Islam sepeninggal beliau, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:

    “Engkau tetap dalam Jama'ah Muslimin dan Imaam mereka.” (H.R. Al-Bukhari)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits :

    “Sesungguhnya di antara kalian yang paling dicintai Allah adalah yang dapat menyesuaikan diri dan diikuti penyesuaian dirinya. Sedangkan di antara kalian yang paling dibenci Allah adalah yang berjalan dengan mengadu domba dan yang memecah belah di antara saudara.”(H.R. At-Thabrani)

    Wallahu a’alm bis shawab
    Nasehat Imamul Muslimin

  • Kamis, 22 September 2016

  • Fungsi Zakat dalam Menyejahterakan Umat (bagian 2)


    Setelah sebelumnya di sampaikan tentang pengertian Zakat, perintah serta balasan bagi mereka yang enggan berzakat dengan menafsirkan firman Allah di bawah ini, “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7)

    Berikutnya adalah hikmah zakat dalam syariat Islam;
    1.Berzakat Merupakan Wujud dari Keimanan kepada Allah akan Kebenaran Ajaran-Nya
    2. Zakat Membersihkan, Menyucikan dan Menenteramkan Jiwa Orang yang Melakukannya
    3.Zakat akan Menambah dan Mengembangkan Harta
    4. Zakat Mendorong Umat Islam Bekerja Keras

    Kelima, Zakat Menghilangkan Sifat Kikir

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Qs. Al-Hasyr [59]: 9)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sembuh dari sifat kikir barangsiapa yang membayar zakat dan menjamu tamu dan memberi di waktu susah.” (HR. Ibnu Jarir)

    Menurut ayat tersebut orang akan beruntung bila terjaga dari sifat kikir dan sifat kikir akan hilang bila seseorang melaksanakan zakat.

    Keenam, Perjuangan Memerlukan Biaya Yang Besar

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(Qs. At-Taubah [9]: 41)

    Berjihad bukan hanya berarti perang yang dalam bahasa Arab disebut “al-harb”, tapi jihad mempunyai arti bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam berjuang menegakkan ajaran Islam, seperti mendirikan masjid, membangun sekolah, menyediakan peralatan belajar, melatih guru, dan sebagainya. Ini semua memerlukan biaya yang tidak sedikit.

    Ketujuh, Islam Menghendaki Umatnya Kaya Sehingga Dapat Membantu Orang Lain

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Hendaklah di antara kalian mulai (memberi nafkah) kepada orang yang menjadi tanggungannya…” (HR. Daruquthni, Hasan)

    Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Cukup seseorang berdosa dengan membiarkan (tidak memberi nafkah) orang yang wajib diberi makan.” (HR. An-Nasa’i)

    Kedelapan, Zakat Mewujudkan Harmoni Kehidupan

    Salah satu unsur yang penting dalam mewujudkan harmoni kehidupan adalah adanya pemerataan ekonomi (harta). Islam tidak membolehkan harta hanya beredar pada kelompok orang kaya saja. Allah berfirman:

    “…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...” (Qs. Al-Hasyr [59]: 7)

    Untuk mewujudkan pemerataan harta tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara pasti menentukan asnaf zakat sebagai berikut: (kelompok bagian)

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah [9]: 60)

    Kesembilan, Menghindarkan Bencana dan Kerusakan

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda -artinya-: “Tiada suatu hari pun yang para hamba Allah memasuki waktu paginya, kecuali dua malaikat turun. Salah satu di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang infaq.” Dan salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah kerusakan bagi yang tidak berinfaq.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

    “Tidaklah mereka menolak mengeluarkan zakat harta mereka kecuali akan ditahan hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak niscaya mereka tidak akan mendapat hujan sama sekali…” (HR. Ibnu Majah)

    Kesepuluh, Zakat Akan Mendatangkan Rahmat Allah

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.” (Qs. Al-A’raf [7]: 156)

    Kesebelas, Zakat dan Kesejahteraan Umat di Masa Khilafah

    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berzakatlah kalian, niscaya akan datang suatu masa kepadamu di mana seseorang berkeliling menawarkan zakatnya tetapi dia tidak menemukan orang yang bersedia menerimanya.” (HR. Bukhari)

    Setiap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti benar dan umat Islam pernah mengalami zaman yang diisyaratkan beliau tersebut antara lain pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.

    Program pengentasan kemiskinan melalui praktek zakat pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab telah membawa hasil yang gemilang. Di wilayah Yaman -negeri termiskin saat ini- kesejahtera-an penduduknya benar-benar terjamin dan semuanya bisa menikmati hidup makmur secara merata.

    Hasil penghimpunan zakat yang dilakukan oleh Waliyul Imaam Muadz bin Jabal tidak terbagikan karena tidak seorangpun penduduk yang miskin. Ketika hasil zakat itu dikirim ke Madinah, ternyata penduduk Madinah pun tidak ada yang bersedia menerimanya karena semua penduduk Madinah sudah hidup berkecukupan. Oleh karena itu, khalifah menolaknya dan meminta agar zakat itu dibagikan di Yaman saja. Muadz bin Jabal berkata, “Kalau sekiranya saya menjumpai orang miskin di sana, tentu saya tidak akan mengirimkan apapun kepadamu.”

    Keberhasilan Muadz bin Jabal mensejahterakan penduduk Yaman tidak semudah membalik tangan tetapi melalui proses panjang sejak dia dikirim oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjadi Amir di Yaman. Ketika dia akan berangkat ke Yaman, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi nasehat, “(Hai Muadz) serulah mereka (penduduk Yaman) agar bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan-Nya. Apabila mereka telah menaatinya, maka serulah mereka untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka telah mentaatinya serulah mereka untuk mengeluarkan zakat atas harta mereka. Caranya kamu pungut dari orang kaya dan bagikanlah kepada orang miskin.” (HR. Bukhari)

    Pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini, dilaksanakan dengan baik oleh Muadz bin Jabal. Dia melaksanakan pesan ini dengan membuat program secara bertahap. Tahap pertama, ditanamkannya akidah yang kuat kepada seluruh lapisan masyarakat. Tahapan kedua, setelah masyarakat memiliki akidah yang kuat ia ajarkan solat lima waktu kepada mereka sebagai kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Tahapan ketiga, dipraktekkannya sistem zakat dengan benar.

    Sistem zakat yang dipraktekkan Muadz bin Jabal di Yaman tidak lepas dari misi utama zakat yaitu mengatasi kemiskinan umat. Semua penduduknya diajak untuk bekerja keras, agar semangat bisa hidup berkecukupan dan mampu melaksanakan zakat. Harta zakat yang dihimpun kemudian dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya. Ketika membagikan zakat, Muadz bin Jabal menyertainya dengan nasehat-nasehat agar orang yang menerima zakat tidak selamanya menjadi penerima, tetapi suatu saat mereka harus dapat menjadi pembayar zakat.

    Inilah langkah-langkah yang dilakukan oleh Muadz bin Jabal mengembangkan ekonomi penduduk Yaman sehingga semuanya hidup berkecukupan dan tidak seorangpun memerlukan bantuan zakat.

    Kondisi ekonomi umat Islam di Yaman di masa kekhilafahan Umar bin Khattab ini, dalam skala lebih luas juga dirasakan oleh umat Islam di masa Dinasti Bani Umayah di bawah kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz.

    Umar bin Abdul Aziz memerintah dalam waktu relatif singkat yaitu antara tahun 99 H – 101 H. Dalam waktu yang sangat singkat ini beliau berhasil menata perekonomian umat sehingga mencapai kemakmuran yang luar biasa, seperti Penduduk di Afrika Utara, Penduduk Irak juga Penduduk Bashrah

    Yusuf Al-Qaradhawi menuturkan, “Di Bashrah semua penduduknya mengalami kemakmuran yang melimpah, tidak ada lagi seorangpun yang bersedia menerima pembagian zakat. Bahkan amir di Bashrah sampai mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz: “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan angkuh dan sombong.” Dalam surat balasannya, Umar berkata, “Ketika memasukkan penduduk surga ke surga dan penduduk neraka ke neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala merasa senang kepada penduduk surga karena mereka berkata,

    “…Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (Qs. Az-Zumar [39]: 74). “Maka suruhlah orang yang menemuimu agar memuji Allah.”

    Kesejahteraan umat ini adalah hasil dari kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz yang menerapkan seluruh ajaran Islam secara kaffah. Baitul maal di manfaatkan dengan cerdas, Lahan perekonomian umat dibina dan dikembang-kan sehingga mampu menjangkau semua lini dan dirasakan oleh semua umat.

    Wallahu a’lam (Imaam Yaksyallah Mansur)

    Bagian pertama bisa di baca di sini

  • Kamis, 15 September 2016

  • Fungsi Zakat dalam Menyejahterakan Umat (bagian 1)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7)

    Surat Fushilat adalah rangkaian kedua dari tujuh surat yang dinamai Surat Hawamim yaitu surat-surat yang dimulai dengan Fawatihus Suwar Haa-Miim: 1. Al-Mu’min (Ghafir), 2. Fushilat, 3. Asy-Syura, 4. Az-Zukhruf, 5. Ad-Dukhan, 6. Al-Jatsiyah, 7. Al-Ahqaf.

    Al-Qurthuby meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hawamin adalah perhiasan Al-Qur’an”

    Abdullah bin Abbas berkata: “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki inti dan sesungguhnya inti Al-Qur’an adalah “alu hamim”.”

    Pada dua ayat di atas mengancam orang-orang yang tidak membayar zakat dengan kata wail yang artinya “kebinasaan” dan “kesengsaraan” yang menimpa akibat pelanggaran dan kedurhakaan. Ada juga ulama yang mengartikannya sebagai lembah di dasar Neraka Jahannam. Ada juga yang memahaminya dalam arti ancaman kecelakaan tanpa menetapkan waktu dan tempatnya. Ini berarti bahwa kecelakaan itu dapat menimpa pendurhaka di dunia atau di akhirat.

    Dengan demikian, dua ayat di atas merupakan ancaman bagi orang yang tidak membayar zakat bahwa mereka akan mendapat kesengsaraan di dunia dan di akhirat dan mereka dikategorikan sebagai orang musyrik. Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi korelasi antara orang yang tidak mau membayar zakat dan orang musyrik karena mereka sama, tidak memercayai adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Ketika menafsirkan ayat ini beliau mengambil kesimpulan:

    “Kehancuran dan kerusakan bagi orang yang menyekutukan Tuhannya dan tidak membersihkan jiwanya dari noda-noda kehinaan yang penyebab utamanya adalah kebakhilan terhadap harta dan membiarkan fakir miskin lapar serta mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan.”

    Para ulama berbeda pendapat tentang makna zakat pada ayat ini. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud zakat pada ayat ini adalah zakat harta. As-Suddy mengatakan, yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala -yang artinya-: “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qs. Fushilat [41]: 6-7), yaitu orang yang tidak menunaikan zakat hartanya.

    Pendapat ini juga diikuti oleh Qotadah dan Ibnu Jarir. Sebagian ulama berpendapat, yang dimaksud zakat pada ayat ini adalah kesucian jiwa dari akhlak yang tercela dan yang terpenting adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan karena zakat harta baru disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah sedang kedua ayat di atas adalah Makiyyah (ayat yang turun sebelum hijrah).

    Pengertian zakat seperti ini semakna dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

    “Maka katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan).” (Qs. An-Nazi’at [79]: 18)

    Demikianlah menurut pendapat Ikrimah, Ali bin Abu Thalhah dalam riwayat yang berasal dari Abdullah bin Abbas.

    Ada juga pendapat yang mengompromikan dua pendapat di atas, benar bahwa ayat di atas adalah Makiyyah tetapi tidak mustahil bila hukum asal zakat telah disyariatkan di Makkah sedang mengenai nisab dan takarannya baru ditetapkan di Madinah.

    HIKMAH ZAKAT
    Terlepas dari perbedaan pandangan para ulama tentang pengertian zakat pada ayat ini, yang jelas zakat memiliki hikmah yang penting dalam syariat Islam, antara lain sebagai berikut.

    Pertama, Berzakat Merupakan Wujud dari Keimanan kepada Allah akan Kebenaran Ajaran-Nya

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Jika mereka bertaubat, mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (Qs. At-Taubah [9]: 11)

    Kedua, Zakat Membersihkan, Menyucikan dan Menenteramkan Jiwa Orang yang Melakukannya

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. At-Taubah [9]: 103)

    Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “berdoa” pada ayat ini adalah mendoakan agar orang yang berzakat mendapat kebaikan dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Ketiga, Zakat akan Menambah dan Mengembangkan Harta

    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang bersedekah dengan suatu sedekah dari hasil usaha yang halal dan baik, sedang Allah tidak menerima kecuali yang baik. Melainkan sedekah itu disambut oleh Allah Yang Maha Pengasih dengan Tangan Kanan-Nya walaupun hanya sebiji kurma maka ia akan tumbuh berkembang di Telapak Tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga akan lebih besar dari sebuah gunung sebagaimana seseorang kalian menernakkan anak kudanya atau anak untanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Keempat, Zakat Mendorong Umat Islam Bekerja Keras

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...” (Qs. At-Taubah [9]: 105)

    Setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyari’atkan zakat (Qs. At-Taubah [9]: 103), pada ayat ini Allah memerintahkan umat Islam untuk bekerja. Ayat ini mengisyaratkan agar umat Islam bekerja keras sehingga dapat mengeluarkan hasil sehingga mereka dapat menunaikan zakat.

    Wallahu a’lam bishshowwab Nasehat Imamul Muslimin Ust. Yaksyallah Mansur.

  • Kamis, 21 Juli 2016

  • Dengan Semangat Ied, Atasi Problema Umat

    Ramadhan dan Idul Fitri telah berlalu, namun amalan Ramadhan seperti shaumnya, sholat tarawih dan tahajutnya, baca al-qur’anya, zakat, infaq dan shodaqohnya hendaknya semakin di tingkatkan untuk bekal di sebelas bulan kedepan, sebagaimana makna dari bulan Syawwal, bulan peningkatan, hendaknya semakin hari semakin membaik amalan kita.

    Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitrah berarti kesucian.

    Fitrah adalah gabungan dari tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti, “kembali ke kesuciannya”, akan selalu berbuat benar, baik dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi baik apa yang terjadi pada dirinya dan berhusnudzan kepada Allah bahwa apa yang ditetapkan untuk dirinya adalah yang terbaik bagi dirinya, karena dia yakin akan besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:

    Kesulitan Menuju Kemenangan
    Hari ini sebagian kaum muslimin hidup dalam derita dan krisis. Di samping krisis dalam negeri berupa makin merosotnya akhlaq, belum stabilnya kondisi ekonomi, dan bencana alam yang terus mendera bumi tercinta ini, dunia Islam kini tengah menderita oleh berbagai luka, seperti yang terjadi baru-baru ini di Turki, Prancis, juga Syria, Iraq, Afghanistan, Burma, Palestina dan sebagainya.

    Menghadapi kondisi kaum muslimin seperti ini bagi orang yang berjiwa fitri tidak akan mengeluh apalagi putus asa. Mereka akan bersikap seperti para sahabat di Madinah ketika menghadapi pengepungan dahsyat seluruh Sekutu kafir Jazirah Arab saat itu dalam perang Ahzab (Khandaq). Sikap mereka digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

    “Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 22)

    Pada ayat ini digambarkan bahwa ketika para sahabat melihat beribu-ribu tentara kafir dari seluruh penjuru jazirah Arab datang ke Madinah, hati mereka berkata, “Inilah tanda bahwa kemenangan sudah dekat dan tidak akan sampai kemenangan itu kalau hal seperti ini belum kita alami.” Lantaran itu, mereka tidak ragu-ragu dan berkata, “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Artinya mereka akan menang setelah mengalami kesukaran. Oleh karena itu, kondisi yang sangat sulit itu justru menambah teguh keimanan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Dan kondisi yang sangat sulit itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan kabar gembira akan kemenangan umat Islam di berbagai tempat melalui peristiwa sebagai berikut.

    Sahabat al-Barra bin Azib Radiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggali parit dan kami menemukan batu besar di salah satu tempat di dalam parit yang tidak bisa dihancurkan. Kami mengadu kepada beliau lalu beliau mendatanginya dan melepaskan bajunya lalu turun menuju ke batu tersebut dan mengambil kapak.

    Dengan mengucapkan Bismillah beliau mengapaknya dan pecahlah sepertiga batu itu lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberikan kunci-kunci negeri Syam, dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana merah dari tempatku ini.” Lalu beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi dan pecahlah sepertiganya lalu beliau bersabda, “Allahu akbar, aku diberikan kunci negeri Persia dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana putih dari tempatku ini.” Kemudian beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi hingga hancur berkeping-keping lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Yaman dan demi Allah aku melihat pintu-pintu kota Shana dari tempatku ini.” (HR. Ahmad).

    Hadits ini mendorong kita untuk optimis sambil berusaha keras bahwa kemenangan umat Islam pasti datang dan akan lenyap segala krisis dan penderitaan. Memang berbagai krisis dan penderitaan saat ini sedang melilit sebagian besar umat Islam bahkan cenderung meningkat. Namun di balik itu semua, kabar gembira dan tanda-tanda akan kemenangan semakin dekat. Sebagaimana kondisi saat perang Ahzab (Khandaq) saat itu. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena, antara lain pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika, makin tingginya kesadaran beragama di kalangan generasi muda, makin terbuktinya kebenaran-kebenaran al-Qur’an, bahkan dari berita terakhir yang kita dengar dari Palestina, banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Inilah bukti kebenaran firman Allah:

    “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.”(Q.S. al-Shaff: 9)

    Kemenangan dan Perintah Berjama’ah
    Hanya perlu diingat, bahwa kemenangan tidak pernah diraih lewat mimpi tetapi perlu usaha keras meskipun dengan sarana seadanya sebagaimana yang telah dibuktikan para sahabat dan salafus soleh sesudahnya.

    Usaha keras untuk meraih kemenangan itu antara lain dengan menjaga fitrah (kesucian) jiwa kita. Untuk menjaga agar kita tetap dalam fitrah, Allah telah memberikan tuntunan sebagai berikut:

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (31). dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32). yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Ruum: 30-32)

    Menurut ayat ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk menjaga fitrah, yaitu:

    1. Kembali kepada Allah secara mutlak,
    2. Bertaqwa,
    3. Menegakkan shalat, dan
    4.Meninggalkan perpecahan seperti perilaku orang-orang musyrik, yang masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang pada golongonnya dan merasa golongannya yang paling benar sementara yang lain salah belaka.

    Untuk dapat meninggalkan perpecahan, Allah memerintahkan kaum muslimin hidup berjama’ah, sebagaimana firman-Nya: “Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

    Al-Jama’ah menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah: “Orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku hari ini.” (HR. Al-Hakim).

    Jadi al-Jama’ah bukanlah organisasi atau partai atau negara dalam negara. Al-Jama’ah adalah syariat yang menata kehidupan masyarakat Islam sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan para sahabatnya, dimana mereka hidup bersama-sama di bawah seorang pemimpin (Imam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thabari bahwa al-Jama’ah adalah:

    “Orang-orang yang berkumpul bersama-sama untuk mentaati orang yang diangkat sebagai pimpinannya.”

    Dalam kehidupan berjama’ah, manusia akan hidup damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang walau berbeda ras, suku, bahkan agama, karena dengan terwujudnya kehidupan berjama’ah akan turun rahmat Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

    “Berjama’ah itu rahmat dan berfirqah-firqah itu azab.” (H.R. Ahmad)

    Kehidupan semacam ini telah diwujudkan oleh para sahabat di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka hidup rukun di bawah naungan Islam, sebagaimana digambarkan Allah:

    “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

    Sementara itu mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Yahudi sebelum sebelum orang-orang Yahudi melanggar berbagai janji damai yang dibuat bersama bahkan berkali-kali mengadakan makar untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengakibatkan pengusiran mereka dari Madinah.

    Kehidupan demikian ini juga telah dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau, sehingga orang-orang Nasrani lebih senang hidup di bawah Khilafah Islam daripada hidup di bawah raja Nasrani yang berbeda sekte karena mereka akan dipaksa mengikuti sekte sang raja.

    Bukti kehidupan damai orang non muslim di bawah khilafah Islam ini dapat kita jumpai sampai sekarang dimana Negara yang mayoritas muslim masih terdapat komunitas orang non muslim dan tempat-tempat ibadah mereka tetap terpelihara.

    Inilah bukti bahwa al-Jama’ah telah mampu mewujudkan rahmatnya Islam bagi umat Islam sendiri dan orang-orang di luar Islam bahkan bagi alam sekitar sebagai realisasi dari firman Allah: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiyaa’[21]: 107)

    Dalam rangka menegakkan kembali syariat al-Jama’ah ini, sebagian umat Islam telah membaiat Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki. Setelah Wali Al-Fattaah wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan keimamahan hingga saat ini.

    Untuk mewujudkan kembali kehidupan berjamaah dan menegakkan kepemimpinan khilafah tidaklah mudah, tetapi kita harus berusaha dan yakin bahwa hal tersebut pasti terwujud, mengingat janji Allah dan Allah tidak mungkin memperselisih janji-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, ... (Q.S. An-Nuur [24]: 55)

    Semoga seluruh umat Islam diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah untuk mewujudkan sehingga kejayaan umat Islam dalam naungan al-Jama’ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam dapat segera merata di seluruh persada bumi. Aamiin.

    Wallahu a’lam bish Shawwab.
    Khutbah Imamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur

  • Kamis, 10 Desember 2015

  • Memahami Makna Jihad Menurut Al-Qur'an dan Sunnah


    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: 
    فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
    Artinya : “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan [25] : 52)

    Kata jihad berasal dari kata “jahdun” yang berarti usaha, atau “juhdun” yang berarti kekuatan.

    Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara bahasa jihad berarti mencurahkan segenap kekuatan dengan rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi.

    Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakekatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhai Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.

    Kamil Salamah menyimpulkan bahwa jihad lebih luas cakupannya dari pada aktivitas perang. Ia meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu dan menghadapi setan.

    Kata jihad dalam bentuk fiil maupun isim disebut 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagian berhubungan dengan perang.

    Ayat yang sedang kita renungkan tersebut adalah sebagian ayat jihad yang tidak berhubungan dengan perang.

    Ibnu Qayim ketika menjelaskan Q.S. Al-Furqan [25] ayat 52, menyatakan, “Inilah surah Makiyah dan jihad di dalamnya adalah jihad tabligh (menyampaikan keterangan) dan jihad hujjah (menyampaikan bukti kebenaran Islam).”

    Jelaslah bahwa arti jihad di sini bukan berarti perang, karena perang baru diizinkan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hijrah ke Madinah.

    Pada ayat ini Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar tidak tunduk kepada orang kafir dan terus berjihad dengan bersenjatakan Al-Qur’an dengan jihad yang besar, maksudnya jihad yang tidak mengenal lelah.

    Berjihad dengan Al-Qur’an berarti menegakkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan, dengan senjata yang sangat kuat. Edward Gibbon (1737-1794) seorang orientalis Inggris berkata, “Al-Qur’an adalah sebuah kitab agama, kitab kemajuan keduniaan, persaudaraan dan perundangan. Al-Qur’an mengandung isi yang lengkap meliputi urusan ibadah, akidah, akhlak hingga pekerjaan sehari-hari dan dalam urusan rohani maupun jasmani.”

    Jihad yang bukan bermakna perang juga terdapat di ayat lain dalam Al-Qur’an, di antaranya: 
    وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
    Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29] ayat 69)

    Al-Maraghi ketika menjelaskan ayat ini menyatakan, “Jihad pada ayat ini bukan berarti memerangi orang kafir saja, tetapi jihad berarti menolong agama, menolak ahli bathil, melawan orang dzalim dan yang besar adalah amar makruf nahi mungkar dan yang paling besar adalah memaksa diri sendiri untuk mentaati Allah.”

    Pada ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: 
    وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ الله لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
    Artinya : “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.” (QS. Al-Ankabuut [29] ayat 6)

    Kata jihad pada ayat ini mengandung pengertian kerja, mengeluarkan seluruh kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

    Oleh karena itu, salah besar sebagian kaum orientalis pembenci Islam yang mengatakan bahwa Islam itu disiarkan dengan pedang, sebagaimana yang dikatakan Mac Donald D.B. (1863-1942) bahwa penyebaran Islam dengan pedang adalah kewajiban kolektif bagi semua Muslimin.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengajarkan bahwa “jihad” itu tidak hanya berperang melawan orang kafir atau musyrik. Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dengan rijal shahih dari Kaab bin Ujrah berkata: Seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Para sahabat melihat kekuatan dan ketangkasan orang itu, lalu mereka berkata, “Alangkah baiknya kalau orang ini berperang di jalan Allah.”

    Maka beliau bersabda, “Jika ia bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil maka dia di jalan Allah, dan jika dia bekerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usianya maka dia di jalan Allah, dan jika dia bekerja untuk dirinya agar terpelihara kehormatannya maka dia di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja karena pamer dan bermegah diri maka dia di jalan sesat.”

    Jadi jihad tidak selamanya tepat jika diartikan sebatas perang walaupun jihad dapat diartikan perang. Sebagaimana firman Allah:
    انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ لله ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
    Artinya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah [9] ayat 41)

    Kata jihad pada ayat ini artinya adalah perang. Hanya, jihad yang berarti perang itu bukan untuk memaksa orang masuk Islam dan bukan pula untuk melebarkan daerah kekuasaan Islam, akan tetapi semata-mata mempertahankan diri dan melindungi umat Islam dari serangan musuh. Sebagaimana firman Allah:
    أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ الله عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
    39. “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, 
    الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا الله ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ الله كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ الله مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ الله لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
    40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. 
    الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَالله عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
    41. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj [22] ayat 39-41).

    Dalam rangkaian ayat ini –Wallahu A’lam– Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang alasan kaum Muslimin diizinkan berperang.

    Pertama: Lantaran mereka teraniaya, diserang lebih dahulu dan diusir dari tempat tinggalnya, meninggalkan harta bendanya semata-mata karena agama dan keyakinannya.

    Kedua: Menjaga semua tempat ibadah yang di dalamnya disebut nama Allah, seperti biara, gereja orang Kristen, rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid. Dengan ini jelas sekali bahwa dalam Islam kebebasan beragama yang merupakan hak pribadi dijamin dan dilindungi. Di samping itu umat Islam berkewajiban menjaga tempat-tempat ibadah agama lain dari segala ancaman dan gangguan.

    Ketiga: Mewujudkan keamanan, ketentraman, ketertiban dan kemantapan beragama sehingga orang yang beribadah tidak terganggu. Bagi umat Islam, mereka dapat menunaikan zakat yang dapat memperbaiki masalah sosial dan ekonomi.

    Kemudian mereka dapat memerintahkan kebaikan yang berguna bagi seluruh umat manusia dan melarang kemungkaran yang mencakup segala hal yang dapat mendatangkan kejahatan dan bahaya bagi dirinya dan orang lain.

    TINGKATAN JIHAD
    Dalam syariat Islam, jihad itu sendiri ada empat tingkatan yang harus dilakukan secara berurutan. Tingkatan kedua tidak boleh dilakukan sebelum tingkatan pertama dilakukan dan seterusnya. Adapun keempat tingkatan jihad tersebut adalah:

    I. Jihad melawan hawa nafsu
    Jihad yang pertama ini wajib dilakukan oleh setiap Muslim, sebagaimana Firman Allah: 
    وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ الله لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
    Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29] ayat 69)

    Ibnu Athiyyah menjelaskan bahwa ayat ini turun di Makkah. Jadi ayat ini diturunkan sebelum turunya perintah melawan orang kafir yang memerangi umat Islam. Oleh sebab itu, ayat ini mengandung pengecualian bahwa untuk berjihad dalam bentuk berperang membela agama Allah dan menuntut kesuciannya, orang harus lebih dahulu berperang terhadap dirinya sendiri, yaitu melawan hawa nafsunya untuk berbakti kepada Allah.

    Jihad (berperang) terhadap diri sendiri itu terdiri dari empat (4) tingkatan. Pertama, rajin mempelajari agama yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua, berusaha sekuat tenaga menjalankan kebenaran yang sudah dipelajarinya. Ketiga, mendakwahkan kebenaran kepada orang yang belum mengetahuinya. Dan keempat, dalam mendakwahkan kebenaran itu harus mampu menahan berbagai penderitaan dan harus berani menghadapi tantangan yang dilakukan oleh orang yang tidak mau menerima kebenaran itu.

    II. Jihad melawan setan
    Allah berfirman: 
    إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
    Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir [35] ayat 6)

    Secara bahasa, setan dalam bahasa Ibrani “ha-satan”, berarti “sang penentang”, sedangkan dalam bahasa Arab “syaithan” berarti “sesat atau jauh”.

    Semua makhluk Allah yang tidak shalih, yang menggoda dan mengajak kepada kemaksiatan, dinamai setan, baik dari jenis jin maupun manusia.

    Pada ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa setan adalah musuh umat Islam dan Allah memerintahkan agar umat Islam memusuhinya, maka wajiblah umat Islam memeranginya.

    Jihad melawan setan itu ada dua tingkatan: pertama, memerangi segala tipu muslihat yang menimbulkan keragu-raguan dalam kepercayaan (iman). Kedua, memerangi segala godaan yang mendorong manusia melanggar ketentuan Allah.

    III. Jihad melawan kezhaliman, kejahatan dan bid’ah
    Jihad tingkatan ketiga ini lebih ditekankan kepada intern umat Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan:
    أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
    Artinya : “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).\

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim disebutkan bahwa apabila seorang Muslim melihat seseorang mengatakan dan mengerjakan yang tidak diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka dia wajib berjihad dengan tangannya, jika tidak mampu dia wajib berjihad dengan lisannya, jika tidak mampu dia wajib berjihad dengan hatinya. Orang yang berjihad dengan hati ini adalah termasuk orang yang beriman. Jika dengan hatinya dia tidak mampu, maka sama saja dia tidak memiliki iman sama sekali.

    IV. Jihad terhadap orang kafir
    Jihad terhadap orang kafir ini wajib dikerjakan setelah umat Islam mengerjakan ketiga jihad di atas dengan sempurna.

    Jihad terhadap orang kafir tidak mesti dilakukan dengan memerangi mereka secara fisik, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

    “Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” (Shahih: HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7), dan al-Hakim (II/81), dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu)

    Memerangi orang kafir tidak diperbolehkan sebelum dilakukan dakwah (mengajak) mereka untuk mengikuti ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah engkau perangi suatu kaum sampai engkau mendakwahkan mereka (untuk masuk ke dalam Islam).” (HR. Ahmad. Lihat Silsilah al-Ahaadiits as-Shahiihah no. 2641).

    Disebutkan juga dalam sebuah hadits: “Tidaklah sekali-kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka sehingga beliau berdakwah kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

    Oleh karena itu, sangat tepat apa yang dikatakan oleh Syekh Thanthawy Al-Jauhari, “Orang-orang yang kurang mengerti menganggap bahwa jihad itu tidak lain kecuali memerangi orang kafir. Sekali-kali tidak! Para ulama yang benar-benar memahami agama telah menetapkan, jihad itu tidak terbatas hanya memerangi musuh, tetapi mengandung arti dan tujuan yang sangat luas. Memajukan pertukangan, kerajian, pertanian, membangun negeri, membina akhlak dan meninggikan martabat umat, itu semuanya termasuk jihad yang tidak kurang pentingnya dan mamfaatnya dibanding orang yang mengangkat senjata melawan musuh.”

    Wallahu a’lam bishawab.

    Nasihat Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur























































  • Kamis, 03 Desember 2015

  • Meningkatkan Kualitas Amal Shalih

    Allah Subahanhu Wa Ta’ala berfirman :
    تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
    Artinya, “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 1-2)

    Dua ayat dari surat Al-Mulk di atas adalah peringatan yang sangat mendalam dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang kekuasaan dan kematian.

    Pada ayat pertama, Allah Ta’ala mengingatkan kekuasaan yang sebenarnya hanyalah ada di tangan Allah. Kekuasaan di muka bumi ini, bagaimanapun manusia mengejarnya atau bagaimanapun dia mempertahankanya, bukanlah di yang benar-benar berkuasa. Bagaimanapun raja/presiden memerintah dengan segenap kekuatan bahkan kadang kala dengan kesewenang-wenangan, namun kekuasaan itu hanyalah pinjaman Allah semata-mata. Tidak kekal dan tidak mungkin dipegang seterusnya. Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun dan mereka lukiskan kekuasaanya dalam uang yang beredar di negaranya dengan selogan "JE MAINTENDRAI" yang berarti ‘tidak akan aku lepaskan lagi,’ setelah Jepang datang, kekuasaan yang diagung-agungkan selama ratusan tahun tersebut tidak sampai tujuh hari mereka menyerahkan kekuasaanya kepada Jepang dengan tanpa syarat.

    Inilah kekuasaan manusia yang sebenarnya sangat rapuh karena naiknya seseorang menjadi penguasa hanyalah karena pengakuan atau pengangkatan orang lain. Apabila orang tidak mau mengangkat atau tidak mengakui lagi kekuasaanya maka hilanglah kekuasaan itu.

    Dan tidak menjadi satu ambisi bagi umat Islam untuk merebut kekuasaan. Karena kita beramal bukan untuk mencari kekuasaan. Kekuasaan akan diberikan oleh Allah kepada yang mendapat amanah untuk memikulnya. Dan bumi Allah ini telah diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang Sholih. (QS. Al Anbiya [21]: 105)

    Berbeda dengan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia berkuasa bukan karena diangkat. Dia berkuasa karena memang berhak berkuasa. Oleh karena itu, orang yang menentang kekuasaan Allah, yang akan jatuh bukan Allah, melainkan yang menentang kekuasan Allah itu.

    Sehingga diyakini bahwa kekuasaan itu mutlak milik Allah, dan akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, kepada muslimin, jika mereka melaksanakan syariat Allah dengan sungguh-sungguh. (QS. Ali Imran [3]: 26)

    Pada ayat yang kedua, Allah mengingatkan tentang kematian dan kehidupan, Allah mendampingkan kematian dan kehidupan pada ayat yang sama tetapi Dia menyebutkan kematian lebih dahulu dari kehidupan. Ini adalah peringatan kepada manusia bahwa hidup tidak berhenti hanya di dunia saja tetapi akan berlanjut setelah kematian.

    Tidak seperti orang-orang di luar Islam memandang, bahwa kehidupan hanya sebatas di dunia saja, adapun setelah kematian mereka mengingkari. Inilah pemahaman yang lahir dari isme-isme yang di tebarkan oleh Zionis Yahudi, dengan sekulerisme, ateisme, komunisme dan isme-isme lainnya, Yahudi memotong tali hubungan manusia dengan Allah, sehingga mereka melupakan kehidupan akhirat. Padahal pada hakekatnya dinullah itulah yang hubungan manusia dengan Allah. Sehingga mereka ingat kampung akhirat, banyak beramal tidak melupakanya.

    Pada kenyataanya banyak manusia yang lupa akan mati karena terbuai dengan kenikmatan hidup. Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaih Wasallam bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya Allah menghinakan anak Adam dengan mati, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian negeri untuk mati, dan Dia jadikan negeri akhirat untuk meneriman ganjaran dan negeri yang kekal.” (HR. Ibn Abi Hatim)

    Hidup ini akan lebih bermakna manakala kita selalu ingat akan mati. Joel Kover dalam “History and Spirit” menulis, “Hidup yang bermakna adalah kehidupan yang telah menerima orang lain dan mempersiapkan diri untuk mati. Sungguh kesadaran akan adanya kematian, visi tentang bayangan maut, tidak lain daripada menjadikan kehidupan sebagai titik pandang utama.”

    Memperbanyak mengingat mati dapat mencegah dari berbuat maksiat dan dapat meluluhkan hati yang keras. Ad-Daqqaq mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya dia dimuliakan dengan tiga hal; penyegeraan tobat, kepuasan hati, dan ketekunan beribadah. Siapa melupakan kematian, tidak ridho dengan rezki yang cukup, dan kemalasan beribadah".

    Dengan mengingat mati, orang akan selalu berusaha mencari bekal secara maksimal untuk menghadapi kematian. Bekal itu tidak lain adalah amal yang baik atau pada aya ini disebut ahsanu amalan. Hal ini menunjukan bahwa amal akan di nilai oleh Allah Ta’ala apabila amal itu berkualitas biarpun amal itu sedikit bukan amal yang banyak tetapi tidak berkualitas.

    Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kualitas amal kita untuk mengisi kehidupan dalam rangka menyongsong kematian. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

    “Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara amal kebaikan orang beriman yang akan mengalir kepadanyasetelah kematiannya adalah : ilmu yang disebarluaskannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf Al-Qur’an yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibanggunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkannya semasa sehatnya. Semua itu akan mengalir baginya setelah kematinnya. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

    Inilah diantara amal yang perlu diperhatikan untuk bekal kita menghadapi keamatian karena ketujuh amal ini akan terus mengalir dan berkembang walau pelakunya telah meniggal. Akhirnya marilah kita renungkan pesan para ahli himah, “Di waktu anda lahir, anda menangis, padahal semua orang di sekitar anda tertawa bahagia. Berkhidmatlah kepada manusia, sehingga ketika anda meniggal dunia, semua orang di sekitar anda menangis sedih, padahal anda sendiri tertawa bahagia.”

    Wallahu a’lam bishawab.
    Nasihat Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur












































































  • Kamis, 29 Oktober 2015

  • Keistimewaan Al-Qur’an

    Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan, antara lain:

    1. Terpelihara Keasliannya
    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    Firman Allah: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.“ (Q.S. al-Hijr [15]: 9)

    Upaya-upaya untuk memalsukan al-Qur’an telah dilakukan oleh orang-orang kafir sejak dahulu sampai sekarang tetapi usaha-usaha itu selalu gagal total.

    Musailamah al-Kadzab, seorang sastrawan Arab yang mengaku sebagai nabi berusaha untuk menandingi al-Qur’an dengan mengubah beberapa syair. Tetapi syair gubahannya itu hanya membuat orang tertawa. Misalnya untuk menandingi surat al-Ashr, dia mengaku mendapat wahyu:

    “Hai kelinci, hai kelinci, kamu punya dua daun telinga dan dada tempat jalanmu ada lubang galian.”

    Di era modern, pemalsuan al-Qur’an dilakukan oleh kelompok Ahmadiyah dengan menyusun kitab Tadzkirah yang menurut mereka merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Pada tahun 2009, penerbit asal Amerika, Omega 2001 dan One Press membuat al-Qur’an palsu dengan judul hard cover “FURQANUL HAQ” atau “TRUE FURQAN”, dan usaha inipun gagal total.

    2. Sesuai dengan Sains Modern
    Al-Qur’an terbukti sesuai dengan sains modern. Contoh bukti kesesuaian al-Qur’an dengan sains modern antara lain digantinya kulit manusia di neraka. Kulit adalah pusat kepekaan panas. Maka jika kulit telah terbakar api seluruhnya, akan lenyap kepekaannya. Oleh karena itu, Allah menghukum orang kafir dengan mengembalikan kulitnya waktu demi waktu. Allah berfirman:
    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
    Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Nisaa’ [4]: 56)

    Ayat inilah yang mendorong Dr. Tagata Tejasen, Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai, Thailand masuk Islam.

    3. Dihapalkan Banyak Manusia
    وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
    Allah berfirman:“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. al-Qamar [54]: 17)

    Ayat ini diulang empat kali dalam surat tersebut dan terbukti al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang banyak dihapal oleh banyak manusia bahkan mampu dihapal oleh anak-anak yang masih sangat belia. Ibnu Sina hapal al-Qur’an di usia 5 tahun, Imam Thabary, Imam Syafi’i, dan Ibnu Khaldun hapal al-Qur’an usia 7 tahun. Imam al-Suyuthi hapal al-Qur’an sebelum usia 8 tahun. Ibnu Hajar al-Asqalani hapal al-Qur’an usia 9 tahun, Ibnu Qudamah hapal al-Qur’an usia 10 tahun.

    4. Menceritakan Masa Lalu dan Akan Datang dengan Tepat
    Diantaranya adalah kemenangan bangsa Romawi setelah mereka mengalami kekalahan dari bangsa Persia. Allah berfirman:
    غُلِبَتِ الرُّومُ
    فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ
    فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ
    Artinya : “(2) Telah dikalahkan bangsa Rumawi, (3) di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, (4) dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,” (Q.S. al-Ruum [30]: 2 – 4)

    Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat-ayat di atas pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Romawi dan Persia terjadi di Nineveh. Kali ini pasukan Romawi secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia dan memaksa Persia harus membuat perjanjian dengan Romawi untuk mengembalikan wilayah yang mereka rampas dari Romawi.

    5. Petunjuk Manusia Sepanjang Masa
    Firman Allah:
    ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
    Artinya : “….Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. al-Zumar [39]: 23)

    Petunjuk dalam bahasa Arab, hidayah adalah penjelasan atau petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.

    Hidayah adalah nikmat Allah yang paling besar,sebagaimana firman-Nya:
    أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ
    Artinya : “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (Q.S. al-Nur [24]: 40)

    JALAN MENDAPATKAN HIDAYAH
    A. Berdoa
    Jalan yang paling kuat untuk mendapatkan hidayah adalah berdoa, karena Allah tidak akan menolak orang yang berdoa kepada-Nya. Inilah yang diajarkan oleh Allah dalam surat al-Fatihah dan selalu kita ulang-ulang dalam setiap shalat.
    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
    Artinya : “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.” (Q.S. al-Fatihah [1]: 6)

    b. Bertaubat
    Firman Allah:
    وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِّن رَّبِّهِ ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ
    Artinya : “Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu`jizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada Nya.” (Q.S. al-Ra’d [13]: 27)

    Dengan demikian, hidayah adalah buah dari taubat. Tidak mungkin seorang hamba mendapat hidayah sedangkan dia berkubang dalam kemaksiatan.

    c. Iman
    Firman Allah:“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-Taghabun, 64: 11)

    Pada ayat lain: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya...” (Q.S. Yunus, 10: 9)

    Kedua ayat ini menjelaskan iman (kepercayaan) itu akan menyebabkan datangnya hidayah. Oleh karena itu, kita harus percaya dan yakin dengan segala sesuatu yang datang dan Allah akan menerima dengan sepenuh hati dengan apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Sebagaimana firman-Nya: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. al-Nur, 24: 51)

    d. Ilmu
    Yang dimaksud ilmu disini adalah ilmu yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya yaitu ilmu al-Qur’an dan al-Sunnah. (Q.S. al-Ra’d, 13: 19)

    Ada banyak orang yang mendapat hidayah setelah melakukan penelitian di bidang ilmu pengetahuan yang dimiliki, antara lain:

    1) Maurice Bucaille, masuk Islam karena jasad Fir’aun.
    Dokter bedah ini masuk Islam setelah mendengar firman Allah: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Q.S. Yunus,10: 92)

    2) Fedehua O’leary, menemukan rahasia sujud dalam shalat.
    Ahli neurologi asal AS ini mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Dalam penelitian yang cukup lama, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah kecuali ketika seseorang melakukan sujud dalam shalat. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Setelah penelitian itu, ia mencari tahu tentang Islam dan setelah mempelajari dan mendiskusikannya, akhirnya ia masuk Islam.

    3) Profesor William, menemukan tumbuhan bertasbih.
    Ahli biologi molecular ini masuk Islam setelah membaca firman Allah, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. al-Isra’: 44)

    Dalam sebuah penelitian, ternyata tumbuhan dapat mengeluarkan suara ultrasonik (suara halus yang tidak dapat didengar oleh telinga biasa). Yang mengejutkan ketika getaran halus ini ditransfer pada alat perekam, muncul garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Inilah bukti kalau tumbuhan itu bertasbih seperti yang disebut pada ayat di atas. Selang beberapa hari setelah penelitian itu, Prof. William berceramah di Universitas Carnegie Mellon dan mengatakan, tidak ada pilihan buatku selain mengucapkan syahadatain.”
    e. Berpegang Teguh kepada Agama Allah seraya Berjama’ah
    Firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara...” (Q.S. Ali ‘Imran: 103)

    Melalui ayat ini, Allah memberikan pedoman kepada kaum muslimin bagaimana cara berpegang teguh kepada agama-Nya yakni dengan berjama’ah.

    Menurut pengertian syariat, al-Jama’ah adalah umat Islam yang menyepakati seorang pemimpin (imam/amir).

    Tujuan dari jama’ah adalah penyatuan umat Islam di seluruh dunia dalam rangka mencari ridla Allah.

    Dengan berjama’ah, umat Islam akan terhindar dari berpecah belah sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang penuh kasih sayang dan persaudaraan yang akhirnya menyebabkan datangnya hidayah kepada setiap orang yang berada dalam jama’ah tersebut.

    Wallahu a’lam bish shawwab.

  • Kamis, 08 Oktober 2015

  • Mengatasi Pengungsi Timur Tengah

    Pengungsi Suriah / theguardian.com
    Berdasarkan data yang dirilis lembaga PBB untuk pengungsi, UNHCR per 18 Juni 2015 jumlah pengungsi dunia mencapai 59,5 juta jiwa. Suriah menjadi negara dengan jumlah pengungsi terbanyak hingga 7,6 juta jiwa.

    Beberapa bulan terakhir, mereka mengadu nasib ke negara-negara Eropa. Mereka mengarungi Laut Mediterania, mempertaruhkan nyawa demi menggapai masa depan yang lebih baik.

    Menjadi ironi sebab hingga kini belum ada komitmen nyata yang ditunjukkan oleh sebagian besar negara-negara di kawasan Timur Tengah dalam menyikapi keberadaan jutaan pengungsi warga negara tetangganya itu.

    Ketidaksiapan negara-negara Arab ini tentunya memiliki sejarah panjang, sebab tak satu pun dari negara-negara Timur Tengah adalah penandatangan PBB Konvensi Pengungsi 1951, yang menyebutkan kewajiban menampung para pengungsi serta kewajiban negara untuk melindungi mereka.

    Namun untuk menampung pengungsi, tampaknya masih jauh panggang dari api. Dalam hal visa saja misalnya, seperti laporan Amnesti International menunjukkan ada enam negara di kawasan Teluk yang diminta menerima visa pengungsi asal Suriah.

    Negara-negara tersebut adalah Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Oman dan Bahrain. Namun , mereka tidak mengeluarkan visa para pengungsi itu.

    Kembali kepada Al Qur’an
    Tentunya ada hal yang mendesak untuk mengubah kebijakan pemerintah negara-negara Timur Tengah untuk menerima pengungsi Suriah dan negara-negara tetangganya.

    Kami juga menghimbau kepada para pemimpin Timur Tengah untuk kembali kepada Al-Quran dan Assunnah mengedepankan sikap tolong menolong yang merupakan ciri khas umat Muslim sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā: sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah [9]:71)

    Sebagaimana Rasulullah bersabda dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, “Orang Islam saudaranya orang Islam yang lain, tidak boleh ia menganiayanya, tidak boleh membiarkannya (dengan tidak mau menolongnya). Dan barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, Allah akan menolong kebutuhannya. Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan orang muslim, Allah akan meringankan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya pada hari qiyamat, dan barangsiapa menutup aib (cela) orang Islam, Allah akan menutup aib (cela)nya besok pada hari qiyamat”. [HR. Bukhari juz 3/ 98]

    Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa meringankan satu kesusahan orang mukmin dari kesusahan-kesusahan-nya di dunia, maka Allah akan meringankan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari qiyamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang dalam kesulitan, Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. ...”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2074]

    Kepada pemimpin negara-negara Timur Tengah hendaknya mengambil langkah-langkah menuju perdamaian dengan menekankan perlunya konsolidasi Arab dan Islam untuk mengatasi krisis politik dan ekonomi berkepanjangan yang diakibatkan pertentangan antara elit politik.

    Peran Ulama
    Para ulama khususnya di Timur Tengah mempunyai peran penting dengan memberikan fatwa dan pernyataan yang menyejukkan masyarakat. Peran ulama dalam membangun motivasi, semangat masyarakat sangat dibutuhkan di tengah krisis seperti saat ini.

    Sejak dulu, ulama memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai peristiwa sejarah penting, terutama sejarah perubahan masyarakat (social engineering). Bahkan nyaris tidak ada satu pun perubahan masyarakat di dunia ini yang tidak melibatkan peran ulama.

    Mereka jugalah orang pertama yang menyebarkan kesadaran ini di tengah-tengah masyarakat hingga masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa ulama merupakan sumber dan inspirasi perubahan.

    Peran dan fungsi strategis ulama sebagai pewaris para nabi, harus memelihara dan menjaga agama Allah Swt dari kebengkokan dan penyimpangan. Perannya bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut masalah akidah maupun syariah, tetapi juga bersama umat berupaya membangun peradaban, sehingga Islam menjadi mulia.

    Potensi para Aghniya (Orang Kaya)
    Kaum aghniya dan filantropis juga memiliki peran penting dalam membangun ekonomi Timur Tengah. Uang yang disimpan di bank-bank Amerika, atau yang diinvestasikan di klub-klub sepak bola Eropa akan lebih bermanfaat jika sebagiannya digunakan untuk membantu pengungsi, membantu menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudaranya dari Timur Tengah.

    Negara-negara Arab yang sangat kaya dengan sumber daya alam yang melimpah tentunya memiliki tanggung jawab moral melihat gelombang pengungsi ke Eropa itu. Mereka hendaknya terketuk hati melihat penderitaan para pengungsi.

    Majalah The Richest merilis tokoh-tokoh Arab dengan Kekayaan Supernya seperti ; Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum dari Uni Emirat Arab (UEA) dengan nilai kekayaan mencapai USD 4,5 miliar (Rp 54,7 triliun). Ada juga Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dengan kekayaan mencapai USD 4,9 miliar (Rp 59,6 triliun). Ia adalah Menteri Urusan Pemerintahan di Abu Dhabi, dan Sheikh Khalifa Bin Zayed Al Nahya dengan kekayaan mencapai lebih dari USD 150 miliar (Rp 1,8 ribu triliun) dengan Abu Dhabi Investment Authoritynya

    Sementara itu, di Qatar ada nama Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani yang memiliki kekayaan USD 2,4 miliar (Rp 29,2 triliun). Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, pundi-pundi keuangannya mencapai USD 2 miliar (Rp 24,3 triliun). Ia memilih menanamkan modal di beberapa perusahaan Inggris seperti Harrods, Barclays and Sainsbury’s.

    Di Arab Saudi, ada Sheikh Mohammed Hussein Ali Al-Amoudi (orang terkaya ke-63 di dunia) dengan kekayaan mencapai USD 14,3 miliar (Rp 174 triliunan). Ia meraih gelar Sheikh karena kekayaan dan prestasinya di dunia bisnis.

    Kontribusi Indonesia
    Indonesia sebagai negara terbesar jumlah penduduk Muslimnya dapat menawarkan bantuan bagi para pengungsi Timur Tengah sebagaimana pernah menyediakan Pulau Galang (Batam) pada 1979 – 1996 untuk para pengungsi Vietnam.

    Rakyat Indonesia juga terkenal dengan sikap santun dan dermawan. Setiap terjadi musibah bencana alam atau tragedi kemanusiaan, kita selalu memberi bantuan berupa barang pangan, pakaian, medis, sampai tenaga relawan.

    Bagi ormas-ormas Islam, mereka bisa menyumbangkan pemikiran, ide, gagasan dan menggalang dana untuk membantu mengatasi permasalahan pengungsi sebagaimana Vatikan yang menganjurkan para jamaahnya memberikan bantuan makanan dan pakaian kepada para migran di negaranya.

    Waspada Campur tangan Asing
    Para pemimpin Timur Tengah sudah selayaknya sadar akan intervensi pihak-pihak asing terhadap negaranya. Isu demokrasi yang dihembuskan, Arab Spring yang menjadi tren di negara-negara kawasan teluk justru menjadi momok yang menjadikan masyarakatnya menjadi pengungsi.

    Demokrasi sudah jelas tidak cocok bagi masyarakat Timur Tengah. Sistem itu tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan disana. Keselamatan dan keamanan rakyat jelas lebih utama untuk diupayakan dibanding penerapan demokrasi bagi negaranya.

    Adanya ISIS yang mengatasnamakan Islam juga menjadi bahaya tersendiri bagi masyarakat Timur Tengah. Dengan kekejaman dan kebengisan yang mereka lakukan, mereka harus dihapuskan dari bumi Timur Tengah.

    Untuk menghadapinya, tentu harus menggunakan pendekatan akidah dan pemahaman yang benar. Tindakan militer hanya akan memperparah penderitaan rakyat tak berdosa yang ada di sekitarnya.

    Wallahu a’lam bishshowwab

    Nasihat Imamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur, MA

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism